
"Ayo, kita pergi?!" kata pak Adelio.
"Kemana pak?" tanya Celestia dengan mengerutkan dahinya.
"Ke kampung halaman kamu!? Aku akan mengantarkan kamu pulang ke kampung serta sekaligus aku akan melamar kamu. Aku ingin bertemu langsung dengan kedua orang tua kamu," kata pak Adelio.
"Hah?? Kenapa mendadak begini pak? Bahkan saya belum persiapan mengemasi barang-barang saya untuk pulang ke kampung," sahut Celestia.
"Bawa pakaian seperlunya saja! Tidak perlu banyak-banyak pakaian yang dibawa. Bukannya kamu di rumah kampung masih ada pakaian ganti? Atau nanti di jalan aku akan membelikan banyak pakaian untuk kamu," kata pak Adelio.
"Pak Adelio!? Anda benar-benar serius ingin melamar saya?" sahut Celestia.
"Iya! Bunda bahkan sudah sangat setuju jika aku secepatnya menikahi kamu," kata pak Adelio.
"Pak Adelio!?" gumam Celestia benar-benar bingung dan terbengong.
Pak Adelio segera kembali mendorong punggung Celestia supaya kembali masuk ke dalam kamar kost nya. Celestia langsung saja mengemasi beberapa pakaian nya ke dalam tasnya. Celestia sangat bahagia karena akan pulang dan ketemu serta berkumpul dengan ayah ibu nya atau keluarga nya.
"Ibu,ayah, Tia pulang!!?" gumam Celestia.
Sementara itu di luar Pak Adelio masih menunggu Celestia yang masih mempersiapkan segala sesuatu nya untuk pulang kampung.
"Aku sudah siap pak!?" ucap Celestia pada Pak Adelio. Pak Adelio menyipit matanya melihat Celestia lalu pandangannya beralih pada tas yang akan dibawa oleh Celestia.
"Hem, kamu mau pindahan? Memangnya kamu tidak ingin kembali lagi ke kost kamu lagi?" ucap Pak Adelio.
"Eh em, balik dong pak!? Kalau tidak balik bagaimana dengan kuliah saya?" sahut Celestia.
"Ya sudah! Tapi kamu jangan memanggilku dengan pak dong! Nanti kalau ibu dan ayah kamu mendengar kan kurang enak. Kesan nya kita kurang dekat dan kurang akrab. Panggil aku kakak atau abang atau mas biar lebih terdengar mesra gitu," kata pak Adelio.
"Mas?? Abang?? Kakak? Hehehe astaga pak Adelio!? Jangan aneh-aneh dong!?" sahut Celestia.
"Ayo panggil aku!" perintah pak Adelio. Celestia menyipitkan bola matanya.
"Eh, em kak Adelio!?" gumam Celestia.
"Hehehe nah begitu kan terdengar manis!" sahut pak Adelio.
__ADS_1
"Ya sudah, ayo kita ke rumah ku dulu, pamitan pada bunda yah!?" ajak Pak Adelio.
*****
Di rumah pak Adelio, mereka langsung berpamitan dengan bunda Jelita.
"Bunda sebenarnya ingin ikut juga ke kampung Celestia. Bunda ingin berkenalan dengan ibu dan ayah kamu, Tia! Tapi karena bunda sudah tidak kuat jika perjalanan jauh, maka bunda terpaksa tetap tinggal di rumah saja," kata bunda Jelita.
"Tidak apa-apa bunda!" sahut Celestia.
"Ya sudah, sebelum kalian berangkat, ayo kita makan bersama terlebih dahulu," kata bunda Jelita.
"Ayo, Tia! Kita makan dulu. Jangan sampai kamu nanti mabok darat," ucap Pak Adelio penuh perhatian.
"Iya, kak Adelio!" sahut Celestia. Pak Adelio terlihat tersenyum lebar saat mendengar Celestia memanggilnya dengan kakak. Betapa itu terdengar sangat manis.
"Ini sayur bayam nya. Supaya lebih sehat kamu, Tia. Jangan kurus seperti itu. Benar kan bunda?" kata pak Adelio.
"Benar! Ayo Tia, ini sayur bayam nya harus kamu makan yah," sahut bunda Jelita.
"Baik bunda! Ini saya makan bayam nya juga kok. Kak Adelio juga jangan lupa dimakan tuh sayur nya," kata Celestia tidak mau kalah memberikan perhatian pada pak Adelio. Pak Adelio semakin merasakan bahagia mendapatkan perhatian seperti itu. Bunda Jelita yang melihat putra nya seperti benar-benar menyayangi Celestia merasa sangat senang.
