
Bagas bersama dengan beberapa teman lainnya dengan sukarela ikut membantu anggota OSIS dalam mempersiapkan acara tujuh belas Agustus nanti. Mereka dibagi kedalam beberapa kelompok, Anya masuk kedalam kelompok menghiasi lapangan sedangkan Bagas mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan untuk perlombaan nanti.
Bagas beberapa kali bulak balik ke lapangan untuk uji coba peralatan lomba nanti, juga sesekali ia mencuri pandang terhadap Anya. "Dia keliatan cape banget" batinnya.
Saat ada waktu luang Bagas pergunakan waktunya untuk menghampiri Anya yang sedang memasang bendera kecil ke atas tali di samping lapangan. "Anya.." panggilnya.
Anya yang sedang berdiri di atas kursi itupun menengok kearah Bagas. "Iyah kenapa??" tanyanya.
Bagas langsung memberikan tisu kepada Anya karena ia risih saat melihat keringat Anya yang sangat banyak itu. "Nih ambil.. Lap keringet Lo" ujarnya.
Anya langsung menerima niat baik Bagas. "Thanks ya Bagas" ungkapnya yang kemudian mengelap semua keringatnya.
"Kenapa Lo pasang bendera susah-susah kaya gitu, Lo kan bisa turunin talinya dulu terus Lo pasangin semua benderanya baru Lo naikin lagi talinya!!" ungkap Bagas memberitahu Anya supaya dia tidak harus kesusahan sampai segitunya.
"Oh iya bener juga kata Lo.. kalo gitu bantuin gue turunin tali yah!!" pinta Anya kepada Bagas.
"Yang lainnya kemana? kenapa Lo sendiri yang pasang ni bendera-bendera kecil?" tanya Bagas sambil berusaha membuka tali.
"Mereka ke sisi yang lainnya, tadinya gue sama ka Rafli tapi dia lagi dipanggil sama guru" ungkap Anya sambil berjongkok memunguti bendera-bendera yang berserakan dibawah.
"Bagas!!" tiba-tiba terdengar suara kakak kelas memanggil Bagas untuk segera kembali membantu mereka mempersiapkan peralatan lomba.
Bagas menengok kakak kelas itu, ia kemudian mengisyaratkan akan segera kembali. "Anya gue balik dulu yah nanti kalo gue senggang, gue kesini lagi" ungkapnya.
"Gapapa Bagas ga usah Lo juga lagi sibuk kan. Sana keburu dimarahin kakak kelas" balas Anya. "Tumben baik" batinnya.
"Ya udah gue balik dulu" ungkap Bagas kemudian melangkah pergi meninggalkan Anya sendirian.
Saat Bagas sedang sibuk-sibuknya, pikirannya hanya dipenuhi oleh Anya. "Duh kenapa gue resah gini yah!!" batinnya.
Setelah semua tugas Bagas selesai, ia langsung menemui Anya di lapangan. Begitu ia sampai di lapangan, ia melihat Anya sedang bersama kak Rafli. "Dia udah balik ternyata" batinnya.
__ADS_1
Bagas memperhatikan tingkah laku kak Rafli terhadap Anya. "Bukannya kebalik ya, harusnya dia yang masangin bendera naik kursi itu, bukannya Anya. Dia kerjaannya cuma bantuin ngasih bendera ke Anya, jadi ketua OSIS ko malah santai-santai." batinnya.
Saat Anya sedang memasang bendera, tiba-tiba ada lebah menghampirinya membuat ia kehilangan keseimbangan sampai jatuh dari kursi. Untungnya ada ka Rafli yang menolongnya sehingga ia tidak sampai jatuh kebawah. Tapi.. Karena posisinya kak Rafli mengalungkan tangannya pada pundak Anya, membuat Bagas tiba-tiba murka. "Anya.." teriak Bagas sangat keras kepada Anya sampai terdengar seisi sekolah wkwk. Lebay..
Mendengar suara teriakan Bagas membuat Anya sangat terkejut hingga ia melepaskan pegangan tangan kak Rafli. Disisi lain Bagas menghampiri mereka dengan wajah yang penuh dengan Amarah, hingga saat ia berada didepan Anya dan kak Rafli ia berteriak kembali memanggil nama Anya dan langsung menarik tangan Anya hingga pada posisi bersebelahan dengannya.
"Ke.. kenapa Bagas??" tanya Anya gugup sekaligus ketakutan dengan ekspresi wajah Bagas.
"Jangan deket-deket sama dia, dia udah jelas modus sama Lo. keliatan dari gelagatnya bahwa dia lagi manfaatin Lo, sampe pegang-pegang segala. Diakan cowok, seharusnya dia yang naik bukan malah nyusahin lo. Masa seorang cowok membiarkan seorang cewe kesusahan dan dia asik santai-santai cuma memunguti bendera. Udah jangan deket-deket lagi sama dia" fikir Bagas ia akan berkata seperti itu tapi itu semua hanya khayalan semata, kebenaranya dia hanya terdiam.
"Bagas??" tanya Anya sambil menepuk pundak Bagas hingga ia kembali sadar.
"Eu.. iyah!!" Jawab Bagas tiba-tiba.
