
"Celestia!? Sekarang kamu harus memilih! Aku Raja atau pak Adelio untuk menjadi kekasih kamu," ucap Raja. Celestia tentu saja bingung. Dirinya sangat takut membuat salah satu di antara mereka akan kecewa jika tidak ia pilih. Celestia masih diam dan menatap Raja dan Adelio secara bergantian.
"Celestia, sayang!? Ayo kamu harus putuskan, mana yang kamu pilih. Aku atau Raja. Kamu jangan takut. Kami sudah cukup siap menerima semua yang akan kamu pilih," kata Adelio ikut berkata.
Di dalam diam-diam pak Hendra dan bu Linda mengintip dari dalam rumah. Mereka berdua tidak menyangka jika putri tunggal mereka akan direbutkan oleh pemuda yang sama-sama memiliki paras yang tampan.
"Pak, ibu khawatir kalau nak Adelio dan nak Raja itu akan berkelahi memperebutkan Celestia," kata bu Linda.
"Jangan khawatir! Mereka tidak mungkin berkelahi seperti anak kecil. Mereka cukup dewasa dalam menyelesaikan masalah. Sekarang kita lihat saja siapa yang akan dipilih oleh putri kita ini," ucap pak Hendra.
"Ibu secara pribadi sih, menyukai nak Adelio. Dia terlihat dewasa dan mapan. Sepertinya nak Adelio ini bisa momong dan ngayomi Celestia yang terkadang sangat manja. Bagaimana dengan bapak?" kata bu Linda.
"Kalau bapak, terserah Celestia saja. Siapa yang menurut nya nyaman dan membuat hatinya jatuh hati, bapak selalu merestui dan menghargai keputusan Celestia," ucap pak Hendra.
"Itu pak! Celestia seperti nya sudah mau memilih di antara nak Adelio atau nak Raja," sahut bu Linda.
Adelio dan Raja diam. Keduanya harap-harap cemas menunggu siapa yang akan dipilih oleh Celestia. Sedangkan Celestia sendiri masih bengong dan melihat Adelio dan Raja secara bergantian.
"Celestia!!" panggil Adelio yang sukses membuat Celestia terkejut karena sejak tadi diam dan belum memutuskan pilihannya.
__ADS_1
"Raja, sebenarnya aku dengan pak Adelio sebentar lagi akan bertunangan. Sedangkan dari kemarin-kemarin aku minta putus dengan kamu, kamu tetap saja tidak mau. Sekarang pak Adelio sudah di sini dan melamar aku. Orang tua ku pun juga sudah setuju jika aku akan bertunangan lebih dahulu dengan pak Adelio. Namun jujur saja! Aku sangat takut jika kamu kecewa, sedih dan sakit hati jika aku mengatakan kebenaran ini," ucap Celestia panjang lebar.
"Jadi, apakah itu artinya kamu lebih memilih pak Adelio? Tapi kenapa? Apakah kamu dipaksa atau ditekan olehnya? Kamu takut jika mata kuliah yang diajar oleh nya mendapatkan nilai buruk? Bukankah kita sudah yudisium? Jadi urusan kita sudah selesai di semester ini, bukan? Yah, Walaupun nanti kita bisa saja bertemu dengan dosen aneh ini di mata kuliah bidang sastra yang lain," kata Raja. Pak Adelio terkekeh.
"Jangan khawatir! Aku tidak akan lagi mencampur adukkan masalah pribadi dengan urusan perkuliahan atau akademik," sahut pak Adelio.
"Tuh dengar Celestia!! Pak Adelio tidak akan memberikan nilai buruk lagi jika kamu tetap memilih aku. Kamu jangan takut!" ucap Raja.
"Tidak, Raja!? Maaf, aku tetap akan memilih pak Adelio," kata Celestia.
"Apa alasannya, Celestia!? Kenapa kamu memilih pak Adelio?" sahut Raja.
"Benar! Katakan Celestia! Kenapa kamu memilih aku? Maaf, terlepas sebelumnya aku sering memaksakan diri. Sekarang aku tidak ingin memaksa lagi. Sekarang keputusan aku serahkan sepenuhnya pada kamu, Celestia," kata Pak Adelio.
"Yes!?" ucap bu Linda yang cukup keras. Suara keras bu Linda dari dalam rumah membuat Raja, Adelio dan Celestia saling berpandangan. Bu Linda jadi meringis lalu ditarik lengannya oleh pak Hendra supaya meninggalkan tempat itu karena sudah ketahuan mengintip pembicaraan mereka.
"Ih ibu ini!? Kenapa suaranya keras seperti tadi sih? Kita jadi tidak enak dengan nak Raja yang merasa tidak didukung oleh ibu," kata pak Hendra.
"Habis, ibu lebih setuju jika Celestia memilih nak Adelio dan bertunangan dengan nya," sahut bu Linda.
__ADS_1
"Hem, iya sih!? Jujur bapak juga lebih memihak nak Adelio dari pada nak Raja," kata pak Hendra.
"Tuh, kan bapak pun juga sepemikiran dengan ibu kan?" sahut bu Linda sambil tersenyum lebar.
*****
Setelah Celestia memilih Adelio, Raja undur diri dan pamit pulang dari rumah Celestia. Kini Celestia dan Adelio mulai mengobral berdua.
"Baiklah, saya mau bertunangan dengan kakak dengan syarat," kata Celestia. Pak Adelio menyipitkan bola matanya.
"Syarat? Oke, katakanlah apa itu syarat nya?" ucap pak Adelio.
"Syarat nya acara pertunangan kita bersifat tertutup. Para dosen, mahasiswa-mahasiswa fakultas jangan mengetahui kalau kita sudah bertunangan. Rahasia ini harus kita rahasiakan sampai saya lulus dan diwisuda. Setelah saya meninggalkan kampus itu dengan gelar sarjana, kakak boleh menikahi aku. Jadi kita bisa melaksanakan pesta pernikahan," ucap Celestia panjang lebar.
"Hem, jadi aku tidak boleh membuat acara pertunangan di kota nanti? Kita hanya mengadakan acara pertunangan di sini saja? Bagaimana dengan bunda?" sahut pak Adelio.
"Boleh saja, asal jangan mengundang teman-teman kakak yang menjadi dosen di fakultas dan jurusan di perguruan tinggi tempat kita beraktivitas di sana," kata Celestia. Pak Adelio menyipitkan bola matanya.
"Astaga!? Padahal pertunangan kita itu salah satu kabar gembira. Kenapa harus dirahasiakan sih?" sahut pak Adelio.
__ADS_1
"Ya sudah kalau kak Adelio merasa keberatan lebih baik kita tidak jadi bertunangan," ucap Celestia.
"Eh, Jangan!? Oke, oke aku setuju!?" sahut pak Adelio.