
Buugh
Arfan melayangkan pukulannya ke wajah tampan milik Bryan hingga membuat sudut bibirnya berdarah.
Lala kaget, Ia segera menjauhkan Bryan dari hadapan Arfan. Ia membantu Bryan berdiri dan mendudukannya di bangku taman yang mereka duduki sebelumnya, kemudian ia menghampiri Arfan yang menatap tajam ke Bryan.
" Apa yang kau lakukan? Mengapa kau memukulnya?" Tanya Lala dengan nada sedikit tinggi.
" Kenapa kau membelanya? kau menyukainya?" Arfan balik bertanya.
" Dia teman ku.... Apa salah jika aku membela teman ku?"
" Tapi aku suamimu, kedudukanku lebih tinggi dari seorang teman!" Seru Arfan. Kemudian Arfan menarik tangan Lala dan membawanya masuk kedalam hotel. Ia membiarkan Bryan yang sedang membersihkan sisa darahnya di sudut bibirnya.
Arfan menarik tangan Lala dengan sedikit kasar, Ia mencengkram pergelangan tangan Lala dengan kuat.
" Lepaskan tangan ku ini sakit, aku bisa jalan sendiri!" Gerutu Lala saat mereka sedang di lorong hotel.
" Diam!" Bentak Arfan. Mereka menaiki lift yang memang tidak ada orang lain disana, sehingga hanya Lala dan Arfan yang berada di dalam lift.
Setelah sampai di kamar hotel Arfan segera membuka pintu dan menutupnya dengan kasar. Lala tersentak. Arfan melepas pegangan tangannya di pergelangan tangan Lala, Kemudian dia langsung membuka lemari pakaiannya.
" Kemana semua pakaian-pakaian mu? Kau pindah kamar?" Tanya Arfan kepada Lala yang tengah mengelus-ngelus pergelangan tangannya yang memerah akibat cengkraman Arfan.
Lala diam tak menjawab. Kalau boleh jujur, sebenarnya dia takut melihat Arfan marah. Ia hanya menunduk sambil ngusap-ngusap pergelangan tangannya.
__ADS_1
" Aku bertanya kepadamu, Mengapa kau tidak menjawab? Kau bisu atau tuli!" Bentak Arfan semakin keras. Lala terjingkat, Ia menahan air matanya agar tidak tumpah.
" Tunjukan pada ku dimana letak kamar barumu!". Dengan tangan gemetar, Lala merogoh kantung celananya dan memberikan sebuah card yang isinya tentang penyewaan kamar hotel. Mulai dari hotel nomor berapa? Lantai berapa dan juga biaya penginapan.
Ia memberikannya kepada Arfan. Dengan cepat Arfan mengambil card yang ada di tangan Lala. Ia membacanya sebentar, kemudian Arfan kembali mencengkram Pergelangan tangan Lala yang sama dengan sebelumnya. Lala kembali meringis, Bekas yang tadi masih terasa sakit. Kini di tambah Arfan yang mencengkramnya tak kalah kuat dari sebelumnya.
" Tolong lepaskan tangan ku ini sakit sekali!" Pinta Lala kepada Arfan supaya Arfan mengendurkan sedikit cengkramannya. Namun ternyata sia-sia ia tak mengindahkan ucapan Lala. Lala merunduk sembari menahan sakit. Ia menatap punggung Arfan yang ada di hadapannya.
Bagaimana dia bisa semarah itu melihatku bersama Bryan, padahal kami hanya mengobrol saja bukan melakukan hal yang macam-macam.
Setelah sampai di kamar nomor 473 sewaan Lala, Arfan melepaskan cengkramannya. Ia membuka pintu dengan kasar, Namun ternyata terkunci, berbalik menatap Lala. Kemudian mengadahkan tangannya seperti meminta sesuatu, Lala tidak mengerti maksud Arfan, Lala mengerutkan dahinya.
" Kunci!" Ucap Arfan datar. Lala kembali merogoh saku celananya dan memberikan kunci nya pada Arfan.
Arfan membukanya dan kembali memegang tangan Lala tapi tidak mencengkramnya. Ia mendudukan Lala di bibir ranjang. Ia membuka lemari pakaian Lala namun tak ada isinya.
Arfan menyeret koper Lala dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya menggandeng tangan Lala membawanya keluar dari kamar hotel Lala dan kembali membawa Lala ke kamar mereka.
Bagaimana ini? Aku sudah membayar tagihan hotel masa iya aku tinggalkan. Aku pasti rugi.
Arfan berbalik sebentar menatap wajah Lala yang tengah menunduk.
" Aku akan menggantinya, kau tidak akan rugi!". Lala tercengang, Bagaimana Arfan bisa tau isi pikirannya? Apa dia cenayang?
Arfan tau jika Lala Sudah membayar tagihan hotel. Terlihat di card nya tadi tertera tanda-tangan Lala sebagai bukti penyelesaian biayanya.
__ADS_1
Setelah sampai di kamar mereka. Arfan kembali mendudukan Lala di sofa kamar, Lala hanya diam menuruti perintah suaminya. Arfan membuka lemari pakaiannya ia mengambil kaos polos berwarna putih Kemudian merobeknya.
Arfan beralih ke lemari es, Ia mengeluarkan es batu yang ada di dalam freezer dan meletakkannya di lantai.
Buugh
Dalam satu pukulan es tersebut sudah hancur menjadi beberapa bagian. Lala yang melihatnya tercengang. Sekuat itu tenaganya?
Arfan mengibas-ngibaskan tangannya ke udara. Menahan rasa sakit di buku-buku jarinya, sesekali ia meniupnya.
Arfan mengambil beberapa es batu yang ia pecahkan dengan tangannya sendiri. Kemudian memasukkannya ke dalam kaosnya yang ia robek dan menggulungnya menjadi seperti bola.
Arfan mendekati Lala yang sedang duduk di sofa. Ia memegang tangan kiri Lala yang memerah karena cengkramannya. Arfan mengompres pergelangan tangan Lala dengan perlahan.
Lala sedikit bingung dengan sifat suaminya ini. kadang marah, kadang perhatian, kadang ngeselin dan kadang mesum.
Tetapi Lala sedikit tersentuh dengan perlakuan Arfan ini, walaupun perhatian kecil tapi Lala menyukainya. Sensasi dingin yang mengalir di pergelangan tangannya karena pengaruh dari es batu.
" Kau jangan dekat-dekat dengan orang sini, belum tentu mereka baik kepadamu! seperti si ***** itu, Mungkin saja dia ingin jahat kepadamu. Jadi kuperingatkan kepadamu lagi jangan terlalu dekat dengan orang sini kau paham!" Ucap Arfan menekankan Lala. Lala ingin protes namun ia mengurungkannya ia tidak mau ada keributan lagi disini. Lalu Lala menganggukkan kepalanya dengan cepat.
-
-
-
__ADS_1
Bersambung....