Dosen Killer Is my Husband

Dosen Killer Is my Husband
Episode 22


__ADS_3

Setelah menyelesaikan sarapannya mereka tidak langsung beranjak dari meja makan. Mereka semua sedang asik makan buah sebagai pencuci mulut.


" Ma, Pa... Hari ini kami akan pindah!" Ucap Arfan kepada orang tuanya dan mertuanya.


" Sekarang? Kenapa cepat sekali? besok lusa saja nak" Jawab Mama Nisa. Bagaimana pun ia belum siap jika harus berpisah dengan Lala, putri kesayangannya.


" Sudah tidak apa-apa, Mereka sudah menikah sekarang dan itu wajar jika mereka ingin tinggal di rumah sendiri. Dan supaya mereka lebih leluasa untuk memberikan kita cucu. Benar begitu?" Ujar Herman sambil mengelus bahu istrinya.


" Yang di katakan Herman Ada benarnya!" Seru Heri.


Lala yang tidak terima jika ia harus tinggal serumah dengan Arfan segera menyela.


" Aku tidak mau jika harus tinggal dengannya, Aku pasti akan sangat merindukan Mama" Lala menghampiri Mamanya dan memeluknya erat dan di balas oleh Nisa.


" Kau sudah menikah Nak, Kau harus ikut dengan suamimu, Pergilah!" Ujar Herman sambil melepaskan pelukan kedua wanita yang di cintainya ini.


" Apa Papa mengusirku?"


" Tentu tidak sayang, Tidak mungkin Papa mengusirmu. Kamu adalah malaikat kecil Papa. Papa sangat menyayangi Lala"


" Lalu kenapa Papa merelakan Lala untuk pergi dari rumah ini"


" Kamu sudah menikah Nak, Sekarang kamu bukan tanggung jawab Papa lagi. Tapi Arfan suamimu". Lala menghela nafasnya kemudian berujar


" Baiklah Lala akan tinggal bersamanya. Tapi bolehkan jika Lala ingin mengunjungi Mama dan Papa?"


" Tentu sayang, Pintu ini selalu terbuka lebar untuk mu!" Kata Nisa.

__ADS_1


" Bersiaplah!" Perintah Herman.


Kemudian Lala dan Arfan segera beranjak dari meja makan dan berjalan menuju kamar Lala untuk membereskan pakaiannya agar bisa secepatnya pindah. Tapi baru beberapa langkah meninggalkan meja makan terdengar suara Mala menghentikan gerak mereka.


" Duduk dulu sayang!" Perintah Mala. Lala san Arfan menurutinya. terlihat di sebelah tangannya terdapat sebuah amplop berukuran sedang. Kemudian memberikannya kepada Arfan.


" Ini hadiah dari kami berempat!". Langsung saja Arfan membuka Amplop yang di berikan Mamanya dan Lala juga penasaran apa isi Amplopnya. dan...


Jreng!!!


" Italia?" Gumam Lala pelan namun masih terdengar di telinga Mala.


" Yah benar, Kalian akan honeymoon ke Italia! Bagaimana kalian suka?"


" Seharusnya kalian tidak perlu memberikan ini kepada kami" Sela Lala.


" B- bukan begitu maksud Lala ma-"


" Sudah-sudah lebih baik kalian siap-siap, Karena jam 10 pagi kita harus segera ke bandara" Ujar Herman menengahi


" Apa? Secepat itu?" Papar Lala.


" Lebih cepat lebih baik agar kami segera memiliki cucu!"


" Tapi Lala masih ingin kuliah Pa!"


" Itu gampang sayang! Sudah cepatlah berberes biar Mama yang bantu!" Ucap Nisa kemudian dia mengajak pasutri itu untuk segera membereskan pakaian mereka di bantu oleh Nisa dan Mala.

__ADS_1


☆☆☆☆☆


Mereka berenam telah sampai di bandara udara Internasional Soekarno Hatta pada pukul 11:35 wib. 20 menit Lagi pesawat Yang di tumpangi Lala dan Arfan akan segera lepas landas.


Mereka tengah asik berpelukan seolah-olah mereka tidak akan bertemu lagi.


" Sudahlah kalian ini mau sampai kapan terus berpelukan seperti ini? Sebentar lagi pesawat mereka akan segera berangkat" Ucap Heri kepada Nisa dan Mala. Terutama pada istrinya yang tidak melepaskan pelukannya kepada menantunya. Padahal kepada anaknya ia hanya sekedar saja.


Dengan berat hari Mala melepaskan pelukannya pada menantunya.


" Baik-baik di sana yah Nak! Jangan sering bertengkar, Makan teratur, tidurnya juga. jangan sering-sering melakukan hubungan suami istri, Paling tidak satu hari 3 kali supaya kami segera memiliki cucu." pesan Mala kepada Lala dan Arfan.


Apa tadi jangan sering-sering melakukan hubungan suami istri? Mungkin ini tidak akan pernah terjadi Ma, Apalagi satu hari 3 kali yang benar saja. batin Lala.


Kemudian mereka berjalan menuju pesawat yang akan membawa mereka terbang menuju Italia. Sesekali Lala menoleh kebelakang sambil melambaikan tangannya kepada orangtua dan mertuanya.


Lala dan Arfan telah duduk di salah satu kursi penumpang di dalam pesawat. 5 menit lagi pesawat mereka akan take off. oleh sebab itu terdengar intruksi dari seorang pramugari untuk segera mematikan alat elektronik seperti ponsel dan memakai sabuk pengaman. Setelah di rasa semua para penumpang telah memasang sabuk pengaman dengan benar.


Perlahan pesawat yang mereka tumpangi berjalan dan terbang meninggalkan Bandara Udara Internasional Soekarno-Hatta.


Perjalanan dari jakarta ke Italia adalah 16 jam 45 menit. Sudah 3 jam berada di dalam pesawat sedari tadi Lala hanya memandang luar jendela. dan tampak kota-kota yang besar dan luas Kini tampak kecil dari atas pesawat.


Tiba-tiba ia merasa bahu sebelah kanannya seperti ketiban benda yang lumayan berat. Dia menoleh ke samping kanannya ternyata kepala Arfan yang sedang tidur di bahunya. Lala mengangkat bahu sebelah kanannya. Upaya untuk menjauhkan kepala Arfan dari bahunya.


Tapi yang ia lakukan percuma karena setiap dia mengangkat bahunya, kepala Arfan akan tetap terjatuh di sana dan tidak berpindah. Bahkan yang empu tidak terbangun. Lala menghela nafas kemudian dia membiarkan suaminya tidur di bahunya. Lama -lama ia ikut tertidur juga karena tadi malam dia tidak bisa tidur hampir jam 3 malam Lala baru bisa tertidur di atas sofa.


Jangan lupa like, vote dan dukung author yaa

__ADS_1


Terima kasih😇🤗


__ADS_2