DOSEN KILLER ITU CALON SUAMI KU

DOSEN KILLER ITU CALON SUAMI KU
BAB 20


__ADS_3

"Sialan nilai mata kuliah pengkajian puisi ku benar-benar dikasih dinilai E oleh pak Adelio. Benar-benar yah!! Apa maksud dosen muda itu memberikan nilai buruk padaku?" ucap Raja pada salah satu temannya yang bernama Salman.


"Mungkin kamu tidak mengumpulkan tugas-tugas mata kuliah pengkajian puisi. Jadi kamu dapat nilai E, Raja. Kamu coba tanyakan lagi pada pak Adelio. Siapa tahu bisa berubah nilai kamu. Temui pak Adelio dulu jika benar-benar menyulitkan kamu, kamu bisa mengadukan nya pada ketua jurusan," ucap Salman.


"Ada apa sih, kok ribut-ribut?" tanya Caca yang baru datang bersama Celestia. Celestia mulai mengerutkan dahinya menatap ke arah Raja yang terlihat kesal.


"Itu Raja pengkajian puisi nya di kasih nilai E oleh pak Adelio. Padahal kemarin Raja kan sudah menampilkan pembacaan puisi nya dengan baik. Bahkan puisi buah karya Raja benar-benar bagus kok. Aku saja tugas membuat puisinya yang tidak bagus-bagus amat dapat nilai A kok. Tapi kenapa Raja bisa mendapatkan nilai E? Bukannya ini terlalu mengada-ada?" ucap Salman.


"Benar-benar dapat nilai E yah? Apa sih maksud pak Adelio ini?" sahut Caca sambil menatap ke arah Celestia.


"Caca, kamu kenapa menatapku seperti itu sih?" tanya Celestia.


"Sepertinya kamulah yang bisa menolong Raja deh, Tia!" kata Caca.


"Jangan Celestia! Aku biar menghadap pak Adelio terlebih dahulu. Siapa tahu pak Adelio bisa memberikan kesempatan padaku untuk memperbaiki nilai ini. Padahal aku ingin pulang ke kampung loh setelah menerima IP semester ini. Tapi akhirnya jadi tertunda gara-gara mengurus nilai ini lagi nanti supaya tidak jadi mengulang tahun depan," ucap Raja.


"Raja, cepat kamu ke ruangan pak Adelio mumpung beliau ada di ruangannya kok sekarang ini," kata Salman.


"Benar! Cepetan kamu menghadap pak Adelio, Raja!!?" sahut Caca.


"Oke, aku ke ruangan pak Adelio sekarang juga!!" kata Raja seraya melihat ke arah Celestia.


"Semangat, Raja! Kamu pasti bisa!" ucap Celestia akhirnya.


"Cie, cie, cie," sahut Caca dan Salma secara bersamaan. Celestia hanya bisa mencebikkan bibirnya karena teman-teman nya itu menggoda nya.


"Pak Adelio benar-benar melakukan nya. Beliau benar-benar memberikan nilai E pada Raja. Semuanya karena aku yang tidak mau memutuskan hubungan dengan Raja. Habis bagaimana lagi, Raja tidak mau putus dengan ku. Dan Pak Adelio benar-benar membuktikan ucapannya," batin Celestia.


Alasan Pak Adelio memberikan nilai E pada Raja secara jelas hanya diketahui oleh Celestia dan Raja saja. Mereka berdua juga tidak menghendaki nama baik pak Adelio ini menjadi tercemar.


*****


"Pak Adelio, jelaskan pada saya kenapa nilai saya pengkajian puisi mendapatkan nilai E? Bukannya saya sudah mengulang tampil di depan kelas untuk membacakan puisi hasil karya saya? Kenapa bapak bisa-bisa nya memberikan nilai buruk hingga harus mengulang tahun depan. Teman-teman mahasiswa yang lain nilai-nilai bagus-bagus. Kenapa saya mendapatkan nilai terburuk sendiri, pak?" protes Raja yang kini sudah berada di ruangan pak Adelio untuk protes.


"Hem, ada banyak faktor yang membuat saya harus memberikan nilai E pada anda, saudara Raja! Dan itu sangat layak untuk anda??" sahut Pak Adelio tanpa ragu. Raja menyipitkan bola matanya melihat ke arah dosen mudanya itu dengan hormat.


"Satu hal, karena kamu seperti menantang saya," sambung pak Adelio.


