
Anya berjalan menelusuri lorong-lorong sekolah, berharap semoga hari ini dia tidak kena sial. Saat menuju kelasnya, ia melihat banyak sekali kakak kelas cewek diluar kelasnya, ia heran mengapa tiba-tiba banyak kakak kelas ngumpul didepan kelasnya dan apa yang mereka lihat sampai se berisik itu.
Anya masuk ke dalam kelas, ia berjalan menuju meja Bagas, ia memberikan hp baru kepada Bagas sebagai ganti hpnya yang ia rusak.
"Nih ganti rugi hp Lo yang waktu itu gue rusak" ungkap Anya sembari memberikannya hp, kemudian ia langsung melangkah pergi ke mejanya, saat berjalan pergi, Bagas memanggil Anya.
"Anya.."
"Ayo minta maaf Bagas Ayok.. udah pas ini timing-nya" ungkap batin Bagas.
"Iyah.." jawab Anya menengok.
"Eum.. Thanks" ucap Bagas.
"Bodo banget sih lu Bagas" ucap batinnya.
"Oke" balas Anya singkat.
Anya berjalan menuju tempat duduknya, setelah itu ia mengeluarkan sebuah buku novel untuk ia baca.
Semua kakak kelas yang heboh itu makin heboh karna perlakuan Anya kepada Bagas yang dinilai cari perhatian oleh mereka, hingga membuat Anya jadi bahan omongan mereka.
"Anya.." ungkap Friska.
"Apa Ica?" tanya Anya.
"Lo tau ga kenapa kakak kelas diluar sana pada ngumpul?" tanya Friska.
"Engga, emangnya kenapa?" jawab Anya tidak perduli sambil membuka bukunya.
"Itu karena Bagas, kegantengannya udah menyebar satu sekolah" bisik Friska kepada Anya.
"Oh gitu" jawab Anya yang sama sekali tidak perduli.
"Duh emang risih yah kalau punya wajah ganteng" ungkap Friska didepan Bagas.
"Gue juga risih" sahut Azen.
"Ngapa lu yang risih Bambang?" ucap Friska kesal.
"Risih karena mereka itu berisik banget, gue jadi ga konsen nih maennya"
"Woy.. pergi-pergi ini udah mau bel sekolah, gue bilangin ke guru BP baru tau rasa" teriak Azen kepada semua wanita itu.
Semua kakak kelas itu melihat Azen, mereka lupa bahwa ada cowok ganteng lainnya. Tanpa marah ataupun kesal, mereka semua malah senang karna Azen berbicara kepada mereka, mereka pun memutuskan untuk pergi ke kelasnya masing-masing.
"Gile lu.. bisa-bisanya marahin kakak kelas" respect Friska sembari mengacungkan jempolnya.
"Habisnya mereka berisik.. Tuh kan gue jadi kalah" rengek Azen.
"Berisik lu" ungkap Anya sambil menepuk kepala bagian belakang Azen.
Perlakuan Anya tersebut membuat Azen terdiam menahan amarahnya. "Kalo bukan cewe.. Lo udah!!" seru Azen.
"Udah apa?" tanya Anya galak.
"Udah.. udah gue ajak Mabar" jawab Azen ciut karna Anya.
Melihat Azen, Friska hanya geleng-geleng kepala aja.
"Btw Anya, Lo mau ikut ekskul apa??" tanya Friska kembali.
"Ga tau gue, males!!" jawab Anya.
"Lah kenapa?? disini tuh banyak banget ekskul nya tau! ada dance juga. Lo mau ikutan??" Ajak Friska lagi.
"Eum.. yang lain yang lain??" tanya Anya.
"Voli?"
"No!"
"Pramuka?"
"No!"
"Paskibra?"
__ADS_1
"No!"
"PMR?"
"No!"
"Basket?"
"No!"
"Eum.. klub buku?"
"No!"
"Apalagi yah.. cheerleader??"
"Nah.. boleh tuh"
"Jadi Lo mau ikutan cheerleader?"
"Engga, dance aja" jawab singkat Anya.
"Lah.. cape-cape gue sebutin satu-satu, yang dipilih nomor satu!!" sahut Friska cape.
"Tapi.. kalau difikir-fikir Lo emang jago dance Anya" ungkap Friska.
"It's just my hobby Ica" jawab Anya.
"Yah tapi Lo pernah sampe dapet penghargaan segala Anya. Oke kita ikutan dance aja" ungkap Friska bersemangat.
Disisi lain, karna hp Bagas emang rusak jadi ia langsung berpindah alih kepada hp yang Anya kasih karna darurat, ia harus menelpon seseorang yang dikhawatirkan ia akan khawatir. setelah beberapa saat iapun menelpon seseorang."Halo.." ungkapnya.
"Lo gapapa?"
"Iya ini tadi hp gue rusak"
"Iya iya jangan khawatir, gue baik-baik aja"
"Lo gimana? mau gue samperin"
"Iyah ini no hp gue yang baru"
"Yang lama gabisa di nyalain lagi"
"Iya Lo juga jaga diri baik-baik"
"Salam buat Ayah"
"Iya gue juga kangen sama Lo"
"Iya bye"
Itu semua jawaban Bagas dari seseorang yang ia telpon. Saat Bagas sedang bertelepon, Anya dan Friska memperhatikannya, ia mendengar semua perkataan Bagas tapi tidak dengan orang yang ia telpon.
