DONDURMA

DONDURMA
Dendam


__ADS_3

---Lorong Sekolah---


Angin berhembus lembut, suara langkah kaki terdengar dari arah lorong sekolah, langkah kaki yang terdengar berirama. Seorang wanita berambut panjang mengenakan kemeja yang dilapisi blazer warna hitam mulai mendekati kelas Anya.


---Dikelas---


Azen berbalik kehadapan Anya dengan kedua tangan yang menyatu. "Zafia Tanya Utari tenang dulu tenang!!"


"Gue cuma becanda, janganlah kau marah duhai Jenie Black pink." dengan mata yang berbinar.


Anya nengok ke arah Friska dengan isyarat yang ia lontarkan menandakan terjalinnya kesepakatan diantara mereka berdua.


"Lo ini.. pantes banget buat dipukulin !!" ungkap Anya memukul Azen dengan tempat pensilnya sedangkan Friska dengan bukunya.


Tiba-tiba pintu kelas terbuka dengan suara yang cukup keras membuat seluruh murid yang ada dikelas kaget dan mulai merapikan tempat duduk. "Hallo semuanya selamat pagi!!" ucap Bu guru dengan nada tegasnya.


"Selamat pagi bu.." jawaban serentak satu kelas.


"Perkenalkan nama saya Hamsa Nabila selaku wali kelas kalian dalam 1 tahun kedepan. Selamat datang untuk kalian semua di hari pertama kalian masuk sebagai seorang murid" ucap Bu Hamsa yang kemudian disambut oleh murid-murid dengan tepuk tangan.


"Seperti biasa hal pertama yang akan kita lakukan pada hari ini yaitu pemilihan Ketua Murid, Wakil Ketua Murid, sekretaris, bendahara, dan seksi-seksi lainnya" dengan penuh senyuman manis, semanis janji-janji mantan.


Pemilihan pun dilakukan, setelah menentukan Ketua Murid, wakil Ketua Murid, dan yang lainnya. Tiba saatnya menentukan seksi-seksi, seperti seksi kebersihan, seksi keamanan, dan masih banyak lagi.


"Oke sekarang siapa yang mau menjadi seksi keamanan?" Ucap Bu Hamsa.


Tiba-tiba Bagas masuk ke dalam kelas, membuat semua mata tertuju padanya, yang kemudian disambut dengan suara salah satu murid, "Bu.. Bagas aja bu Bagas aja.." teriaknya.


Dengan cepat Friska menepis suara tersebut. "No.. no.. no.. Bagas itu lebih pantas jadi seksi boy aja bu." Ucapnya dengan wajah terpesona, membuat seluruh murid menyurakinya.


"Tanpa dijadikan pun dia udah seksi boy kali." sahut teman wanita depan Friska.


"hmm.. betul!!" Ucap Friska.


Bu Hamsa berteriak. "Bagas.. silahkan duduk nak!!" dengan suara lembutnya.


Tanpa memberikan balasan satu kata pun Bagas hanya melihat Bu Hamsa secepat kilat kemudian mulai berjalan kearah tempat duduknya. Saat ia sampai di tempat duduknya ia langsung melemparkan wajahnya ke meja seperti posisi seorang murid yang tidur dikelas.


"Jahanam, sungguh jahanam kau wahai saudara Bagas !!" Ucap Anya dalam hatinya.


Bu Hamsa langsung berganti topik dengan canggung. "Eumm.. jadi siapa yang mau menjadi ..........."


---Bel pun berbunyi---


"Hari ini cukup sekian dulu, ibu rasa tugas pertama sudah terselesaikan dengan baik, besok kalian benar-benar akan mulai belajar. Tolong ibu harap kalian selalu menjaga kekompakan dan hindari perselisihan ya"


"Baik Bu !!" jawab semua murid.


Setelah Bu Hamsa keluar kelas, Fian selaku Ketua Murid membagikan kertas untuk data diri teman sekelasnya itu. Anya selaku wakil ketua murid ikut membantu Fian, ia bertugas untuk membawa semua data yang sudah diisi oleh teman-temannya itu.