"Menantang pak Adelio? Maksudnya apa pak?" sahut Raja. Pak Adelio diam seraya menatap dengan tajam ke arah Raja yang duduk di depannya. Mereka duduk saling berhadapan hanya terhalang meja kerja di ruangan pak Adelio.


"Oh saya tahu? Karena saya sudah berpacaran dengan Celestia dan kami masih saja menjalin hubungan? Saya tegaskan kembali pada pak Adelio yang terhormat!? Tolong masalah pribadi jangan dicampur adukan dengan urusan akademik dan perkuliahan, pak!? Jika pak Adelio mau bersaing dengan saya untuk memperebutkan Celestia, silahkan pak! Tapi tidak dengan begini caranya. Bahkan pak Adelio sudah pernah mengancam Celestia supaya memutuskan saya. Apa ini tidak seperti ke Kanak-kanakan, pak?!" ucap Raja panjang lebar.


"Oke, oke aku acungi jempol argumen kamu serta keberanian kamu untuk tetap berani menentukan langkah tanpa rasa takut dengan ancaman itu. Baiklah, aku akan memberikan nilai itu berubah menjadi nilai A dengan satu syarat," kata Pak Adelio.


"Apa syarat nya pak?" tanya Raja.


"Besok pagi silahkan kamu membuat sepuluh puisi cinta dan masing-masing kamu bacakan di hadapan cewek-cewek. Jadi satu pernyataan puisi itu khusus untuk satu cewek. Dan sepuluh itu harus berbeda-beda tidak boleh satu orang cewek saja. Paham maksud saya kan?" kata Pak Adelio.


"Tidak masalah pak! Daripada pak Adelio menyuruh saya untuk putus dengan Celestia," sahut Raja.


"Kamu benar-benar hebat! Oke, saya tunggu pertunjukan dari kamu besok pagi," ucap pak Adelio dengan senyuman ciri khas nya.


Raja meninggalkan ruangan itu setelah permisi dengan pak Adelio. Raja mulai bersemangat untuk membuat sepuluh puisi yang akan ia baca besok pagi.


"Sepuluh puisi, aku rasa ini cukup mudah bagiku. Cuma sepuluh puisi itu harus aku tujukan pada siapa saja? Hem, bu Anggun dosen muda itu, Dita, Sita, Ratna, Galuh. Hem baiklah siapa saja yang hadir ke kampus besok pagi, aku akan nekat membacakan puisi ku padanya nanti," gumam Raja.

__ADS_1


*****


Setelah Raja menjumpai pak Adelio di ruangan nya, diam-diam Celestia juga ikutan mendatangi pak Adelio. Celestia ingin masalah perkuliahan jangan dicampur adukkan dengan masalah pribadi. Ini sangat merugikan bagi mahasiswa jika sedang tersandung masalah pribadi dengan dosen yang mengajar mata kuliah tertentu.


"Pak Adelio, tolong Raja pak! Jangan seperti itu dong pak! Masalah akademik jangan dicampur adukkan dengan masalah pribadi dong pak. Indeks prestasi Raja menjadi hancur gara-gara salah satu mata kuliahnya mendapatkan nilai buruk. Pak Adelio harus merubah menjadi nilai baik," kata Celestia yang kini rela bela-belain mendatangi pak Adelio ke ruangan nya setelah Raja mendatangi pak Adelio ke ruangannya tanpa mendapatkan hasil apapun. Pak Adelio menyipitkan bola matanya melihat ke arah Celestia.


"Bukannya aku sudah pernah mengatakan pada kamu, Tia! Kamu putus dengan Raja atau Raja akan mendapatkan nilai buruk di mata kuliah pengkajian puisi yang saya ajar," kata Pak Adelio.


"Pak Adelio, jangan begitu dong pak!!" sahut Celestia. Pak Adelio tersenyum menatap lekat Celestia yang mengiba memohon terhadap nya.


"Kenapa? Apakah kamu mulai benar-benar mencintai Raja, pemuda itu kah?" kata Pak Adelio.


"Eh, em itu itu bukan urusan pak Adelio kalau saya menyukai seseorang," ucap Celestia.


"Hahaha atau jangan-jangan sebenarnya kamu menyukai aku tapi malah berpacaran dengan Raja supaya ingin melihat aku cemburu kah? Benar begitu?" tanya pak Adelio.


