DONDURMA

DONDURMA
Sebuah Bukti


__ADS_3

Sesudah istirahat Anya, Friska, dan Resa pergi menuju lapangan basket, sedangkan Azen berada dikelas bersama Satria. Saat Mereka sampai, ternyata memang benar-benar banyak Cogan disana, hal itu membuat Friska bersemangat. Tiba-tiba dari arah belakang Anya ada Bagas, ia berhenti tepat disebelah Anya. Melihat Bagas yang tiba-tiba muncul membuat Anya kaget seraya berkata. "Lo kok ada disini?" dengan tangan yang menunjuk kearah Bagas.


"Bukan urusan Lo!" balas Bagas dengan dingin.


Friska dan Resa saling lirik-lirikan, dan langsung menarik Anya ketempat duduk yang berada dipinggir lapangan. Mereka bertiga memperhatikan Bagas, bertanya-tanya apa yang ia lakukan. Saat itu, seorang pelatih basket menghampiri Bagas kemudian berbincang dengannya, lalu ia mengajak Bagas ke area lapangan basket.


"Mereka kayaknya saling kenal deh!" ungkap Resa sok tau.


"Iyah bener, soalnya mereka keliatan akrab banget" balas Friska memperhatikan dengan seksama.


"Tuh tuh tuh liat, dia ikutan main basket" ucap Resa sambil menunjuk kearah Bagas.


"Wah kayaknya si Bagas bisa main basket" sambung Friska.


Friska dan Resa asyik mengobrol sambil memperhatikan dan memilih Cogan yang ada di lapangan itu. Sedangkan Anya, pandangannya hanya tertuju kepada Bagas seorang yang sibuk bermain basket. Bagas bermain basket dengan sangat lincah, sampai beberapa kali ia memasukkan bola kedalam ring.


"Gila.. si Bagas jago juga mainnya" ungkap Resa terkagum-kagum.


"Iyah.. kayak atlet profesional deh" sambung Friska.


"Anya liat itu Bagas.." ucap Friska sambil menepuk tangan Anya.


"Iya iya gue liat kok" balas Anya dengan risih.


"Bagas tuh sebenernya cowok yang perfect, sayangnya dia itu dingin banget orangnya, kebangetan malah" ungkap Resa sambil memperhatikan Bagas.


"Iyah bener.. gue yang sebangku sama dia aja jarang banget liat dia senyum, bahkan ketawa pun gue ga pernah liat. Gue cuma pernah liat dia senyum itupun sebentar dan sekilas saat dia lagi teleponan sama orang" seru Friska sambil memakan kue yang ia bawa tadi.


"Siapa??" tanya Resa penasaran.


"Gue ga tau dia siapa, gatau cewe gatau cowo." ungkap Friska.


"Ya kali cowo.. pasti cewe!!" ungkap Resa sok tau.


"Iya mungkin.. gue pengen deh liat Bagas ketawa sekali.. aja" ungkap Friska berharap.


Mendengar Friska dan Resa yang terus membicarakan Bagas, membuat Anya bergumam sendiri. "Gue pernah kok liat Bagas ketawa."


"Apa??" tanya Resa dan Friska bersamaan.


"Gue pernah liat Bagas ketawa" ungkapnya dengan keras.


"Kapan?? dimana??" tanya mereka lagi.


Anya menceritakan semuanya dari awal dia melihat Bagas di lapangan dekat taman sampai kejadian kemarin.

__ADS_1


"OMG Anya.. Lo beruntung banget!!" ungkap Resa terkagum-kagum.


"Serius Lo Anya?? sumpah ga kebayang seorang Bagas bisa kayak gitu." sambung Friska.


"Iyah.. gue juga ga sadar kalo Bagas se jarang itu menunjukkan senyumannya, tapi emang gue pernah liat dia tersenyum bahkan sampai tawa lebarnya gue pernah liat." ungkap Anya.


"Wah.. serius gue iri sama Lo Anya." ungkap Resa dengan mata berbinar.


"Eum.. gue juga pengen liat Bagas ketawa!!" sambungnya lagi.


"Apa jangan-jangan Bagas suka sama Lo Anya??" ungkap Friska curiga.


"Tiba-tiba?? ga mungkin.. gue cuma kebetulan aja waktu itu ngeliat dia lagi sama anak-anak. Bagas itu emang suka sama anak-anak, waktu dirumah gue dia bilang kayak gitu" ungkap Anya sambil mengubah posisi kakinya karena pegal.


"Asli gue pengen banget jadi Lo, bisa liat Bagas senyum, ketawa, terus diperhatiin sama Bagas pula, sampe dipegang pipinya sama Bagas" ucap Resa sambil mengkhayal.


"Mungkin sebenarnya Bagas itu baik dan perhatian, kitanya aja yang belum akrab sama dia, makanya dia kayak gitu" ungkap Anya berfikiran positif.


"Tapi Anya, gue pernah denger dari Satria bahwa Bagas itu emang dingin, ga perhatian juga orangnya. Dia tuh paling menghindari berurusan sama orang, pokoknya tipe orang yang cuek banget." ungkap Friska.


"Jadi gimana??" tanya Resa.