Tiba saat Anya akan mengambil kertas data diri Bagas, ternyata kertas itu masih kosong. "Bagas.. kenapa belum diisi?? Cepetan isi sekarang.." ungkapnya dengan nada meninggi.


"Buat apa??" tanya Bagas dingin dengan mata yang masih ia tutup serta tangan yang menyilang.


Dengan malas Anya menjawab."Kata Bu Hamsa supaya kita sekelas bisa lebih cepat akrab."


"Ga mau!!" seru Bagas.


Anya mulai kesal dengan Bagas, ia mendekati Bagas dan mengambil pulpen yang ada dimeja, kemudian ia menulis di kertas Bagas seraya berkata. "Nama??" tanyanya dengan malas.


"Ga ada!!" jawab singkat Bagas.


"Hobby?" Tanya Anya lagi.


"Ga ada!!" jawab Bagas dengan dingin lagi.


Setiap Anya menanyakan semua pertanyaan yang ada di kertas, Bagas selalu menjawab dengan kata "tidak ada", hal itu membuat Anya kesal. "Lo mau isi atau gue bilang ke Bu Hamsa?" Ancam Anya.

__ADS_1


"Terserah!!" jawab Bagas dingin.


Anya mulai hilang kesabaran, dengan cepat ia pergi dari meja Bagas jika tidak dia bisa menjadi nenek lampir dalam sekejap.


--- Dikantin ---


"Lo beneran bisa bawa semua itu?" tanya Friska kepada Anya.


"Iyah.. biar gue yang bawain." jawab Anya yakin.


"Kan bisa nyuruh ibu kantinnya" seru Friska khawatir.


"Udah gapapa gausah, biar sama gue aja!" ungkap Anya meyakinkan.


"Ya udah, Lo inget kan pesanan kita?" tanya Friska.


"Iyah lah.. masa lupa.. bentar gue pesankan sekarang!!" seru Anya sambil melangkah ke warung Pa Samsu.


Setelah Anya mengantri lama, ia kemudian membawa nampan berisi tiga buah mangkok bakso. Saat berjalan menuju meja Friska dan Azen, ia melihat Bagas didepannya yang sedang berjalan menuju warung, kemudian Anya melanjutkan langkahnya, saat hampir didekat Bagas, ia kehilangan keseimbangannya membuat ia terjatuh dan tepat didepan Bagas, membuat mereka berdua jatuh bersama.


Panasnya badan Bagas karena bakso yang Anya bawa, membuat Bagas langsung berdiri membersihkan bajunya, melihat bajunya yang sudah tidak suci lagi karena bakso, ia melirik Anya dengan penuh amarah, tapi amarahnya berubah menjadi rasa khawatir karena melihat Anya kesakitan karena pergelangan tangannya yang melepuh karena panasnya air bakso waktu itu.


"Lo gapapa?" tanya Bagas sambil jongkok.


"Engga.. gapapa.. sorry Bagas gue ga sengaja numpahin bakso ke elo" ungkap Anya kesakitan sambil menatap pergelangan tangannya.


Friska dan Azen yang melihat Anya kesakitan langsung menghampirinya. " Anya Lo gapapa?" tanya Azen khawatir.


"Gapapa, cuma tangan gue mati rasa!!" jawab Anya kesakitan.


"Anya cepet kita ke UKS!!" ajak Friska tergesa-gesa karena tidak tega melihat sahabatnya itu kesakitan. Mereka langsung membawa Anya ke UKS sedangkan Bagas yang sama kepanasan sampe bajunya kotor, mereka tidak memperhatikannya. Kemudian ia pergi ke toilet dan membersihkan bajunya itu, "Untung aja baju gue kenanya ga banyak!! btw itu anak beneran gapapa kan!" batinnya.


--- Di UKS ---


"Gimana Bu??" tanya Azen kepada Bu dokter yang bertugas disana.


