
Bagas terbangun dari tidurnya, ia melihat sekeliling ruangan, tubuhnya terasa lemas efek bangun tidur, ia belum sadar bahwa ia masih berada dirumah Anya. Saat melihat kearah jam, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, ia langsung bergegas merapihkan diri, mengambil tas dan keluar kamar.
Saat melewati ruang keluarga, ia terkejut melihat keluarga Anya sudah lengkap berkumpul. Mereka semua menatapnya dengan ekspresi wajah yang tidak bisa diprediksi, begitu pula dengan Anya. Ia merasa malu dan akhirnya memberanikan diri untuk memperkenalkan dirinya. "Permisi Om dan Tante, Saya Bagas temen satu kelasnya Anya, maaf saya lancang datang kerumah ini tanpa izin dulu sampai ketiduran disini." ungkapnya dengan sopan dan penuh kehati-hati an.
Semua orang yang tadinya menatapnya dengan dingin, tiba-tiba mereka tertawa dan berkata. "Gapapa nak, tadi Anya sudah cerita semuanya kepada kami" jawab Ibunya Anya dengan ramah.
Mendengar perkataan ibunya Anya membuat Bagas merasa lega, dalam pikirannya ia sudah berprasangka yang tidak-tidak, takut disangka yang aneh-aneh sama keluarganya Anya, untungnya mereka semua sangat ramah terhadapnya.
"Sini duduk nak jangan hanya berdiri disana" ajak Ayah Anya yang sangat ramah.
"Makasih ya nak Bagas sudah mau menghabiskan waktu dengan Dejoy anak saya ini, pasti kamu kerepotan yah?" tanya Ibu Anya.
"Engga ko Tante, justru saya senang bisa bermain dengan Dejoy, dia itu anak yang sangat lucu dan imut." ungkap Bagas tulus sambil menatap Dejoy. Dejoy langsung berlari kearah Bagas dan memeluknya, ia menarik tangan Bagas menyuruhnya untuk duduk, Akhirnya ia pun duduk di sebelah Anya.
Bagas merasa nyaman dengan keluarga Anya, ia melihat kehangatan dalam keluarga mereka. Senyuman yang terus ia perlihatkan, membuat Anya ikut bahagia. "Ayo kita makan malam dulu.. nak Bagas juga ikut sekalian" ungkap Ibu Anya.
"Gapapa Tante saya mau ijin pulang saja, sudah malam" ungkap Bagas sungkan.
"Makan malam dulu, sesudah itu baru pulang. Masa ada tamu, pulang dengan perut kosong, udah ikut aja" ajak Ayah Anya dengan menarik tangan Bagas.
Mereka pun menuju meja makan, begitu Bagas sampai disana, ia terkejut melihat begitu banyak makanan di meja makan itu.
"Dasar si mamah suka berlebihan" ungkap Anya sambil duduk di kursi meja makan.
"Ya gapapa sayang, jarang-jarang ada temen sekolah kamu main ke rumah selain Ica sama Jejen." ungkap ibu Anya bahagia.
"Tapi ini kebanyakan mah.. siapa yang mau ngabisin?" Tanya Anya.
"Kan ada Bagas.. sebagian lagi Bagas bawa pulang yah.."ungkap Ibu Anya sambil memberikan piring yang sudah ia isi dengan nasi. Bagas hanya menjawab dengan anggukan dan senyuman.
Malam itu, mereka makan bersama sambil bercanda gurau, Bagas yang dikenal sebagai manusia es cream itu sekarang menjadi leleh akibat kehangatan keluarga Anya. Rasa yang belum pernah Bagas alami bersama keluarganya, ia mulai berfikir kapan terakhir kali ia makan bersama-sama dengan keluarganya.
Setelah makan malam bersama, Bagas mengucapkan banyak terimakasih kepada Ayah dan Ibunya Anya, ia pulang dengan perasaan bahagia. Saat ia sampai dirumahnya, ternyata ayah dan ibunya sudah tidur, ia meletakkan makanan pemberian Ibu Anya dan langsung pergi ke kamar. Setelah membersihkan diri, Bagas langsung tertidur dengan hati yang gembira.
Pagi harinya, Bagas terbangun dan bergegas mandi kemudian membereskan buku-bukunya. Ia keluar kamar dan melihat kedua orang tuanya sudah rapih, Ayah dengan jasnya dan Ibu dengan baju seragam gurunya. "Bagas kamu dapet makanan ini dari siapa?" tanya mamah bagas sambil merapihkan dapur dan mempersiapkan sarapan pagi.
"Dari mamanya temen Bagas" jawabnya dengan dingin.
"Oh.. pantesan kamu pulangnya malem banget, temen siapa?" tanya ibunya Bagas lagi.
"Ada.. temen sekelas.." ucapnya sambil membawa roti dan pergi ke rak sepatu.
"Ga sarapan dulu??" teriak ibu bagas.
"Ga.. Bagas langsung berangkat aja!!" jawab anak itu.
"Be careful my son!!" (Hati-hati anakku) Teriak ayah Bagas.
__ADS_1
"Oke dad !!" teriak Bagas sambil membuka pintu.
--- Di sekolah ---
Anya berjalan menuju kelasnya, ia melihat Bagas yang juga sedang berjalan menuju kelas. Ia melihat Bagas sedang asyik mendengarkan musik dengan tangan yang sibuk memainkan hp. Saat itu, didepan Bagas ada seorang wanita yang berjalan membawa banyak sekali buku, ia tidak sengaja menubruk Bagas, membuat semua bukunya itu berserakan dilantai. Bagas yang seharusnya segera menolong wanita itu, ia hanya menengok sebentar kebawah lalu meninggalkan wanita itu tanpa menolongnya.
