DOSEN KILLER ITU CALON SUAMI KU

DOSEN KILLER ITU CALON SUAMI KU
BAB 22


__ADS_3

"Sebentar lagi kita sampai ke kota kelahiran kamu, Tia!?" ucap Pak Adelio.


"Benar pak! Rasanya begitu damai kalau sudah pulang kampung sendiri. Bisa bertemu orang tua, teman-teman sewaktu sekolah dulu, juga sahabat dekat saya saat masih kecil," kata Celestia.


"Bisa bertemu mantan juga kan?" sahut pak Adelio.


"Tidak punya mantan, pak! Saya tidak pernah dekat dengan pria manapun. Mungkin pak Adelio lah laki-laki yang pertama dekat dengan saya," kata Celestia.


"Bagaimana dengan Raja?" sahut pak Adelio.


"Iya, Raja juga seperti bapak, terlalu dekat dengan saya," ucap Celestia.


"Hem, akhirnya aku pemenangnya bukan? Karena aku akan menjadikan kamu calon istriku," sahut pak Adelio.


Sukses membuat Celestia terkejut. Kembali dirinya diingatkan oleh pak Adelio, soal ini. Dirinya akan dilamar oleh pak Adelio. Bahkan sebentar lagi Celestia akan menjadi tunangan pak Adelio jika Celestia belum mau menikah secepatnya.


"Pak Adelio!? Apakah pak Adelio sungguh-sungguh akan melamar saya dan mengajak saya bertunangan?" kembali Celestia bertanya.


"Iya, aku tidak pernah bermain-main dalam urusan seperti ini, Tia. Aku sudah cukup umur untuk melepaskan masa lajang. Jika kamu siap, aku bisa langsung menikahi kamu. Tapi karena kamu masih ingin kuliah, baiklah aku akan menunggu kamu sampai kamu wisuda," urai pak Adelio.


"Tapi bagaimana dengan Raja, pak!? Raja masih menganggap saya sebagai pacar nya," kata Celestia.


"Kamu harus memutuskan dan memilih diantara kami. Tapi aku harap, kamu memilih ku sebagai pendamping hidupmu. Bila perlu kamu renungkan isi hati dan perasaan mu. Sebenarnya kamu itu menyukai siapa?" sahut pak Adelio.


"Ini terlalu cepat saya memutuskan untuk menerima pertunangan dari pak Adelio," ucap Celestia.


"Hehe, kamu pasti tahu betul. Sebenarnya siapa yang benar-benar kamu cintai dan harapkan menjadi suami kamu, aku atau Raja. Terlepas aku juga memaksa kamu. Bukannya Raja juga demikian, memaksa kamu supaya kamu mau menerimanya sebagai pacar nya?" kata pak Adelio.


Mereka masih di dalam mobil. Pak Adelio menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Celestia merasakan enjoy dan nyaman ketika bersama dengan pak Adelio.

__ADS_1


"Sebentar lagi kita masuk ke kampung saya, pak!?" ucap Celestia.


"Oh iya? Kalau begitu kita cari oleh-oleh dulu buat orang tua dan keluarga kamu. Kita singgah dulu ke rumah makan yah, Tia!? Kita makan dulu sebentar sekalian istirahat," kata pak Adelio.


"Baik kakak Adelio!?" sahut Celestia.


"Hehe nah itu terdengar sangat manis. Dari tadi kamu memanggilku dengan pak pak pak saja," protes pak Adelio.


"Hehehe, panggilan pak bukan karena kakak sudah tua. Melainkan sebagai penghormatan juga," sahut Celestia.


"Benar! Tapi mulai sekarang supaya lebih akrab kamu harus terus memanggilku dengan kakak," kata pak Adelio.


"Termasuk pada saat kuliah?" sahut Celestia.


"Lakukan saja kalau kamu berani?!" ucap pak Adelio. Celestia hanya tersenyum lebar seraya menatap pak Adelio yang masih menyetir dengan pelan.


*****


"Celestia, siapa pria itu? Kamu jauh-jauh di kuliah kan di kota, pulang-pulang bawa laki-laki asing. Ibu malu loh, nduk jika ditanya oleh tetangga," ucap Ibu Celestia sebut saja ibu Linda.