"Syukurlah.." ungkap Friska lega sedangkan Anya hanya memperhatikan tangannya yang berlapiskan perban.


--- Di kelas ---


Seperti biasa Bagas mendengarkan musik dengan matanya yang tertutup, tapi entah mengapa kakinya malah gelisah. Ia berusaha untuk menenangkan kakinya tapi ia tidak menggubrisnya. "Gue ini kenapa?? itukan salah dia sendiri" batinnya. Kemudian ia mendengar suara Anya dari depan kelas, menandakan ia telah kembali dari UKS. saat Anya sudah duduk di mejanya, ia memanggil namanya.


"Bagas!!" ungkap Anya.


Bagas menengok dan berkata. "Apa?" dengan dingin.


"Lo gapapa?" tanya Anya khawatir juga merasa bersalah.


"Gak!!" jawab Bagas dingin, kemudian ia melihat pergelangan tangan Anya yang dibaluti perban. "Dia gapapa kan?" batinnya.


"Syukurlah.. sekali lagi maaf yah!!" ungkap Anya.


Bagas tidak menjawab perkataan Anya itu, ia langsung membalikkan badannya.


Keesokan harinya Anya tidak sengaja merobek LKS milik Bagas, besoknya lagi ia tidak senagaja menginjak kaki Bagas saat berkerumunan didepan warung pak Samsu.


Beberapa hari ini Bagas lalui dengan ketidaksengajaan yang Anya lakukan kepadanya, mulai dari tidak sengaja menjatuhkan makanannya, membuat tasnya putus karena ia terjatuh sambil memegang tas Bagas, menginjak pulpennya hingga remuk, mengotori topi sekolahnya dengan tinta, menubruk mejanya sampai ia terbangun dari tidurnya.


Entah apa yang terjadi hingga ia selalu berhubungan dengan sosok Anya ini, ia berusaha untuk sabar karena ia malas berurusan dengan seorang wanita, hingga suatu hari pada saat ia sedang tidur dikelas.


Bel istirahat berbunyi, semua murid perlahan keluar dari kelas hingga yang tersisa hanyalah Anya, Friska, Azen, Bagas dan beberapa teman sekelasnya.


Azen yang sedang asik main game, Friska yang sedang membaca buku disamping jendela belakang kelas, dan seorang Anya yang sedari tadi terus memperhatikan Bagas yang sedang tidur.


"Jen.. Jen.."


"Azen.. azen.." Ucap Anya sambil menarik rambut Azen dengan wajah yang masih memandangi Bagas.

__ADS_1


Dengan jari yang sangat sibuk Azen berkata. "Ish.. apaan sih !! Tanggung nih! To the point aja apa?" jawab Azen risih dengan perkataan Anya.


"Dia masih hidup kan? ga mati kan?" Tanya Anya dengan alis yang naik turun seperti harga saham saat ini.


"Kalo lo penasaran, ya samperin ajalah! Sono.. Sono.. pergi jangan ganggu gue main" ucap Azen mengusir Anya.


Perlahan Anya mendatangi meja Bagas, kemudian ia duduk di sebelah Bagas, ia memperhatikan wajah Bagas dengan wajah yang semakin mendekat kearahnya. Tiba-tiba Anya merasa gatal di hidungnya dan hasyim....... Anya bersin tepat pada wajah Bagas. Suara bersin itu sontak membuat Bagas bangun dari tidurnya.


"Sorry.. sorry.. sudah tidak tertahankan soalnya" Seru Anya dengan tangan yang sedang menggaruk hidung hingga merah.


Anya melihat kearah Bagas. "Aduh muka Lo jadi kena virus gue.. Tidur lagi, tidur lagi.. sorry yah.."


Anya pun berdiri, ia hendak kembali ketempat duduknya tapi tiba-tiba Bagas menarik tangan Anya hingga ia kembali duduk, kemudian Bagas mendekatkan mukanya kepada Anya. "Kata maaf aja bukan solusi yang tepat bukan?Bersihin muka gue!!" teriaknya.