"Ih, anda benar-benar terlalu banyak menduga-duga saja pak! Itu tidak benar adanya," kata Celestia.


"Hahaha, oke, oke baiklah! Sekarang apa mau kamu?" sahut Pak Adelio.


"Mau saya, pak Adelio memberikan memo pada Raja tentang perubahan nilai pengkajian puisi menjadi A. Anda tidak boleh memberikan nilai E pada Raja yang jelas-jelas adalah salah satu mahasiswa yang cerdas dan memiliki segudang prestasi. Dengan nilai buruk bisa merugikan Raja karena Raja juga mendapatkan beasiswa," kata Celestia.


"Iya, iya aku mengerti! Baiklah, besok aku akan memberikan memo pada Raja untuk mata kuliah pengkajian puisi dengan nilai A," ucap Pak Adelio.


"Hem, sekarang saya mau makan. Apakah kamu mau ikut dengan ku?" sambung pak Adelio.


"Eh, em tidak tidak! Terimakasih pak Adelio! Saya ingin ucapan pak Adelio bisa dipertanggungjawabkan dan dipercaya," kata Celestia. Pak Adelio tersenyum lebar mendengar ucapan Celestia. Namun akhirnya pak Adelio berdiri lalu mulai menyambar tas selempang nya dan kunci mobilnya.


"Ayo kalau mau ikut makan bersama ku! Kamu ingin makan apa, biar aku traktir kamu? Apalagi sekarang lagi tanggal tua bukan, pasti uang bulanan kiriman dari orang tua kamu sudah mulai menipis. Ayo, ikut aku cari makanan kesukaan kamu. Mau iya bakar boleh! Mau bakso beranak atau sate? Ayo aku traktir kamu!?" kata pak Adelio.


"Eh?? Iga bakar pasti sangat enak yah pak?!" gumam Celestia yang membuat pak Adelio tersenyum melihat ekspresi lucu dan ada rasa keinginan juga pada raut wajah Celestia. Namun terlihat malu-malu jika menuruti tawaran dari pak Adelio.


"Eh, em?!?" Celestia akhirnya berjalan menuju ke depan gerbang fakultas. Dia akan menunggu mobil pak Adelio melewati jalan itu. Demi seporsi iga bakar super jumbo Celestia rela menepis rasa malunya.


"Astaga, apakah aku benar-benar menuruti ajakan dari pak Adelio? Ih memalukan sekali! Tapi tidak apa-apa lah, pak Adelio benar-benar tulus mengajakku makan dan mentraktir ku kok!" gumam Celestia sambil melangkah ke depan gapura hingga sampai di depan gapura fakultas itu, Celestia berdiri mematung menunggu pak Adelio tiba.


*****


Pagi hari tiba, di mana beberapa mahasiswa masih dengan urusannya mengambil nilai indeks prestasi nya di kampus oleh dosen wali nya. Ada juga beberapa mahasiswa mengurus masalah lantaran beberapa nilainya tidak keluar alias kosong. Suasana kampus fakultas bahasa dan sastra masih terlihat ramai dengan kehadiran mahasiswa-mahasiswi di beberapa jurusan.


Demikian juga Raja, kini sudah bersiap untuk melaksanakan tugasnya sesuai instruksi dari pak Adelio untuk membacakan sepuluh puisinya pada sepuluh cewek mahasiswi di kampus itu. Semuanya supaya Raja mendapatkan nilai A untuk mata kuliah pengkajian puisi yang di ajar oleh pak Adelio.


Raja mulai melakukan atraksinya membacakan puisi hasil karya-karya nya di depan gapura fakultas bahasa dan sastra. Beberapa mahasiswa berkerumun melihat dan mengabadikan momen tersebut saat Raja membacakan puisi nya dengan menarik salah satu mahasiswi di sana. Setelah selesai membacakan salah satu puisi nya itu kini kembali lagi membaca puisi yang kedua dengan menarik salah satu cewek mahasiswi entah Raja mengenalnya atau tidak.


Hal itu dilakukan oleh Raja sampai sepuluh kali. Sampai akhirnya Raja beristirahat dan duduk di taman kampus jurusan sastra. Celestia memberikan minuman kemasan pada Raja.


"Capek yah?" tanya Celestia.


"Sepuluh puisi, guys! Kalau kamu dulu satu puisi bukan? Dan itu kamu tujukan pada pak Adelio saja," kata Raja.


