
Diam-diam bunda Jelita mengintip kemesraan antara Adelio dengan Celestia. Bunda Jelita senyum-senyum sendiri. Ingatannya kembali saat masih muda dulu ketika dirinya masih baru saja mengenal lawan jenis dan menyukai nya. Itu sangat indah dan begitu berbunga-bunga rasanya. Jangankan duduk dan jalan bersama, ketika baru saja berjumpa pun rasanya sudah adem seperti minum es krim. Dunia hanya terpaku pada wajah laki-laki yang disukainya. Itulah saat masih remaja. Ketika memasuki masa dewasa, level berpacaran nya pun sudah berbeda. Ini serasa minum obat kimia yang dosis nya setiap waktu bisa bertambah karena tubuh menuntut lebih dari takaran sebelum nya.
⭐⭐⭐⭐⭐
Esok hari di ruangan dosen.
"Di proposal skripsi yang kamu buat, ada beberapa yang kurang lengkap dan kurang tepat. Di sana sudah aku tunjukkan bagian-bagian yang harus kamu lengkapi dan ubah. Silahkan kamu revisi sebelum kamu kembali menyodorkan nya pada aku," ucap bu Anggun panjang lebar sambil menyerahkan proposal skripsi yang sudah ia baca dan berikutnya ada beberapa coretan yang harus dibenahi atau revisi oleh Celestia. Celestia menyipitkan bola matanya melihat bagian-bagian mana saja yang harus ia benahi.
"Tapi, bu Anggun! Bagian-bagian ini saya sudah berkonsultasi dengan pak Adelio dan pak Adelio telah menyetujui nya. Kalau bu Anggun ada waktu dan kesempatan, saya akan menjelaskan alasan kenapa saya mengunakan metodologi penelitian ini dengan pendekatan analisis deskriptif dalam membedah karya sastra berbentuk novel ini," ucap Celestia menjelaskan alasan kenapa ia memilih pendekatan itu.
"Aku tidak mau mendengar lagi, kamu membandingkan tata cara pandang dan ideologi antara saya dengan pak Adelio. Karena masing-masing dari kami memiliki cara pandang sendiri dalam menentukan suatu langkah dan cara dalam menguraikan suatu apresiasi karya sastra," terang bu Anggun ngotot.
__ADS_1
"Astaga, bu Anggun!? Kalau begitu saya juga punya hak untuk memilih cara dan langkah dalam meneliti atau membedah karya sastra ini dengan metode yang saya pilih dong. Asal saya bisa mempertanggungjawabkan tulisan saya secara ilmiah," sahut Celestia.
"Hem, pokoknya aku tidak mau tahu. Proposal kamu itu sudah aku periksa dan di sana ada bagian-bagian yang harus kamu ubah dan perbaiki. Datang lah kembali setelah kamu merevisi nya. Oke? Dan terimakasih, silahkan keluar dari ruangan saya karena aku masih ada urusan lain dan tidak hanya mengurusi satu mahasiswi keras kepala seperti kamu," ucap bu Anggun dengan ketus dan mata yang melebar. Celestia menyipitkan bola matanya. Dirinya saat ini seperti sedang berperang dengan bu Anggun dalam setiap argumen nya. Celestia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Mau tidak mau Celestia harus mengkonsultasikan kembali pada Adelio sebagai dosen pembimbing pertama.
"Haduh gila, bu Anggun ini! Kalau terus menerus seperti ini, bagaimana aku bisa kelar dan merampungkan skripsi ku. Sedangkan pengajuan Proposal skripsi saja masih harus revisi lagi. Belum juga masuk bab di skripsi," gumam Celestia yang kini mulai bergegas menuju tempat parkiran. Dia akan menunggu Adelio ke sana. Apalagi Celestia sudah paham jadwal Adelio kalau sekarang waktu Adelio pulang karena sudah tidak ada jadwal mengajar di kampus itu.
⭐⭐⭐⭐⭐
"Proposal skripsi aku dikembalikan oleh bu Anggun, kak! Aku harus ubah dan revisi sesuai apa yang diminta oleh bu Anggun," cerita Celestia. Pak Adelio menyipitkan bola matanya.
"Ya sudah, jangan terlalu keras kepala. Ikuti saja maunya. Dan kamu tidak usah menghiraukan pendapat ku. Oke?" sahut pak Adelio. Celestia mengerutkan dahinya tidak percaya.
__ADS_1
"Kakak yakin?" tanya Celestia.
"Iya, yang terpenting kelar semua nya. Kamu lulus dan wisuda supaya kita secepatnya menikah. Oke?" kata Adelio seperti mempermudah semuanya.
"Ih kakak!? Selalu saja begitu sekarang!?" sahut Celestia.
"Tidak apa-apa sayang!? Pakai pendekatan apapun itu asal kamu bisa membedah dan menguraikan semuanya dari karya sastra itu, tidak menjadi persoalan. Dalam mengapresiasi karya sastra masing-masing orang akan berbeda-beda analisis nya. Sekarang, ikuti saja kemauan bu Anggun. Dan aku ikut saja dan tidak mau mempersulit kamu, sayang!? Bagaimana, enak bukan?" ucap Adelio.
Celestia menatap lekat tunangan nya atau calon suaminya itu. Adelio tersenyum lebar mendapati wajah Celestia yang menggemaskan dan imut.
"Sini aku cium sini biar semangat!?" sambung Adelio. Celestia menjulurkan lidahnya ke arah Adelio. Adelio terkekeh dengan tanggapan Celestia seperti itu.
__ADS_1
"Kita makan yah!? Kamu pasti belum makan kan? Kita cari rujak cingur kesukaan kamu yah!? Nanti kalau kamu jadi kurus lantaran gara-gara menyusun skripsi, aku bisa kena marah bapak ibu kamu," ucap Adelio sambil menjalankan mobilnya pelan-pelan.