Melihat sikap Bagas yang seperti itu membuat Anya berfikir. "Tuh cowok bukannya nolongin malah pergi gitu aja. Dia itu sebenernya gimana sih?? gue bingung sama sikapnya. tiba-tiba dingin, terus tiba-tiba perhatian banget, dan sekarang berubah jadi dingin lagi, labil banget jadi orang." batinnya sambil melangkah menuju wanita itu untuk menolongnya.
"Makasih!!" ucap gadis itu sambil membawa buku terakhir.
"Iyah sama-sama, lain kali hati-hati yah.." ungkap Anya ramah.
"Iyah.. aku duluan yah" seru wanita itu sambil melangkah pergi.
Anya sampai dikelas dan langsung duduk di kursinya, ia melihat Friska menempelkan wajahnya di meja dan ditutupi oleh jaketnya
"Jen.. si Ica kenapa?" Tanya Anya sambil menepuk pundak Azen. Ia tidak menjawab pertanyaan Anya itu, ia malah sibuk dengan game di hpnya. Anya terus menggoyangkan pundak Azen sehingga membuatnya risih, "Apaan sih..!!" ungkap Azen dengan nada meninggi.
"Itu Ica kenapa??" tanya Anya lagi dengan nada meninggi.
"Kagak tau gue, tanya Bagas aja temen sebangkunya" bales bocil itu.
"Gue gatau apa-apa!" jawab Bagas singkat dan dingin, ia langsung mengeluarkan earphone dan menggunakannya lalu memejamkan mata.
Anya gemas dan menarik rambut Azen, "Lo ini.. Bagas itu baru sampe, sama kayak gue.. makanya gue nanya ke elo karena Lo dari tadi disini?" ungkap Anya geregetan.
"Cape-cape nanya ke gue, kan bisa ke orangnya langsung, Lo mah pengen jail aja ke gue" balasnya lagi.
"Hehe.. tau aja Lo.. gue emang pengen gangguin elo" ucap Anya menggoda.
"Ah.. dasar budak gabut lu mah.." seru Azen sambil menghentikan permainannya dan meletakkan hpnya di meja.
"Ica.. Lo kenapa??" teriak Azen sewot.
Ica tidak menjawab pertanyaan sahabatnya itu, ia hanya menghela nafas dengan berat. Kemudian ia bangun dan berbalik kearah Anya dan Azen. "Anya.. Jejen... Gue putus!!" ungkapnya dengan mata yang merah juga penuh air mata.
"Lah.. elo kenapa ca?? berantem lagi sama Tapasya?? atau gimana?" tanya Anya yang khawatir sekaligus meledeknya.
"Gue putus sama pacar gue.." seru si anak budak cinta itu.
"Eum.. tak lain tak bukan!" ungkap Azen bodo amat.
"Kok bisa??" tanya Anya sambil mengusap bahu Friska.
"Katanya gue ini selingkuh, terus dia minta putus. Padahal dia yang selingkuh, bukan gue.." ungkap Friska yang terus-terusan menangis.
"Udah Ica.. gapapa.. gue kira Lo berantem sama Tapasya tapi syukurlah kalo engga." ucap Anya yang niatnya menenangkan Friska malah jatuhnya kayak ngeledek.
__ADS_1
"Ah Lo mah.. gue serius ini.. Lo malah becanda." jawab Friska ngambek.
"Iya iya maaf.. syukurlah kalian putus, gue udah duga diatuh bukan cowok baik-baik. Udah gapapa, masih banyak cowok yang lebih baik daripada dia" Ungkap Anya.
"Yang kayak diamah pasaran ca" sambung Azen.
"Udah yah.. Lo tenang aja.. Sekarang Lo harus bisa move on dari dia oke?" ajak Anya dengan jarinya yang membentuk huruf O.
"Gimana caranya??" Tanya Friska sambil manyun.
"Kita cari gebetan kakak kelas aja, mau??" sambung Resa yang tiba-tiba muncul.
"Kakak kelas??" tanya Friska.
"Iyah.. banyak cogan tau.. apalagi tim basket, mau??" ungkap anak modus itu.
"Eum.. boleh deh.." jawab Friska dengan tiba-tiba tersenyum membayangkan cowok-cowok keren anak tim basket itu.
"Kalo Lo gimana nya??" tanya Resa menengok kearah Anya.
mendengar Resa menawarkan hal itu kepada Anya, Bagas yang tadinya pura-pura menutup mata jadi terbuka sangat lebar dan melirik kearah Anya sedikit.
"Eum.. gak ah kalian aja" jawab Anya males.
"Ah ga seru Lo mah.. ayolah ikut.." bujuk Resa.
"Iyah Anya.. Lo ikut juga yah??" bujuk Friska dengan memelas.
"Tapi.." ungkapnya terhenti karena melihat wajah Friska yang memelas.
"Yaudah iya.." jawab Anya terpaksa.
"Yey.." Seru Resa dan Friska bersemangat sambil memandang satu sama lain.
Azen dari tadi hanya melihat tingkah laku mereka bertiga kemudian menggeleng kan kepada seraya berkata. "Dasar cewek..!!"
Mendengar jawaban Anya itu, membuat Bagas memalingkan wajahnya dan langsung membawa bukunya dari dalam tas kemudian ia banting kan ke mejanya dengan keras, membuat Friska, Resa dan juga Anya terkejut.
"Astaghfirullah.. ni anak kenapa!" seru Friska sambil mengelus dadanya.
"Mungkin dia lagi PMS" bisik Resa kepada Friska.
Anya hanya tersenyum mendengar kata-kata Resa itu.
"Nanti habis istirahat kita langsung pergi ke lapangan olahraga basket oke??" ajak Resa.
"Oke.." jawab Friska bersemangat, disisi lain Anya hanya menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
~ Bersambung ~~~