DONDURMA

DONDURMA
Khawatir


__ADS_3

Melihat tingkah laku Bagas yang demikian membuat Anya heran, mengapa ia harus bersembunyi seperti itu. Lalu ibu dokter melihat Anya dan menghampirinya, "Udah bangun??" tanyanya. Anya hanya menjawab dengan anggukan kepala, "Gimana keadaan kamu?" tanya lagi Bu dokter sambil duduk di samping depan Anya. "Pusing kah? atau mual? atau gimana" tanyanya lagi.


Anya meletakkan gelasnya dan menjawab, "Gapapa Bu, udah mendingan sekarang."


Bu dokter langsung berdiri dan melangkah menuju tempat obat-obatan. "Baguslah, kenapa kamu bisa pingsan?" tanyanya.


"Saya trauma sama kolam renang Bu" jawab Anya lesu.


"Kok bisa??" tanya Bu dokter sambil melangkah menuju Anya kembali.


"Kayaknya dulu waktu kecil saya pernah tenggelam di kolam renang, entah kenapa hal tersebut membuat saya trauma sampai terus-terusan memimpikannya" jawab Anya ragu.


"Kamu pasti kaget yah? apa lagi masih kecil.. udah pernah ke psikiater?" tanya ibu dokter sambil mengambilkan Anya tisu.


Anya menerimanya dan menjawab, "Udah Bu, saya dulu rutin ke psikiater, kalau sekarang sesekali saja" dengan mengelap keringatnya.


Bu dokter memberikan Anya obat dengan berkata, "Jangan lupa diminum yah"


"Kamu ingat dengan kejadian itu?" tanyanya lagi-kepo yah Bu dokternya wkwk.


"Saya tidak ingat persisnya kaya gimana, cuman saya memimpikan hal yang sama secara terus-menerus. Saya bermimpi bahwa saya di hukum oleh seorang wanita memakai dress merah dimasukkan kedalam kolam renang, saya berusaha memohon kepada wanita itu tetapi wanita itu malah menahan kepala saya supaya tidak naik keatas permukaan air, dan itu berulang-ulang ia lakukan. Mimpi itu terasa sangat nyata Bu" ungkapnya dengan penuh yakin.


"Kamu tidak bertanya kepada orang tua kamu?" tanya Bu dokter lagi.


"Mereka menghindar saat saya menanyakan kejadian di kolam renang itu, seakan-akan ada hal yang mereka sembunyikan." jawab Anya lagi.


"Ya udah.. mungkin orang tua kamu tidak mau kamu mengingat hal itu lagi, makanya mereka berusaha untuk menutupinya, lebih baik kamu positif thingking aja sama mereka." ungkap Bu dokter bijak.


"Iya saya berharapnya sih begitu Bu, tapi akhir-akhir ini saya juga memimpikan hal yang berhubungan dengan wanita itu, apakah menurut ibu ini semacam ingatan dari masalalu? karena hal itu terasa nyata" tanya Anya penasaran.


"Mungkin benar, mungkin juga tidak. Kalau kamu ingin tau pastinya seperti apa, nanti saat kamu pergi ke psikiater lagi, coba tanyakan hal itu!" saran ibu dokter.


"Oh iya, baiklah Bu.. terima kasih" ungkap Anya dengan tersenyum manis.


"Iya sama-sama, kamu istirahat lagi aja" ucap Bu dokter kemudian berdiri dan pergi ke mejanya.


"Baik Bu" jawab Anya.


"Btw, si Bagas baik-baik aja kan dibawah sana?" batinnya.


Bagas yang sedari tadi mendengarkan cerita Anya itu pun berfikir. "Denger cerita Anya ko gue jadi inget sama gadis kecil itu yang gue tolong dulu, kejadiannya pun sama. ciri-ciri orang yang menenggelamkannya pun sama, apa jangan-jangan Anya..Ah tapi masa iya Anya si cewek itu, ga mungkin." batin Bagas bertengkar.


Bagas berada dibawah kasur Anya dalam waktu yang sangat lama, hingga membuatnya pegal-pegal. Bel pulang sekolah pun berbunyi, ia memikirkan cara yang tepat untuk bisa keluar dari bawah sana. Ibu dokter itu menghampiri Anya dan berkata bahwa teman-temannya akan menjemputnya jadi ibu dokter itu izin pulang lebih dahulu. Saat Bu dokter keluar ruangan, bagas langsung keluar dari bawah kasur kemudian ia duduk.


"Lo gapapa?" tanya Anya penasaran.


"Pegel-pegel badan gue, tadi salah posisi" ungkap Bagas dengan menepuk kakinya.

__ADS_1


"Lagian juga, elo kenapa bisa ada disini?" ungkap Anya penasaran.


"Kesasar gue" jawab Bagas dengan nada malas.


"Kesasar? bisa ngelucu juga ya Lo?" ungkap Anya tersenyum.


Azen dan Friska pun tiba disana dengan tas Anya yang dibawakan sama Azen, saat membuka tirai, mereka melihat Bagas sudah berada disana dengan Anya. "Loh.. elo ko bisa ada disini?" tanya Friska dengan menunjuk kearah Bagas.


"Gue juga baru datang" jawab Bagas dengan nada dinginnya.


"Oh gitu" ucap Friska langsung melangkah menuju kasur Anya. Saat melangkah ke kasur Anya, Azen langsung berlari melewati Friska dan berbaring di sebelah Anya. "Lo ngapain??" sentak Friska.