"Bisa jadi Bagas itu suka sama Anya makanya dia itu cuma perhatian sama Anya" balas Friska menduga-duga.


"Bentar- bentar.." ungkap Anya menghentikan imajinasi mereka berdua.


"Lo pernah liat Bagas nolongin orang?" tanya Friska.


"Belum pernah" jawab Anya jujur.


"Mau kita buktikan!! Apakah dia itu emang perhatian sama orang yang sedang kesusahan atau cuma sama Lo aja!" ungkap Friska bersemangat.


"Gue setuju!" sambung Resa.


"heeuh.. Terserah kalian aja" jawab Anya sambil berdiri kemudian meninggalkan lapangan.


"Lo mau kemana??" teriak Friska.


"Ke kelas!!" teriak Anya sambil melambaikan tangan.


"Kita gimana??" tanya Friska kepada Resa.


"Bolos aja.. toh gurunya juga gaada, izin ga masuk katanya." jawab Resa dengan santainya.


"Terbaik emang!!" seru Friska sambil mengacungkan jempol.

__ADS_1


Dikelas sebelum bel pulang berbunyi, Resa dan Friska berencana untuk mencari kebenaran dari seorang Bagas, apakah ia benar-benar cuek atau diam-diam perhatian. Saat itu Bagas sedang tidur sebab ia kelelahan habis bermain basket.


Friska dengan sengaja menumpahkan air minumnya ke baju seragamnya, ia menepuk pundak Bagas sampai ia terbangun. "Kenapa?" tanya Bagas setengah sadar.


"Baju gue basah" ungkap Friska dengan mata berbinar.


"Terus??" tanya Bagas singkat.


"Gue pinjem jaket Lo yah?" ungkap Friska dengan memelas.


Bagas melirik ke dalam tas Friska dan berkata. "Itu jaket, pake aja!" ungkapnya dengan singkat yang langsung melanjutkan tidurnya.


Friska melirik kearah Resa, "Gagal!!" gumamnya.


Akhirnya Resa mengambil tindakan, ia berencana membuat Bagas menolongnya. Saat bel sekolah berbunyi kemudian mereka keluar satu persatu dari kelas, Bagas berjalan tepat saat akan melewati papan tulis, Resa dengan sengaja menubruk kan dirinya dengan keras kepada bahu Bagas, hingga ia sengaja menjatuhkan dirinya dengan keras supaya ada bekas memar di lututnya-saking niatnya Resa sampai mencelakai dirinya sendiri.


"Bagas sorry gue ga sengaja, gue tadi buru-buru dan ga liat ada Lo didepan" ungkap Resa sambil memegang lututnya.


Bagas yang tadinya berdiri pun mulai jongkok, "Akhirnya Bagas menolong gue." batin Resa


Bagas mendekatkan wajahnya ke wajah Resa membuat Resa salah tingkah dan berkata. "Ma...." belum sempat ia lanjutkan omongannya itu, Bagas memotong pembicaraannya seraya berkata. "Awas!!" ungkapnya dengan dingin.


Resa terkejut dengan perkataan Bagas. "Awas kenapa??" tanyanya kebingungan.


"Hp gue Lo dudukin !!" jawab Bagas dingin dengan wajah yang menakutkan.


"Maaf.." ungkap Resa kemudian ia berdiri dan menjauh dari hadapan Bagas.


"Makanya kalo jalan pake mata!" ungkap Bagas menakutkan sambil melangkah maju.


Resa mematung didepan papan tulis sedangkan Friska dan Anya yang sedari tadi memperhatikan dia dari bangku mereka hanya terdiam, bahkan Friska sampai ternganga saking tidak percayanya dengan apa yang dia lihat. Ia pun berbalik badan ke arah Anya seraya berkata, "Anya.. Lo jujur sama gue. perkataan Lo tadi di lapangan, itu semua bohong kan??" ungkap Friska dengan serius bertanya kepada Anya.


"Gue juga bingung dan ga percaya dengan apa yang gue liat barusan sama yang kemarin-kemarin. apakah yang kemarin-kemarin itu hanyalah mimpi" ungkap Anya sambil berfikir.


"Lo yang bener aja.. Bagas yang tadi dengan Bagas yang Lo omongin itu sangatlah beda jauh" ujar Friska.


Resa yang tadinya mematung, ia mulai tersadar dan menghampiri Anya juga Friska. "Gue kapok.. gue ga mau lagi berurusan sama cowok sedingin dia" dengan ekspresi wajah yang ketakutan.


"Gue juga ga mau nyoba-nyoba lagi cari perhatian sama itu orang, yang ada ngebatin gue" sambung Friska.


"Kalo bener yang Lo omongin tadi, berarti fiks Bagas suka sama Lo" ucap Resa kepada Anya dengan ketakutan.


Anya hanya terdiam, dalam pikirannya semua bercampur aduk sehingga membuatnya sakit kepala. "Udahlah bodo amat gue, mau dia dingin mau dia perhatian atau suka sama gue sekalipun, gue bodo amat!!" ungkapnya yang langsung berdiri dan berjalan meninggalkan kelas.


"Anya tunggu!!" seru Friska yang langsung berdiri mengikuti Anya.

__ADS_1


~ Bersambung ~~~


__ADS_2