
Lala dan Arfan telah sampai di Roma, Italia. Mereka sedang di bandara Internasional yang ada di Roma Bandara Leonardo da Vinci / Fiumicino. Bandara Fiumicino ini terletak di pinggir pantai sekitar 30km atau 45 menit dari pusat kota Roma.
Setelah keluar bandara Lala dan Arfan memanggil taxi mereka segera naik namun Arfan kurang tau hotel yang dekat dengan kota ini.
" Mi scusi signore posso chiedere?" ( Permisi pak boleh saya bertanya)
" Per favore signore" ( silahkan tuan )
" conosci qualche hotel qui vicino?" ( Apa bapak tau hotel yang dekat dari sini )
" Certo signore" ( tentu saja tuan )
" Puoi portarci lì? ( Bisa antarkan kami kesana)
" Buono" ( Baik ).
Hanya sekitar 30 menit mereka telah sampai di hotel bintang 5 yang ada di kota Roma, Italia. Hotel Trevi Contemporary Suite.
" Già arrivato signore" ( Sudah sampai tuan)
" Bene, grazie" ( Baik, terima kasih).
Setelah membayar ongkos taxi mereka keluar dari mobil. Seketika Lala takjub dengan desain hotel yang elegan dan indah. Ia bahkan menghitungnya ada berapa tingkat lantai di gedung ini. Kurang kerjaan sekali bukan?
" Apa yang kau lakukan? Cepat masuk, apa kau mau ku tinggal disini?" Teriak Arfan memandang Lala yang masih menghitung jumlah tingkat lantai di hotel tersebut.
" Iyaiya cerewet" Ucap Lala. Lalu ia mengejar Arfan yang berada jauh di depannya dengan sedikit berlari. Dan akhirnya dia bisa mengimbangi langkahnya dan langkah Arfan.
Kemudian mereka mendatangi meja resepsionis.
__ADS_1
" Benvenuti, onorevoli colleghi, come posso aiutarvi?" ( Selamat datang tuan dan nyonya ada yang bisa saya bantu ) Ucap Resepsionis itu ramah.
" Voglio prenotare una camera d'albergo!" ( Saya ingin memesan satu kamar hotel )
" Kenapa satu? kau ingin kita sekamar? tapi aku tidak mau!" Bisik Lala di telinga Arfan.
" No signorina, vigliamo prenotare due camere d'albergo" ( Tidak Mbak kami ingin memesan dua kamar hotel ). Ucap Lala membenarkan pada Mbak resepsionis
" Non ascoltarlo. Solo una camera d'albergo" ( Jangan dengarkan dia. Satu kamar hotel saja ).
" Hei jika kau tak mampu membayar dua kamar hotel tidak masalah, aku akan membayar nya sendiri kau fikir aku tidak punya uang?" Lala tetap bersihkeras menolak satu kamar dengan Arfan.
" Due camere sis" ( Dua kamar mbak )
" Non solo uno ( tidak satu saja )
" Uno" ( Satu )
" Uno" ( Satu )
Mereka terus berdebat hingga sang resepsionis bingung yang mana yang benar. Mendadak kepalanya sedikit pusing kala melihat pasangan ini berdebat. Bahkan orang yang berlalu lalang dihotel itu seketika menoleh kepada Lala dan Arfan.
" Mi, onorevoli colleghi, quale è correto, sono confuso. Meglio discutere prima una o due camere d'albergo. E ti prego di non discutere qui!" ( Maaf tuan dan nyonya yang mana yang benar saya bingung. Lebih baik diskusikan dulu. mau satu atau dua kamar hotel. Dan saya mohon jangan berdebat disini ). Ucap sang resepsionis menengahi pasangan yang di depannya ini.
" Solo uno"( Satu saja ) Ucap Arfan cepat takut keduluan Lala. Lala hanya mendengus kesal. Liat saja nanti.