"Gue cape.. Anya geseran dikit" ungkap Azen dengan santainya. Anya pun bergeser sedikit.


"Ga tau malu banget jadi orang, si Anya tuh lagi sakit, jangan ganggu dia" sentak Friska sambil menarik tangan Azen.


"Udah.. udah gapapa.. yuk pulang" ucap Anya yang langsung berdiri sambil merapikan seragamnya.


"Lo gapapa?" tanya Azen.


"Gapapa.. saking gapapa nya gue bisa pulang sekarang naik sepeda." semangat Anya. "Oh iya lupa, gue kan ga bawa sepeda hari ini" ungkapnya lagi sambil cemberut.


"Ga boleh.. Lo ga boleh cape.. bareng sama bocah itu aja" ungkap Friska sambil menunjuk ke arah Azen.


"Motor gue kan bannya bocor, lumayan jauh juga jadi harus jalan dulu" kata Azen.


"Ga boleh.. lo gaboleh kecapean!!" sentak Friska.


"Ica.... gue beneran gapapa kok" jawab Anya dengan meyakinkan.


"Engga Anya.. Lo itu masih sakit, gue ga mau Lo pingsan lagi.." ungkap Friska khawatir sambil menghampiri Anya.


"Terus gimana??" tanya Anya.


"Sama gue aja!!" Ajak Bagas tiba-tiba.


"Nah iya.. sama bagas aja yah!!" ungkap Friska lega.


"Emang gapapa?" tanya Anya dengan ragu.


"Gak.. gue bawa tas dulu dikelas" balas Bagas yang langsung berdiri dan meninggalkan UKS.


"Ica.. gue takut.. gimana nanti kalo di perjalanan jadi canggung, secara diakan manusia es!" rengek Anya kepada Friska.


"Ya udah gapapa, paksain aja Anya.. kepepet ini kan? bukan karena modus atau apa, jadi Lo ga usah merasa bersalah gitu" jawab Friska santai.


"Bukan merasa bersalahnya tapi kan gue ga mau berurusan lagi sama dia?" ungkap Anya sambil duduk di kasur.

__ADS_1


"Apa karena kejadian kemarin, Lo jadi ga mau berurusan sama bagas lagi?" tanya Friska.


"Engga juga, soalnya dulu dia pernah ngomong ke gue jangan ganggu dia lagi." jawab Anya.


"Kapan??" tanya Friska lagi.


"Pas gue yang kena pukul bola basket itu" balas Anya lesu.


"Itu mah udah lama Anya.. bisa jadi dia juga udah berubah pikiran" ucap Friska meyakinkan.


"Udah santai ae nya.." sambung Azen dengan santainya.


Bagas kembali ke UKS dan langsung mengajak Anya untuk pergi bersama, Bagas membawa tas Anya karena ditakutkan ia pingsan lagi-tapi kayaknya bagas ini emang perhatian. Azen pergi membawa motornya sedangkan Friska menunggu pacarnya menjemput. Diperjalanan menuju parkiran mereka tidak berbicara sepatah katapun, tiba-tiba merasa berdua merasa canggung dan yang Anya takutkan itu pun terjadi, selama perjalanan menuju rumah Anya, ia benar-benar merasa canggung dengan Bagas, ia tidak tau harus berbicara apa kepada bagas, entah topik apa yang membuat keadaan mereka menjadi tidak canggung. Ia langsung terfikir kan akan kejadian di lapangan pada hari Minggu dulu, dan langsung memulai pembicaraan.


"Bagas.. Lo suka ke lapangan Deket taman Indah?" tanya Anya memberanikan diri.


"Kadang.. emangnya kenapa?" tanya Bagas.


"Engga.. waktu itu gue pernah liat Lo disana" jawab Anya agak santai.


"Oh iya.. gue juga liat Lo" ungkap Bagas.


"Oh yah?? gue kira Lo ga liat gue" balas Anya.


"Gue kira Lo yang ga liat gue, soalnya pas gue mau manggil elo, elo nya udah pergi" sambung Bagas.


"iyayah? gue gatau sumpah.. terus Lo akrab banget sama anak kecil disana, Lo kaya bukan Lo tau ga? beda banget sama Bagas yang disekolah." ungkap Anya mulai santai.


"Gue emang suka anak kecil.." jawab Bagas.


"Oh pantesan ekspresi muka Lo sampe kayak gitu" ungkap Anya.


"Gitu gimana?" tanya Bagas penasaran.


"Yah gitu.. gue ga pernah liat senyuman elo selebar dan semanis itu" ungkap Anya spontan membuat dirinya terkejut dengan perkataannya sendiri.


"Eum.. Eum.. maksud gue yah gue ga pernah liat Lo senyum kaya gitu" ujarnya dengan terbata-bata.


"Sial, gue keceplosan OMG!!" batinnya.


Mendengar Anya mengatakan hal itu membuat Bagas tersenyum sendiri, sampai ia lupa melihat jalanan dan ternyata ada polisi tidur, ia lupa mengerem membuat Anya hampir terpental, tapi ia justru kaget karena Anya memeluknya secara tiba-tiba.


Anya kaget dan otomatis memeluk Bagas, saat ia sadar bahwa ia memeluk Bagas, ia langsung melepas pelukannya dan suasana kembali menjadi canggung.


"Ni tangan gatel banget, aduh gimana ini gue malu banget sama Bagas. Tapi gue ga sengaja tapi takut disangka modus.!!" ucap batinnya lagi bertengkar.


~Bersambung ~~~

__ADS_1


__ADS_2