"Benar-benar pak Adelio ini seperti ingin membuat kita malu yah. Tapi aku pikir, ini adalah tes mental kita saat dikerumuni oleh banyak orang-orang. Ini sesuatu sekali ternyata," ucap Celestia.


"Benar! Apakah kamu tidak merasa cemburu saat aku menarik tangan seorang mahasiswi lalu membacakan puisi itu untuk nya?" kata Raja.


"Tidak sama sekali!?" sahut Celestia sambil memanyunkan bibirnya ke depan. Raja terkekeh melihat nya.

__ADS_1


"Hayo cemburu yah? Cemburu juga tidak apa-apa kok! Aku malah senang kalau kamu cemburu," kata Raja.


"Enggak! Mana ada aku cemburu dengan itu? Karena aku tahu, semuanya kamu lakukan untuk memenuhi tugas dari pak Adelio bukan? Pasti nilai kamu menjadi A," kata Celestia.


"Mudah-mudahan pak Adelio tidak mengingkari janjinya," sahut Raja.


"Ya sudah sana ke ruangan pak Adelio! Kamu harus minta memo untuk revisi nilai kamu. Supaya nanti petugas merubah nilai indeks prestasi kamu itu," kata Celestia.


"Oke, aku akan menghadap pak Adelio dulu yah!? Atau kamu mau ikut dengan ku?" ucap Raja.


"Eh em jangan! Eh maksudnya gak usah! Kamu sendiri saja yang menghadap pak Adelio," kata Celestia.


"Oke aku ke ruangan pak Adelio dulu yah! Kamu tunggu saja di sini! Setelah ini aku akan mengajakmu Jalan-jalan ke kota. Kita nonton film dan makan makanan khas kota ini," ucap Raja.


"Oke, aku akan menunggu kamu di sini," sahut Celestia.


*****


"Bagaimana Raja? Apa kata pak Adelio?! Kamu dapat memo nya kan?" tanya Celestia setelah Raja keluar dari ruangan pak Adelio dan berjalan mendatangi Celestia.


"Ini memo nya! Aku langsung urus ini dulu yah!? Ayo ikut aku!?" ucap Raja seraya menunjukkan kertas kecil pada Celestia. Lalu menarik tangan Celestia untuk diajaknya mengurus kembali nilainya.


"Syukur lah pak Adelio menepati janjinya!? Kalau tidak aku akan meminta perhitungan pada beliau," batin Celestia.


*****


Di kost Celestia saat pagi-pagi hari tiba. Di mana Celestia masih di atas peraduan nya berbaring santai dan malas karena hari ini sudah tidak ada aktivitas perkuliahan.Celestia masih di atas tempat tidur di dalam kamar kost nya bermalas-malasan sambil membalas chat dari Raja.


"Celestia!! Ada seseorang yang mencari kamu diluar!!" teriak Caca pada Celestia yang masih berada di dalam kamar kost nya.


"Siapa!?" tanya Celestia tentu saja dengan berteriak.


"Pak Adelio!?" sahut Caca.


"What?! Ada apa lagi sih dosen muda itu?!" gumam Celestia.


Namun kedua sudut bibir nya tersungging sebuah senyuman. Celestia turun dari tempat tidurnya lalu bergegas keluar menghampiri pak Adelio yang sudah menunggu nya di luar kamar atau di teras depan kost-kostan.


"Pak Adelio!? Kok bapak ke sini sih? Ini masih pagi loh pak?" ucap Celestia setelah keluar menemui pak Adelio.


"Duduklah Celestia! Jangan seperti patung pancoran," kata pak Adelio. Celestia segera duduk menuruti apa kata pak Adelio.


"Sudah sarapan belum?" tanya Pak Adelio.


"Belum!?" jawab Celestia.


"Sudah mandi?" tanya pak Adelio.


"Belum!?" jawab Celestia.


"Astaga! Gadis perawan kok belum mandi sih jam segini," sahut pak Adelio.


"Malas gerak pak!" ucap Celestia beralasan.


"Ya sudah sana mandi cepat! Aku tunggu sampai setengah jam harus selesai mandi dan dandannya," kata pak Adelio.

__ADS_1


"Tapi masih dingin pak!?" sahut Celestia seperti merengek manja.


"Pokok nya aku tidak mau tahu! Sana mandi!" kata pak Adelio tegas. Mau tidak mau Celestia segera bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan masuk ke dalam kamarnya.


__ADS_2