*****
"Caca, di mana Celestia!?" tanya Raja kepada Caca yang masih berada di kost Celestia selang satu jam kepergian Celestia bersama dengan Pak Adelio.
"Celestia pulang kampung, Raja!? Memang nya kamu tidak diberitahu?" kata Caca.
"Tidak tuh!?" sahut Raja.
"Ya sudah, mungkin saja Celestia buru-buru. Kamu lebih baik hubungi Celestia saja," kata Caca.
"Baiklah aku akan menelpon Celestia. Aku juga besok juga mau pulang kampung kok," ucap Raja.
"Oh, begitu yah!! Aku besok juga akan pulang ke rumah hehehe. Urusan di kampus sudah kelar semuanya kok," kata Caca.
"Halo, Celestia!? Kamu dimana?" tanya Raja saat dia menghubungi Celestia dan diangkatnya panggilannya. Sedangkan nun jauh di sana, Celestia menerima panggilan telepon dari Raja bersembunyi di dalam toilet di rumah Pak Adelio. Karena mereka masih belum berangkat.
__ADS_1
"Aku perjalanan pulang kampung, Raja!? Maaf tadi aku buru-buru banget perginya," kata Celestia melalui sambungan di handphone nya.
"Iya, tidak apa-apa! Aku juga mau memberi kabar terhadap kamu, kalau aku juga akan pulang ke kampung. Kamu ke Solo sedangkan aku ke Semarang. Seharusnya kita tadi pulang bareng loh. Kamu nya seperti nya sudah tidak sabaran yah ingin ketemu ibu dan ayahmu," ucap Raja.
"Benar Raja! Maaf yah, aku duluan!" sahut Celestia.
"Tidak apa-apa! Nanti aku nyusul kamu ke Solo yah!? Aku ingin ketemu ibu dan ayah kamu juga di kampung. Boleh dong calon mantu berkenalan?" kata Raja.
"Eh?!" Celestia benar-benar terkejut dengan ucapan Raja.
"Haduh, bagaimana ini? Jika Raja tahu kalau aku pulang ke Solo bersama dengan pak Adelio. Aku sudah wanti-wanti sama Caca supaya tidak menceritakan hal ini dulu. Aku takut jika Raja tahu. Bagaimana ini? Pak Adelio benar-benar ingin melamar ku dan ingin bertunangan dulu dengan ku," batin Celestia di seberang sana.
"Celestia!? Halo!? Halo?! Kamu masih di sana bukan?" kata Raja melalui sambungan handphone nya.
"Iya, Raja! Oh iya Raja, sudah dulu yah. Aku tutup dulu telepon nya," sahut Celestia.
"Oke, baiklah! Hati-hati di jalan yah, Celestia!?" kata Raja akhirnya.
"Iya, kamu juga yah!?" sahut Celestia. Caca menyimak obrolan Raja dengan Celestia melalui sambungan handphone nya.
"Celestia sudah perjalanan ke Solo, Caca! Kalau begitu aku juga akan siap-siap untuk pulang kampung juga. Mungkin nanti aku akan ke rumah Celestia di Solo. Aku ingin berkenalan dengan ibu dan ayahnya," kata Raja seraya tersenyum lebar.
"Hah? Kamu yakin akan ke Solo?" sahut Caca.
"Kenapa tidak? Solo Semarang itu dekat. Mungkin satu jam bisa aku tempuh dengan naik motor. Atau nanti jika bapak kasih ijin membawa mobil ke Solo, semakin cepat. Apalagi sekarang sudah ada tol yang menghubungkan ke kota Solo," jelas Raja.
"Iya deh!? Kamu yang semangat yah Raja! Untuk memperjuangkan seseorang yang kamu cintai memang perlu usaha yang keras," ucap Caca.
"Tentu dong! Apalagi kamu tahu sendiri bukan? Saingan ku adalah pak Adelio," kata Raja.
"Iya, benar! Dan Celestia harus bersikap tegas. Harus memilih kamu atau pak Adelio," sahut Caca.
"Loh, Celestia masih pacarku, Ca! Bukannya itu sudah sangat jelas, kalau Celestia sudah memilih ku?" kata Raja dengan bangganya.
"Eh, em?" Caca bengong dan diam seribu bahasa.
"Doakan aku yah, Ca! Aku benar-benar sudah serius dengan Celestia. Walaupun aku dan Celestia saat ini masih berpacaran. Karena akulah yang memaksa Celestia supaya menerima ku sebagai pacarnya," jelas Raja.
__ADS_1
"Iya, Celestia sudah menceritakan hal itu. Pokoknya yang terpenting kamu dan Celestia bahagia yah, aku ikut senang. Siapapun yang dipilih oleh Celestia, aku ikut mendukung nya," ucap Caca.