
---Dikelas---
"Zen, lain kali kalo ngerjain PR tuh dirumah bukan disekolah!!" ucap Anya kesal.
"Anyaaa, ngerjain PR tuh lebih afdol disekolah, Kaya ada rasa manis-manisnya gitu" ngeles Azen.
"Lo fikir PR itu merek air dalam kemasan, pake bawa-bawa kalimat dalam iklan segala" sahut Friska sambil bercermin.
"Nye..Nye..Nye.. bodo amat!!" ejek Azen.
Azen melanjutkan menyalin PR yang sudah dikerjakan oleh Anya. Dengan sekuat tenaga Azen menulis dengan kecepatan secepat kilat hingga akhirnya selesai dalam waktu singkat.
"okee.. Akhirnya beres juga!! Tinggal.. main game" sahutnya yang langsung mengeluarkan hp. Saat permainan akan dimulai, tiba-tiba Azen ingat sesuatu. "Oh iya Anya!!" Ucap Azen sambil menyentak kan hpnya.
"Apa??" Sahut Anya sambil membaca buku.
"Gue ada informasi penting nih buat lo!!" ungkap Azen.
"Iya apa Bambang??" tanya Anya mulai penasaran.
"Gue....." ungkap Azen menggoda Anya.
"Gue laper nih, beliin gue roti dong" ucap Azen dengan mata yang berbinar-binar.
Anya menarik kerah Azen. "Lo ini yahhh, kemaren-kemaren Lo nyuruh gue beli jajanan pa Samsu, sekarang minta di beliin roti. Lo tau kan gue tuh ga suka disuruh-suruh sama orang kaya Lo" seru Anya kesal.
"Terus kenapa waktu itu Lo nurut sama gue, pas gue nyuruh lo beliin jajanan pa Samsu?" Tanya Azen.
Anya pun melepas genggamannya seraya berkata. "Ya.. gue gatau, gue ga sadar waktu itu, tiba-tiba gue udah ada di kantin" ungkapnya sama bingungnya.
"Lo ngelamun Anya?" Tanya Friska.
"Maybe, yaudahlah skip aja." Seru Anya.
Azen memegang tangan Anya dengan mata yang berbinar-binar. "Nya.. sumpah gue laper banget, tadi gue ga sempet sarapan Anya...." rengeknya.
Anya langsung melepas tangan Azen seraya berkata. "Idih najis dipegang sama Lo!! Oke gue beliin Lo roti tapi ini untuk yang terakhir kalinya oke??" ancam Anya.
"Makasih cintaku.." jawab Azen mengejek.
"Lo ngomong gitu lagi gue jahit mulut lo!!" ungkap Anya karena risih dengan omongan Azen.
"Iya-iya sorry" balas Azen.
"Mau gue anter?" tawar Friska.
"Ga usah gue sendiri Aja biar cepet" ucap Anya sembari jalan kemudian ia berlari.
"Anya jangan lari-lari ntar Lo jatoh!!" Teriak Friska khawatir.
"Iyah..." teriak Anya.
Saat Anya berbelok melewati pintu, ia tidak sengaja menubruk seorang cowok yang membuat dirinya terpental hingga hampir jatuh, untunglah pria tersebut menahannya. Ia dengan cepat menahan tangan Anya, seraya berkata. "Kamu gapapa?" Ucapnya dengan rasa khawatir.
__ADS_1
"Gapapa, sorry yah gue buru-buru." Seru Anya dengan melepaskan tangan pria itu kemudian ia kembali berlari. "Buru-buru amat kaya lagi dikejar rentenir" batin pria itu.
Pria tersebut kemudian melangkah masuk kedalam kelas Anya, ia menghampiri salah seorang murid disana seraya berkata. "Ini kelas Bagas bukan?". Dengan cepat murid tersebut mengangguk.
"Dimana tempat duduknya?" Tanya pria itu, dan dengan cepat pula murid tersebut menunjuk ke arah tempat duduk Bagas.
Pria tersebut berjalan menghampiri meja Bagas kemudian ia duduk disana. Friska yang melihat kejadian tersebut bertanya kepadanya.
"Kamu siapa?" Tanya Friska.
"Oh.. saya Satria, kakak kelas sekaligus teman Bagas" ucapnya dengan percaya diri.
"Oh gitu.. ada perlu apa kak Satria kesini?" Tanya Friska mulai penasaran.
"Cuma mampir pengen ketemu sama Bagas" jawab Satria dengan santai.
"Oh begitu!" Sahut Friska.
---Di lorong---
Anya berjalan menuju kelas, ia membuka roti yang ia beli tadi, ia berniat untuk memakannya sambil berjalan menuju kelas.
Saat Anya akan mengigit rotinya tiba-tiba ada orang yang menubruk bahunya dari belakang membuat roti yang akan dimakan nya itu jatuh ke lantai. Semua itu gara-gara Pria dengan Hoodie hitamnya.
Anya berjongkok dan berkata. "Roti gue....… udah mati!!" dengan nada sedihnya.
Pria tersebut ternyata Bagas. Bagas yang sedari tadi berjalan dengan tergesa-gesa dengan hp ditangannya, tidak sadar ia menubruk seseorang yang ternyata itu adalah Anya.
