
"Alhamdulillah, kalian akhirnya menjadi pasangan yang halal! Bunda sangat bahagia," ucap bunda Jelita tanpa sadar buliran air matanya menetes di pipi nya.
Pak Hendra dan bu Linda pun sangat terharu melihat putri nya telah menikah setelah diwisuda dengan gelar sarjana pendidikan.
"Kenapa menangis bu?" tanya pak Hendra, bapak kandung dari Celestia.
"Kenapa menangis? Tentu saja ibu sangat sedih, pak! Dari kecil Celestia kita rawat, kita besarkan. Lalu kita sekolah kan. Saat sudah besar dan sudah bisa bekerja, ini malah diambil orang. hiks hiks hiks. Padahal ibu belum nyicip duit dari keringat Celestia loh pak," ucap Bu Linda pelan. Pak Hendra terkekeh mendengar ucapan yang bersifat keluhan dan penyesalan itu.
"Bu, seharusnya kita jangan berhitung seperti itu bu. Ini sudah tugas kita sebagai orang tua. Anak adalah titipan dari Alloh, bu. Kita sebagai orang tua hanyalah pengantar dan jembatan bagi anak kita supaya sukses. Sukses itu sendiri sangat luas bu. Sukses berkarier, sukses menjadi istri, sukses menjadi ibu rumah tangga. Ibu harus bersyukur dong. Celestia mendapatkan suami yang menyayangi Celestia dengan tulus. Selain sayang, nak Adelio pun kita lihat sangat bertanggungjawab dan tekun bekerja. Aku yakin kalau Celestia bisa bahagia menjadi istri dari nak Adelio," urai pak Hendra.
"Tapi pak! Coba saja Celestia tidak buru- buru menikah dulu dengan nak Adelio. Minimal satu atau dua tahun bekerja terlebih dahulu. Ibu dan juga bapak sedikit merasakan penghasilan Celestia saat bekerja," kata bu Linda.
"Hus ibu ini! Jangan berpikiran seperti itu! Itu tidak boleh! Lagipula bapak masih sehat dan mampu loh bu, memberikan semua yang ibu minta. Ibu mau apa, hayo bapak akan kabulkan. Mau adik lagi? Hayo!" ucap pak Hendra ngelantur. Sukses ucapan pak Hendra mendapat cubitan dari bu Linda.
__ADS_1
"Sudah tua ini loh pak, malu kalau punya anak lagi. Kita berdoa saja supaya Celestia cepat tek dung alias hamidun," kata bu Linda.
"Aamin! Nah ini yang harus kita doakan supaya mereka secepatnya mendapatkan momongan," sahut pak Hendra seraya tersenyum simpul.
Bu Linda dan pak Hendra menatap pasangan pengantin itu dengan tersenyum lebar. Pasangan pengantin baru itu terlihat bahagia. Aura cerah wajah mereka tidak berhenti melemparkan senyumannya pada tamu undangan yang memberikan selamat dan mendoakan mereka. Celestia terlihat sangat cantik dan bercahaya sehingga Adelio tidak berhenti menatap Celestia yang sungguh mempesona.
"Sudah gak sabar rasanya masuk kamar. Kapan sih, acaranya selesai? Tamu nya masih banyak yang berdatangan," bisik Adelio pada Celestia istrinya itu.
"Astaghfirullah, istriku! Sejak kapan kamu jadi mata duitan sih?" sahut Adelio sambil menarik hidung Celestia. Celestia menjulurkan lidahnya ke arah suaminya sambil meringis.
"Sebenarnya, aku takut kak saat malam pertama. Apakah sakit yah, kak?" bisik Celestia.
"Eh, siapa bilang sakit sayang? Sekali coba pasti bakal ketagihan. Percaya sama kakak deh," kata Adelio sambil menggenggam tangan Celestia. Rasanya Celestia menjadi hangat saat kedua tangan mereka saling bertautan.
__ADS_1
"I love you, Celestia!" bisik Adelio.
"Heem, aku tresno juga ma kakak," sahut Celestia semakin mempererat tautan tangan mereka. Adelio mencium punggung tangan itu hingga moment itu diabadikan oleh tim fotografer wedding organizer.
T
A
M
A
T
__ADS_1