
Masih Flashback on.
Setelah mengantar Nazifa pulang, Arfan juga segera pulang kerumahnya. Merebahkan tubuhnya di kasur king size nya. Membuka aplikasi Instagram mencoba mencari akun gadisnya, dan dapat namun akun itu sudah tidak aktif sejak 2 tahun lalu.
Arfan mendesah pelan, dia berpikiran, bagaimana mungkin gadis polos seperti Nazifa dapat memikat hatinya. Bahkan Arfan mengumumkan hubungannya kepada semua mahasiswa di kampusnya.
•••••
Keesokan paginya Arfan berangkat pagi untuk menjemput Nazifa di rumahnya. Ia berlari menuruni anak tangga.
" Sayang, jangan lari nanti kamu jatuh!" Tegur Mala melihat putra semata wayangnya berlari dari tangga. Arfan dengan cepat meminum susu yang setiap pagi dibuat untuknya. Ia meminumnya secara terburu-buru.
" Minumnya pelan-pelan sayang nanti kesedak!". Dan benar saja di tengah-tengah ia minum Arfan tersedak, ia terbatuk-batuk.
" Tuh, Mama bilang apa? Tersedak kan!". Ucap Mala sambil memukul-mukul pelan punggung Arfan.
" Kamu mau kemana sih? Buru- buru gitu?"
" Kerumah temen!" Jawab Arfan sambil menyengir kuda.
" Temen atau temen? Biasanya kalau teman lelaki sih santai aja. Ini kenapa buru-buru? Atau jangan-jangan temen perempuan kamu. Aahh, pacar kamu yaa!" Ucap Mala menggoda anaknya.
Sedangkan Arfan hanya tersenyum manis membalas godaan Mamanya.
" Papa mana Ma?" Tanya Arfan seraya menelisik setiap sudut rumah, Barangkali Papanya sedang berjongkok di sudut ruangan.
" Masih di kamar, Lagi berpakaian mungkin!"
" Kalau gitu Arfan berangkat ya Ma!"
" Ehh, Tidak mau sarapan dulu?"
" Nanti telat Ma!" Jawab Arfan. Ia mencium pipi Mala sebelum berangkat ke Kampus.
" Yauda hati-hati!"
" Ok, Sipp. Dah Mamaa" Ucap Arfan sembari melambaikan tangannya ke udara. Dan di balas senyuman manis dari Mala.
•••••
__ADS_1
Kini Arfan tengah berjalan menuju kelas Nazifa. Ia ingin bertanya kenapa Nazifa meninggalkannya dan malah memilih pergi dengan si ******** Bryan.
Setelah sampai di kelas Nazifa, Arfan langsung masuk hingga membuat teman perempuan sebaya Nazifa berteriak histeris karena seorang Arfan masuk ke dalam kelas mereka.
Nazifa yang merasa terganggu karena teriakan teman-temannya menoleh ke arah pintu dan mendapati Arfan yang menatapnya datar.
" Kenapa kau pergi duluan dengan si Bryan itu?" Tanya Arfan sedikit kesal. Tapi Nazifa hanya diam saja dan melanjutkan membaca bukunya.
Arfan merasa dirinya tak terlihat di mata Nazifa. Arfan merampas buku di tangan Nazifa dan menghempaskannya dengan kuat ke lantai.
Tapi Ekspresi Nazifa hanya biasa saja. Tidak ada keterkejutan disana. Karena ia yakin Arfan pasti akan marah kepadanya.
" Kenapa?" tanya Arfan sekali lagi. Dengan Malas Nazifa menjelaskan semuanya.
" Dia datang ke rumah pada saat kami sarapan, aku juga tak mengenal dia, dia meminta izin kepada Daddy untuk pergi berangkat bersama ke kampus. Awalnya aku menolak, namun Daddy meyakinkanku untuk pergi bersamanya, karena pagi tadi Daddy ada Meeting makanya Daddy menyuruhku untuk ikut dengan nya!". Jelas Nazifa. Arfan menghela nafas
" Lain kali kau tidak boleh pergi bersamanya, dia tidak baik untukmu. Kau mengerti?!". Ucap Arfan menegas Nazifa untuk tidak dekat dengan Bryan. Nazifa hanya membalasnya dengan berdehem.