"Kenapa Lo manggil gue sampe segitunya? terus sampe tarik tangan gue segala. kenapa?" tanya Anya lagi.
"O.. oh itu.. eum.." ungkap Bagas kebingungan. "Eum.. itu.." ungkapnya yang setelah itu muncul ide cemerlang saat melihat bendera-bendera kecil yang berserakan. "Eum.. itu benderanya kenapa bisa berserakan kaya gitu!!" ungkapnya sambil menunjuk kearah bendera.
"I.. Iya kenapa disini berantakan banget, meskipun kertas tapi tetep aja ini itu bendera Anya.. Ayo cepetan pungut!!" ungkap Bagas gugup, kemudian ia menarik Anya hingga ia dan Anya memunguti kertas bendera itu sambil berjongkok.
Kak Rafli hanya melihat perlakuan Bagas dengan senyum menyeringai. "Kak Rafli .." teriak salah satu anggota OSIS memanggilnya. "Anya.. kayaknya kakak harus kembali ke ruang guru dulu nih.. maaf kakak tinggalin lagi" ungkapnya.
"Iya gapapa kak silahkan saja, kakak pasti lagi sibuk-sibuknya!" jawab Anya sambil tersenyum. Bagas melihat Anya tersenyum lalu menutupi senyumannya dengan kertas bendera seraya berkata. "Anya ini liat ini warnanya bagus beda dari yang lain" ungkap Bagas mengalihkan pembicaraan.
Anya melihat kearah bendera yang berada didepan mukanya itu. "Sama aja Bagas gaada bedanya" ungkapnya sedikit kesal kepada Bagas.
"Lo liat lagi?? mata Lo sakit? ini beda banget tau!" ungkap Bagas meyakinkan Anya.
"Mana gaada ada bedanya!!" jawab Anya sambil melihat kearah Bagas.
"Ini nih ini coba Lo liat lagi!" ungkap Bagas sambil mendekatkan kertas bendera itu kepada kepala Anya.
__ADS_1
Anya kemudian tertawa dan berkata. "Mata Lo yang salah!!"
"Mata Lo.. kenapa jadi mata gue!!" kata Bagas membalikkan omongan Anya, ia mulai santai kepada Anya dengan nada candanya.
Kak Rafli langsung pergi setelah melihat Bagas dan Anya itu, ia pergi dengan wajah masamnya. "Itu cowok siapa sih?" batinnya.
Setelah semua pekerjaan telah selesai ternyata hari sudah menjelang malam, Bagas berniat ingin mengantar Anya pulang karena tidak baik membiarkan seorang wanita sendirian malam-malam begini.
Saat diparkiran Bagas menghampiri Anya dengan mengendarai motornya. "Anya.." panggilnya.
Anya langsung menengok kearah suara itu. "Iyah kenapa?" ungkapnya.
Saat Anya menengok, Bagas langsung melempar helm kearah Anya membuatnya otomatis menerima lemparan helm itu. "Pulang sama gue!!" kata Bagas.
"Gapapa Bagas gue bisa pulang sendiri" tolak Anya sambil menghampiri Bagas juga memulangkan helmnya itu.
"Lo yakin?" tanya Bagas tidak yakin.
"Iyah.. gue duluan yah.." jawab Anya yang kemudian pergi meninggalkan Anya.
Di perjalanan Anya mempercepat dalam mengayuh sepedanya karena hari mulai gelap, ia takut terjadi hal yang tidak diinginkan. Ia tidak mengetahui bahwa Bagas sebenarnya membuntutinya dari belakang. "Itu anak so-so an ga mau gue anterin, padahal sendirinya juga takut pulang sendiri" ungkap Bagas.
Anya ternyata menyadari dari kaca spion sepedanya bahwa ada orang yang sedari tadi membuntutinya. Ia mulai merasa takut hingga terus mempercepat dalam mengayuh sepedanya. "Itu orang siapa sih? dari tadi kayaknya ngikutin gue!" batinnya. Karena hari sudah malam jadi Anya tidak bisa melihat dengan jelas bahwa orang yang membuntuti nya itu adalah Bagas.
Kemudian Anya memberanikan diri untuk berhenti sebentar. "Kalo gue berhenti apa dia bakalan berhenti juga?" batinnya. Dan ternyata motor itu juga berhenti.
Setelah sampai dirumah, Anya langsung bergegas masuk kedalam rumah lalu ia menengok dari kaca rumahnya. "Itu orang bener-bener ngikutin gue.. ngapain dia berhenti di dekat rumah gue." ujarnya ketakutan.
Sedangkan dalam posisi Bagas, saat ia sudah memastikan bahwa Anya pulang dengan selamat, ia langsung berfikir. "Loh.. kenapa gue bisa tiba-tiba ada disini?? Gue ini sebenarnya kenapa sih. Ngapain gue membuntuti dia sampe rumahnya. Kayaknya gue udah ga waras" batinnya yang setelah itu ia bergegas pergi pulang kerumahnya.
~ Bersambung ~~~
__ADS_1
Ternyata Bagas juga tipe pencemburu, perhatian sekaligus kekanakan yah, tapi ia tidak berani untuk mengaku pada dirinya sendiri bahwa ia mulai menyukai dan memperhatikan Anya..