
--- Di kamar Anya ---
Sepanjang malam Anya berfikir tentang apa yang Friska dan Resa katakan juga perlakuan Bagas terhadapnya dan kepada orang lain. "Apa bener Bagas itu perhatian hanya ke gue?" batinnya.
"Tapi kenapa?? kenapa harus gue?? ah masa iya tapi, ga mungkin.. Ini mah kebetulan aja udah pasti..Tapi kalo kebetulan juga ga mungkin, buktinya dia beliin gue roti, nemenin gue saat gue lagi sedih karena masalah bully kemarin, terus perhatian juga sama keluarga gue, bahkan sampai akrab sama Dejoy. Terus.. waktu itu kasih pinjam gue sweater." batinnya lagi sambil bergerak kesana kemari.
"Oh iya sweater Bagas.." teriak Anya tiba-tiba.
--- Di sekolah ---
Anya mencari Bagas berniat untuk mengembalikan sweater yang ia pinjam, saat berjalan melewati taman belakang sekolah ternyata Bagas ada disana, ditempat Anya menangis waktu itu. Ia langsung menghampiri Bagas yang sedang duduk dengan mata terpejam itu, entah tidur atau hanya memejamkan matanya.
"Bagas.." ungkap Anya yang kemudian duduk di samping Bagas.
"Kenapa?" tanya Bagas tanpa membuka matanya.
"Ini gue mau balikin sweater yang waktu itu, maaf baru dikasih sekarang soalnya gue lupa banget" ungkap Anya dengan hati-hati sambil menunduk juga memainkan jarinya.
"Oh gitu.. yaudah taro aja. Jaket yang katanya Lo mau juga Lo lupa kan?" tanya Bagas.
"Hah.. jaket? jaket yang mana?" tanya balik Anya.
"Jaket waktu Lo disiram air sama kakak kelas" jawab Bagas dengan santainya.
"Oh iya.. itu juga gue lupa" ujar Anya sambil melirik kearah Bagas.
"Jadi masih mau jaket gue??" tawar Bagas.
"Eum.. gapapa Bagas ga usah, maaf yah gue selalu pinjem barang ke elo" ungkap Anya sambil mengayunkan kakinya menandakan ia mulai santai berada di sisi Bagas.
"Ya udah terserah Lo!!" jawab Bagas singkat.
"Eum Iyah.." ungkap Anya.
Mereka kemudian terdiam, keduanya mulai nyaman satu sama lain. Anya yang berdiam diri menatap langit yang terhalang oleh pohon-pohon, Bagas yang masih menutup matanya dengan posisi yang sama. Keheningan mulai mendatangi mereka berdua, tapi tidak membuat mereka berdua canggung.
Saat Anya sedang asik memandangi langit, tiba-tiba Bagas menyenderkan kepalanya ke bahu Anya. Hal itu membuat Anya kaget dibuatnya, "Bagas.." ucap Anya sambil menyentuh pundak Bagas dengan satu jarinya.
"Dia tidak merespon. Apa ini anak tidur??" batin Anya.
Anya mencoba membangunkan Bagas tapi ia mengundurkan niatnya, ia membiarkan Bagas tertidur di bahunya. ia kembali menatap langit yang terhalang pepohonan, lalu menengok kearah Bagas, ia mulai mendekati kepala Bagas, ia amati wajah Bagas. "Ni anak kalo lagi tidur jadi double gantengnya" ungkapnya.
"Gue emang ganteng" ucap Bagas tiba-tiba membuat Anya kaget sampai ia otomatis berdiri, membuat kepala bagas hampir jatuh wkwk.
__ADS_1
"Lo ga tidur?" tanya Anya dengan gugup.
"Tidur, tapi gue udah bangun sekarang" jawab Bagas sambil memandangi Anya.
"Oh gitu.. gue balik dulu ke kelas" ungkap Anya dengan gugup. Saat ia mulai melangkah menjauh, tangannya sudah lebih dahulu digapai oleh Bagas membuatnya berhenti bergerak.
Bagas menarik tangan Anya, membuat ia kembali ke posisi duduknya. "Kenapa kabur??" tanya Bagas menggoda.
"Eu..Engga kabur kok" ucap Anya gugup.
Bagas mulai mendekati Anya, kepalanya sedikit demi sedikit mendekati kepala Anya. "Eu..Elo mau apa?" tanya Anya dengan gugup.
Tanpa membalas pertanyaan Anya, kepala Bagas terus mendekati Anya, otomatis membuat Anya mengehentikan gelagat Bagas itu dengan cara menahan wajahnya dengan satu tangannya. "Lo mau ngapain?" tanya Anya gugup.
"Singkirkan dulu tangan Lo dari wajah gue, tangan kecil Lo gabisa nutupin semua wajah gue" ungkap Bagas.
"O.. oh sorry" Seru Anya sambil melepaskan tangannya dari wajah Bagas.
"Ini ada ranting nyangkut di rambut Lo" ungkap Bagas sambil mengambil ranting itu dari rambut Anya.