••••••
Selama 3 bulan ini Arfan sudah dekat dengan Nazifa. Rasa cintanya pada Nazifa semakin mengembang. Begitu pula Nazifa ia sudah mulai menerima Arfan sebagai kekasihnya.
Arfan menyalakan mobilnya dan mengemdarainya menuju rumah Nazifa. Setelah sampai Arfan memencet bel beberapa kali.
Ceklek...
Pintu terbuka dan terlihatlah sang pembantu yang membukakan pintu untuk Arfan.
" Den Arfan? Masuk den, Non Vina masih ganti pakaian dikamarnya!" Ucap Pembantu itu yang diketahui namanya Bi Izah. Seluruh orang yang ada di rumah Nazifa sudah mengenal Arfan, Karena ia sering berkunjung ke sini.
" Iya Bi!" Kemudian Bi Izah mempersilahkan Arfan masuk, Arfan duduk di salah satu sofa di ruang tamu.
" Mau minum apa den?" Tawar Bi Izah.
" Terserah Bibi aja"
" Ya sudah tunggu sebentar ya den"
" Iya Bi!". Bi Izah pun pergi ke dapur untuk membuatkan Arfan teh, Bersamaan dengan Bi Izah datang. Nazifa sudah selesai berdandan. Ia tampak cantik dengan Dress selutut berwarna pink soft, rambut indahnya di biarkan terurai, make up natural, dan memakai hels berwarna hitam.
__ADS_1
Arfan terpaku melihat Nazifa, apalagi Nazifa sambil tersenyum berjalan ke arahnya.
Cantiknyaa. Batin Arfan.
" Kenapa kakak liatin aku kaya gitu? ada yang aneh sama penampilan aku?" Tanya Nazifa kepada Arfan yang tengah melamun menatapnya. Namun Arfan masih melamun.
" Kak!" panggil Nazifa.
" KAK ARFAN!". Teriakan Nazifa mampu menyadarkan lamunan Arfan. Sedangkan Bi Izah yang masih di sana hanya terkekeh melihat Arfan yang melamun menatap Nazifa.
" Eh, Iya kenapa sayang?". Nazifa yang di panggil sayang seketika pipinya bersemu merah.
" Kakak yang kenapa lihatin aku seperti itu ada yang aneh sama penampilan aku?"
" Oh tidak, Kamu sangat cantik!" Puji Arfan. Lagi. pipi Nazifa memerah.
" Kita berangkat ya Bi!" Izin Arfan kepada Bi Izah. Arfan dan Nazifa menyalami tangan Bi Izah. Bi Izah sendiri sudah di anggap sebagai ibu oleh Nazifa.
" Iya hati-hati Den, Non!"
" Iya Bi!" Jawab Nazifa.
" Oh iya Daddy mana sayang?" Tanya Arfan kepada Nazifa, karena biasanya setiap Arfan kemari Daddy Nazifa selalu menemaninya.
" Oh Daddy lembur kak, Tapi tadi aku uda bilang kok ke Daddy!". Arfan manggut-manggut. Ia mengambil teh yang masih berada di tangan Bi Izah.
" Arfan minum ya Bi?".
" Oh iya den silahkan!" . Kemudian Arfan menyeruput tehnya hingga tandas. Ia mengembalikan gelasnya kepada Bi Izah. Kemudian tangannya menggenggam tangan Nazifa.
" Assalamulaikum Bi!" Ucap Keduanya.
" Waalaikumsalam, Hati-hati!"
" Iya Bi!" Jawab keduanya kompak lagi.
••••••
Setelah sampai restoran...
__ADS_1