"Dia dia kak Adelio, pak bu!? Lebih baik bapak dan ibu langsung menemuinya saja yah!? Supaya ibu dan bapak mengetahui maksud kedatangan nya ke rumah kita," kata Celestia.


"Walah, Jangan-jangan itu calon kamu yah, Tia!? Atau jangan-jangan kamu sudah dihamili oleh laki-laki itu yah, Tia!? Hayo katakan!?" desak ibu Celestia atau bu Linda.


"Astaghfirullah, ibu!? Kira-kira dong curiga nya? Masak aku hamil sih? Menikah saja belum loh," sahut Celestia.


"Siapa tahu saja, Tia! Kamu kan jauh dari kami. Sehingga kami tidak bisa memantau kamu. Pergaulan di kota besar kadang bikin iman seseorang menjadi goyah. Tapi kamu yakin kan, Tia?! Kalau kamu tidak sedang berbadan dua?" kata ibu Linda ibu nya Celestia.


"Tidak, ibu!? Ya sudah ibu bapak, ayo aku kenalkan pada kak Adelio," ucap Celestia. Bu Linda dan pak Hendra jadi saling berpandangan.

__ADS_1


"Ayolah, bu!? Kita jumpai tamu kita. Siapa tahu kita akan segera mendapatkan menantu dan laki-laki itu akan melamar anak kita," ucap pak Hendra.


"Kuliah belum selesai kok, mau menikah. Gimana sih bapak ini," sahut bu Linda.


"Setelah menikah kan masih bisa kuliah bu!?" ucap pak Hendra.


"Iya, ya!? Ayo kalau begitu. Tia, kamu buatkan kopi untuk teman kamu itu," kata bu Linda.


"Baik, bu!?" sahut Celestia.


*****


"Kedatangan saya kemari untuk mengantar Celestia pulang ke kampung sekaligus saya ingin melamar bapak ibu. Istilahnya saya meminta ijin terlebih dahulu pada bapak ibu jika Celestia akan saya pinang atau lamar. Jika berkenan saya meminta ijin untuk bertunangan dengan Celestia," kata pak Adelio.


"Kalau kami terserah Tia!? Jika Celestia sudah setuju ingin bertunangan dengan nak Adelio, kami sebagai orang tua nya tidak akan melarang atau menunda-nunda jika Celestia telah memilih jodohnya," kata bapak Celestia sebut saja pak Hendra.


"Ini kopi nya pak, kak, bu!? Ini bolu oleh-oleh dari kak Adelio, pak bu!?" ucap Celestia sambil meletakkan tiga cangkir kopi ditemani sepiring bolu yang sudah ia potong-potong. Sesaat pembicaraan antara bapak ibu dan pak Adelio terhenti karena Celestia keluar mendatangi mereka.


"Duduklah, Tia!" perintah ibu Linda.


"Baik, bu!?" sahut Celestia.


"Bagaimana dengan kamu, Tia!? Nak Adelio ini mau melamar kamu, Tia! Apakah kamu sudah siap jika menikah? Tapi jika belum siap, nak Adelio akan mengajak kamu bertunangan terlebih dahulu," terang pak Hendra.


"Saya belum ingin menikah pak bu? Kalau untuk bertunangan bisa Tia pertimbangkan," kata Celestia.


"Jadi kamu setuju kalau bertunangan terlebih dahulu dengan nak Adelio?" tanya bu Linda. Celestia tertunduk malu. Lalu mulai mengangguk kan kepala nya pelan. Pak Adelio yang melihat Celestia menganggukkan kepalanya tanda setuju tersenyum lebar dan merasa lega.


"Alhamdulillah," sahut pak Adelio spontan. Tentu saja didengar oleh bapak, ibu Celestia. Bapak ibu Celestia saling pandang lalu tersenyum lebar.

__ADS_1


"Ya sudah, lusa kita buat acara tunangan di rumah ini saja yah!? Nanti kalau nak Adelio mau bikin acara tunangan di kota di tengah-tengah keluarga besar nak Adelio bisa dibuat lagi atau bisa kami menghadiri nya kembali," ucap pak Hendra.


"Alhamdulillah, bapak ibu terimakasih banyak telah mengijinkan saya bertunangan dengan putri bapak ibu. Saya akan menanggung semua biayanya, pak bu," kata pak Adelio. Celestia tiba-tiba menjadi tersipu malu.


__ADS_2