"Anya.. itu kayanya dia lagi ngabarin pacarnya deh?" ungkap Friska berbisik kepada Anya.
"Maybe.." jawab Anya tidak perduli.
"Lo ga penasaran?" tanya Friska.
"Bukan urusan Gue Ica.." seru Anya.
"Serius Lo ga kepo gitu?" tanya Friska lagi.
"Ya mau pacarnya, mau gebetannya atau mau istrinya sekalipu juga bodo amat bukan urusan gue" ungkap Anya.
"Iyah juga sih.. Eumm yah masuk akal kalau dia udah punya pacar, secara muka kaya gitu masa iya jomblo" ungkap Friska sambil mengambil kaca dari dalam tasnya.
"Iyah udah sana jangan ganggu, gue lagi baca nih" ungkap Anya risih.
"Halah.. baca novel aja sebegitu seriusnya, kalo baca buku pelajaran mah gue ngarti.. Lah ini.. cuma novel cinta-cinta an."
"Ica... Lo ini yah, lama-lama gue bilangin ke Tapasya, supaya kalian bisa gelut lagi" canda Anya.
"Itu mah dari sinetronnya Anya.." ungkap Friska.
"Kan berawal dari sinetron jadi kenyataan" ngeles Anya.
__ADS_1
"Terserah lu dah Saodah" sahut Friska tidak perduli.
--- Di Kantin ---
"Bagas.. Lo beli roti sekarung buat apa?" Tanya Satria.
"Se kresek kali.." jawab Bagas.
"Ya buat apa?" tanya Satria lagi.
"Ya dimakan lah masa dijadiin bahan bangunan" canda Bagas.
"Serius Lo mau makan semua itu roti?" tanya Satria untuk kesekian kalinya.
"Berisik amat lu, liat aja nanti" ungkap Bagas.
Bagas dan Satria menghampiri Anya yang sedang makan dengan Azen dan pastinya dengan Friska juga.
Tanpa sepatah katapun, Bagas hanya melempar kresek itu ke meja Anya lalu pergi melewati mereka. Otomatis Anya menengok kebelakang dan bertanya kepada Bagas. "Ini apa?"
"Batu.. ya roti lah" ucap Bagas dengan nada dinginnya.
"Buat apa??" tanya Anya.
"Buat bahan ghibah.. ya buat Lo makan" jawab Bagas.
"Kenapa??" tanya Anya lagi.
"Gue pengen minta maaf soal kejadian waktu itu, gue ngaku salah, kata-kata gue waktu itu emang keterlaluan. Ayoo Bagas ngomong gitu ke Anya ayoo.." Batin Bagas.
"Ganti rugi roti waktu itu" jawab Bagas singkat yang kemudian melangkah pergi meninggalkan Anya.
"Thanks yah" teriak Anya kepada Bagas.
Bagas hanya membalas dengan jempolnya tanpa menengok kebelakang.
"Bego Bagas.." Batin Bagas.
------
"Kenapa itu orang?" tanya Azen.
"Balas Budi hp mungkin" jawab Friska.
"Lah.. jauh amat dari hp ke roti" balas Azen.
"Lu bisa beli se mobil kalau dipake buat beli roti" ujar Azen.
"Yah mungkin juga dia ngerasa bersalah karna ucapannya waktu itu" jawab Anya.
Tingkah mereka sebenarnya diperhatikan oleh kakak-kakak kelas yang menyukai Bagas, mereka semakin yakin bahwa Anya itu ganjen, caper, juga berusaha merebut Bagas dari mereka.
"Itu cewe ganjen banget!!" ujar Ghibah 1.
"Iyah bener, liat tuh dia juga ngedeketin Azen" balas Ghibah 2.
"Bener-bener tuh cewe gatau malu banget, udah mah Deket sama Azen, sekarang mau mepet juga sama Bagas" jawab ghibah 3.
"Jangan dibiarin gais.. yang kaya gitu harus dibasmi" sahut ghibah 4.
"Iyah aku setuju, dia harus diberi pelajaran" balas Ghibah 5.
"Gue juga udah jijik liat tingkah so cantiknya dia, dari awal dia masuk udah gue perhatiin dan emang layak untuk diberi ilmu pengetahuan" ucap Ketua ghibah.
"Jadi gimana?" tanya Ghibah 1.
"Toilet??" kata sang ketua ghibah.
"Setuju.." suara kompak tukang ghibah.
"Supaya kita tau kapan dia ke toilet kamu suruh temen sekelasnya untuk mata-mata in dia, okee!!" suruh sang ketua.
"Beres.." patuh ghibah 4.
Perwakilan dari anggota fans klub Bagas berkumpul, mereka merencanakan sesuatu hal untuk Anya. Mereka berencana akan mengerjai Anya nanti di toilet. Semoga aja Anya ga pergi ke toilet..ㅠㅠ
~ Bersambung ~~~
__ADS_1