Bagas melirik Anya dengan nada dinginnya kemudian ia berkata. "Sorry, gue ga sengaja." ungkapnya yang kemudian berbalik akan pergi.
Bagas memunguti roti itu kemudian memberikannya kepada Anya. "Nih makan.. Belum lima menit." Ungkapnya kemudian membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan Anya.
"Cowok brengsek!!" Ungkap Anya yang kemudian berlari hingga menubruk balik bagas membuat hpnya jatuh.
Bagas melihat ke arah hpnya yang retak karena tubrukan Anya. "Hp gue.. Woy jangan larii!!" Teriak Bagas marah.
---Dikelas---
Anya datang dari arah pintu dengan berlari, ia menuju tempat duduknya dengan tenaga yang hampir terkuras habis.
"Anyaaaa, gue bilang jangan lari-lari, Lo ini dibilangin susah bener!!" sahut Friska marah.
"Biar cepet sampe ca!!" Ucap Anya dengan terengah-engah.
"Nih rotinya Zen!!" sambil memberikan roti itu kepada Azen.
Azen mengambil rotinya dan langsung memakannya. "Lah roti buat Lo mana?" Dengan mulut penuh dengan kunyahan roti.
"Udah gue makan tadi dijalan" sahut Anya dengan suara terengah-engah.
Bagas kembali kekelas dengan raut wajah yang tidak mengenakkan, lalu ia menatap Anya sinis. Ia pergi melangkah menuju mejanya lalu ia melihat ada Satria disana.
"Minggir Lo.." ucapnya dengan dingin.
__ADS_1
"Buset.. ni bocah kagak ada sopan santunnya sama yang lebih gede" ujar Satria dengan berdiri dan pindah ke kursi sebelah.
"Gede apanya? Mau tanding?" tanya Bagas dengan nada dinginnya, yang langsung duduk setelah Satria berdiri.
"Ogah gue mah!!" sahut Satria.
"Ya trus Lo ngapain disini?" tanya Bagas.
"Gue kangen sama Lo.." jawab Satria dengan nada imutnya.
"idihh.. Najis Mughalladah!!" sahut Bagas.
"Andayyy berat amat cu kata-kata lo!!" balas Satria.
"Oke karna skarang gue tau Lo masih idup, jadi gue pamit pulang" ucap Satria meninggalkan kelas.
"Tulus Kali.. pake Pamit segala" sambung Friska ikut berbicara.
"Ica gaboleh gitu... nanti gue bilangin ke Tapasya!!" bisik Anya kepada Friska.
Sedari tadi Anya dan Friska mendengarkan percakapan kedua orang bujangan itu. Anya baru melihat sikap Bagas ternyata bisa seperti itu kepada teman akrabnya.
"Gue baru tau sisi Bagas yang kaya gitu" ucap Anya kepada Friska.
"Langka inimah langka harus diabadikan Anya" ucap Friska.
"Lo kira ini fenomena alam apa?" Ungkap Anya tidak perduli dan langsung mengeluarkan buku-bukunya.
"Azen... udah maennya nanti kalau sampe pak Sopian liat, di sita mampus lo.!!" ucap Friska kesal.
"Yaelah bentar lagi nih nanggung, lagian pak Sopian tuh terkenal dengan julukan guru paling ngaret. jadi santai aja!!" ujar Azen dengan santainya. Ia tidak menyadari bahwa pak Sopian sudah berada dikelas, membuat semua murid hening karna ia juga terkenal dengan galaknya. Ia menghampiri Azen kemudian mengambil hp Azen secara paksa dari tangannya membuat Azen kesal.
Saat hpnya diambil oleh pak Sopian, Azen tidak sadar bahwa itu adalah Pak Sopian. "Ga sopan banget, balikin!!!" teriaknya Azen hingga saat ia melihat siapa yang mengambil hpnya yang ternyata itu adalah Pak Sopian ia langsung berkata. "Eh.. Bapak..!!"
"Eumm.. itu.. Aduh.. eumm.."
"Bapak itu sekali lagi pak, menang saya pak!!"
rengek Azen.
"Menang.. menang.. kepalamu saya jadikan galendo garing!!" ucap pa Sopian dengan menjewer telinga Azen dan membawanya kedepan kelas.
Satu kelas menertawakan Azen, Azen disuruh untuk menjadi asisten pak Sopian pada hari itu. Saat itu adalah pelajaran seni, pak Sopian membentuk sebuah kelompok belajar secara acak dengan menggunakan kertas gulung.
Satu persatu nama disebutkan hingga pada saat kelompok terakhir disebutkan....
"Kelompok terakhir yaitu.. Komarudin, Maesyaroh, Muhajirin, Patrisia, Brandon, Bagas dan Anya" ujar Pa Sopian kemudian Azen menulisnya di papan tulis.
Saat nama Bagas dan Anya disebutkan, mereka berdua otomatis saling memandang dan seketika keduanya memalingkan muka.
"Sial !!" umpat Anya.
"Sial !!" umpat Bagas.
__ADS_1
~Bersambung~~