Anya menelan ludahnya kemudian menjawab. "Iya sorry..gue bersihin!!" dengan nada sedikit ketakutan.


Anya membersihkan muka Bagas dengan tangannya, saat menyentuh wajah Bagas, Anya merasa jantungnya berdetak dengan kencang. "Hey jantung.. harap tenang!!" batinnya.


"Sana pergi!!" ucap Bagas yang kemudian kembali tidur dengan membalikkan badannya.


Anya kembali ketempat duduknya dengan wajah membeku. Sedangkan seorang Azen yang tidak memperdulikan dengan apa yang dialami oleh sahabatnya itu berkata. "Anya.. Anya.. gue laper beliin gue jajanan pak Samsu yang the best tiada tara itu." dengan tangan yang masih sibuk dengan hpnya.


Anya mengangguk-angguk saja dan pergi dengan wajah yang masih membeku, ia bahkan tidak sadar Azen menyuruhnya membelikan jajanan yang tidak mungkin ia lakukan ketika sadar.


Bagas melihat Anya yang pergi keluar kemudian ia mulai berjalan dan berhenti di depan pintu.


Anya sudah sampai di kantin dan ia baru sadar bahwa ia dijadikan kacung oleh Azen, tapi apa daya dia juga kelaparan dan memutuskan untuk beli banyak jajanan pa Samsu.


Pintu kelas sudah terlihat, Anya bergegas masuk dengan terburu-buru karna jajanan yang sangat banyak hingga ia tiba-tiba terjatuh sembari dihujani jajanan yang ia beli tadi. Ternyata itu ulah Bagas yang dengan sengaja membuat Anya terjatuh.


Bagas pun melangkah kedepan kemudian berbelok dengan melewati tubuh Anya begitu saja tanpa menolongnya.


"Ish.. cowo sialan!!" Umpat Anya kesal.


"Astaghfirullah sabar Anya sabar" batinnya.


Friska yang melihat kejadian itu pun segera menghampiri Anya dan menolongnya.


"Anya.. Anya.. kamu gapapa?"


"Sini gue bantuin beresin" sambil membereskan jajanan yang berserakan.


"Cowo itu kayanya dendam deh sama Lo" Dengan sinis Friska melirik Bagas. "Keliatan banget itu disengaja!!"


"Tapi kalo gue jadi Lo gapapa deh gue jatuh, apalagi kalo sampe jatuh di pelukannya, aduhhhhh" khayalan Friska.


Anya yang kesakitan merengek kepada Friska. "Ica lutut gue bengkak!!ㅠㅠ


"udeh ga aneh lagi Anya, Lo kan emang selalu sial" ujar Friska yang seenak jidat terang-terangan kepada Anya.


Bagas berjalan menuju tempat duduknya sembari mengeluarkan earphone yang kemudian ia gunakan.


Friska dan Anya kembali ke tempat duduknya, kemudian ia menjatuhkan semua jajanannya di meja Anya seperti hujan tadi.


"Wawww.. Amazing.." Sahut Azen dengan mata yang terbelalak.


"Nih Lo makan semuanya, gue jadi ga nafsu makan" ucap Anya cemberut.


"Yaahh.." jawab Azen dengan nada kecewa.


"Tau aja gue kelaparan, ini gue bawa balik juga yah" ucap Azen dengan wajah yang tiba-tiba sumringah.


"Iye bambang terserah Lo aja" sahut Anya dengan nada jengkel.


Dalam hati Anya berkata. "Apa benar Bagas sengaja? Tapi kenapa? Apa karna beberapa hari ini gue selalu membuat dia kesal, jadi dia balas dendam? tapikan gue kan ga bermaksud berbuat seperti itu, itu murni ketidaksengajaan gue"


"Gue juga sebenernya ga enak selalu berbuat salah ke dia, tapi gue juga gatau kenapa gue selalu berurusan sama itu anak" batinnya.

__ADS_1


~Bersambung~~


__ADS_2