" Questa è la chiave della tua stanza. Numero 207 5 ° piano!" ( Baik ini kunci kamar kalian. Nomor 207 lantai 5 ). Ucap sang resepsionis memberikan kunci kamarnya. Dan menandatangani surat peresmian menempatkan hotel selama 3 hari.
" Grazie" ( terima kasih )
__ADS_1
Dengan cepat Arfan menyeret kopernya menuju kamarnya tanpa memperdulikan Lala yang kesal.
" Oh shit!" Gumamnya. Kemudian menyusul Arfan yang sudah mengilang di makan anak tangga di hotel itu. Ia mencari-cari Arfan namun tak di temukannya. Ia pergi sendiri ke lantai 5 dengan lift lain. Ia berputar-putar mencari kamar no 207. Namun ternyata sedikit sulit ia lelah, letih dan takut. Air matanya menggenang di pelupuk matanya tinggal berkedip maka tumpah.
Tega sekali dia meninggalkanku di negeri orang.
Lala berjongkok. Ia melipat kedua lututnya dan menangis disana. Banyak orang yang lewat menatap Lala heran sekaligus iba. Namun mereka membiarkannya saja.
Di tempat lain Arfan kini sudah berada di kamar hotelnya. Ia menoleh ke belakang dan tak mendapati istrinya. Ia bingung dan cemas. Pikirnya Lala mengikutinya tadi. Tapi bagaimana mungkin ia tidak menyadari pada saat naik lift dia bahkan sudah tidak melihat istrinya.
Arfan mengusap wajahnya kasar. Ia segera meletakkan kopernya di dalam dan menguncinya. Kemudian dia keluar kamar. Arfan naik dan turun tangga dengan berlari. Sudah hampir 15 menit dia mencari istrinya dengan berlari bahkan tanpa sengaja berkali- kali menabrak orang dan meminta maaf. Hotel ini ada hotel bintang 5 luas dan lebar. tidak semudah itu untuk mencari Lala.
Ia terus berlari dengan keringat bercucuran apalagi di Roma sedang musim panas. Walaupun AC di pasang di setiap lorong hotel namun tetap membuatnya berkeringat. Arfan terduduk lemah di salah satu kursi di lorong hotel. Ia memejamkan matanya sebentar kemudian membukanya lagi. Dia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan dan orang-orang yang lewat.
Di ujung sana sekitar 10m dari tempat duduknya ia melihat seorang gadis sedang berjongkok dan disampingnya terdapat sebuah koper. Ia menyipitkan matanya dan dia sangat mengenal gadis itu. ' Lala ' Dan Arfan sangat ingat pakaian apa yang di pakai Lala tadi.
Dia kembali berlari dan tepat berada di depan Lala dia memegang bahu Lala
" La?" Panggil Arfan lirih. Seketika Lala mendongak menatap wajah seseorang yang memanggilnya. Dan ternyata suaminya. Dugaan Arfan benar bahwa itu adalah Lala ia langsung menarik tangan Lala dan memeluknya, disana lah tangis Lala semakin kencang, Arfan mengelus lembut rambut Lala.
" Maaf " Ujar Arfan dengan berbisik. Cukup lama Arfan memeluk Lala. Dan Lala menjauhkan tubuhnya dari tubuh Arfan.
" Mengapa kau tega meninggalkan aku disini hiks?" Lala mengapus kasar air matanya.
Arfan menatap Lala yang tingginya hanya sebatas dagunya dengan pandangan menyesal.
" Aku minta maaf, sungguh!" . Lala hanya mengangguk sembari menghapus air matanya yang terus keluar.
" Baiklah ayo kita kembali ke kamar" Ajak Arfan. Tangan kanannya memegang pergelangan tangan Lala sedangkan tangan kirinya membawa koper istrinya. Dan mereka berjalan menuju kamar mereka.
__ADS_1
Terima kasih telah membaca cerita ini.
Please vote author🙏