"Anjir malu banget gue OMG!!" batin Anya.
"Lo berharapnya apa?" tanya Bagas.
"Eu..Engga Gapapa .." jawab Anya terbata-bata.
Bagas mulai menutupkan matanya kembali. "Berarti sekarang gue ga usah merasa bersalah lagi sama itu anak, gue bisa kembali lagi ke diri gue yang dulu. Duh berat banget sekolah disini, gue harap kehidupan gue bisa setenang dulu" batinnya.
Disisi lain Anya berlari sambil berfikir. "Duh gue malu banget!! Itu orang kenapa sih.. Gue kan jadi salah faham.. siapa yang ga salah faham coba tiba-tiba dia berlaku seperti itu." batinnya.
Akhirnya Anya sampai dikelas. ia langsung duduk dengan tatapan kosong kedepan, "Apa jangan-jangan Bagas suka sama gue??" batinnya.
"Woyyy .. lu kenapa??" tanya Azen sambil mengagetkan Anya.
"E Gusti.. Apaan sih Lo!!" ungkap Anya kesal karena diganggu oleh Azen.
"Kenapa lo ngelamun, jangan dibiasakan tidak baik wahai anak muda!!" ungkap Azen meledek Anya.
"Gue ga ngelamun kok" ngeles Anya.
"Lah.. elu mah alasan Mulu" jawab Azen sambil bermain puzzle.
"Berisik lu" sambung friska tiba-tiba sambil menengok kearah Azen.
__ADS_1
"Apaan.." ledek Azen.
Bagas kembali ke kelas dengan raut wajah dinginnya.
"Duh serem banget gue liat itu anak, keinget waktu kemarin" bisik Friska kepada Anya.
Anya juga merasa bahwa ia melihat aura Bagas yang kembali seperti semula. "Itu orang emang bener-bener labil kayaknya. makin dingin aja tatapannya" batinnya.
"Eh Anya, katanya Lo nanti pulang sekolah mau bantu kakak kelas yang waktu itu yah?" tanya Friska berganti topik.
"Iya soalnya kasian mereka kekurangan anggota, mana kerjaannya juga numpuk, semakin banyak orang semakin cepat beresnya kan. Kalian mau bantu??" tanya Anya kepada Azen dan Friska.
"Gue sudah jelas menolak dengan keras!!" jawab Azen.
"Ah elu mah.. kalo Ica??" tanya Anya dengan mata berbinar.
"Hehehe gue gabisa nya, soalnya gue mau jalan sama gebetan baru gue" ngeles Friska.
"Gusti.. baru aja kemarin putusnya sekarang udah ada gebetan baru lagi" ungkap Azen meledek.
"Apaan sih lu" ungkap Friska kesal terhadap Azen.
"Udah udah stop, ya udah gue sendiri aja oke!!" ungkap Anya tiba-tiba supaya Friska dan Azen tidak memulai perkelahian yang gaada ujungnya.
"Oh iya Anya, kakak kelas itu ganteng juga yah, lu sekalian deketin aja gimana?" inisiatif Friska muncul.
"Ga ah buat apa!" ungkap Anya.
"Ya gapapa Lo deketin aja, lumayan kan.. secara kakak kelas itu kan Ketua OSIS, terus ramah, baik, ganteng pula, kalo prestasi jangan ditanyakan lagi. udah perfect deh pokoknya." balas Friska membujuk Anya.
"Haruskah??" tanya Anya mulai terpancing omongan Friska.
"Iyah.. Lo coba aja dulu siapa tau kakak itu suka juga sama Lo, eum.. siapa namanya gue lupa!" ungkap Friska sambil menggaruk rambutnya dengan pulpen.
"Kak Rafli .." jawab Anya.
"Oh iya bener kak Rafli, coba Lo deketin dia yah.." bujuk Friska.
"Iya gimana nanti aja" jawab Anya sambil memikirkan perkataan sahabatnya itu.
Bagas yang seperti biasa mendengarkan percakapan mereka dibuat kesal dengan omongan Friska, sampai-sampai ia harus menahan amarahnya dengan memegang pulpen sekuat tenaga sampai urat-urat ditangannya bermunculan. "Loh kenapa gue jadi kesel? kenapa gue marah?? gue kan seharusnya ga perduli alias bodo amat!! ya udahlah masa bodo mau Anya Deket sama siapapun itu bukan urusan gue." batinnya.
Dan pada akhirnya Bagas ikut membantu kakak OSIS mempersiapkan acara tujuh belasan nanti. "Lah kenapa gue bisa ada disini?" batinnya. Kemudian ia melihat kearah Anya, "Gapapa deh sekalian buang-buang waktu disini, gabut juga dirumah" batinnya.
__ADS_1
~Bersambung~~~
Dasar yah si Bagas ini, masih aja menolak untuk percaya bahwa dirinya mulai memperhatikan Anya, ngeles terus biasanya, ga mau ngaku bahwa dia mulai tertarik sama Anya.