
"Titip Celestia, nak Adelio!? Saat di kota, jika Celestia masih saja bandel dan susah dibilangin, nak Adelio jewer saja telinganya. Celestia, Kadang-kadang anaknya keras kepala, susah di atur," ucap bu Linda.
Adelio tersenyum saja mendengar pesan dari bu Linda. Adelio tentu sudah mulai paham, bahwa bu Linda tidak sebenarnya menjelekkan Celestia. Beliau hanya berusaha menyembunyikan rasa kesedihannya, harus kembali melihat putrinya meninggalkan kampung itu untuk ke kota. Ke kota melanjutkan kuliah nya.
"Ibu yakin dan rela kalau telinga ku jadi panjang sebelah karena sering dijewer oleh kak Adelio?" sahut Celestia sambil manyun bibirnya. Adelio terkekeh saja mendengar ucapan Celestia.
"Ya sudah, Hati-hati di jalan yah!! Selamat selamat sampai tujuan. Nak Adelio, pelan-pelan saja mengemudikan mobilnya. Kalau capek dan mengantuk istirahat dulu. Jangan dipaksakan tetap jalan. Karena mengemudi saat mengantuk itu sangat berbahaya. Kita mungkin sudah sangat hati-hati, tapi kadang pengguna jalan yang lain yang lagi kurang baik. Jadi harus tetap selalu waspada," ucap pak Hendra panjang lebar.
"Baik, pak bu!?" sahut Adelio.
"Celestia!! Jangan lupa makan yang teratur yah, nak! Ini ibu sudah buatkan sambal tempe kering kacang dan juga rendang daging kesukaan kamu, Tia. Kalau di kost nanti malas masak dan malas ke luar untuk jajan, di kost tinggal masak nasi saja. Dengan lauk rendang daging kering serta sambal tempe kacang kering bisa mengenyangkan perut kamu. Pokok nya jaga kesehatan yah, nanti dalam waktu dekat ini bapak ibu ke tempat kost kamu," ucap bu Linda panjang lebar.
"Iya, ibu!? Panjang banget nasihat nya," sahut Celestia dengan nyengir kuda. Adelio yang mendengar bu Linda seperti sangat mengkhawatirkan putri nya langsung menyahut.
"Jangan khawatir, bu! Nanti saya akan selalu mengingatkan Celestia untuk makan yang teratur, bu! Bila perlu akan saya akan menyuapi Celestia kalau sudah lupa makan," sahut Adelio. Bu Linda dan pak Hendra tersenyum lebar dengan candaan Adelio. Sedangkan Celestia spontan mencubit lengan Adelio lantaran geram.
"Ibu, bapak!? Kami pamit dan berangkat dulu," sambung Adelio. Celestia melambaikan tangannya ke ibu dan bapak nya.
Adelio pelan-pelan mulai meninggalkan rumah orang tua Celestia. Kini Celestia mulai diam menatap jalanan di depannya.
"Nangis yah?!" tanya Adelio mulai menebak.
"Enggak!? Siapa yang nangis?" sahut Celestia dengan cemberut. Adelio terkekeh melihat Celestia yang kembali cemberut bibir nya.
"Nangis juga tidak apa-apa kok! Lagipula tidak ada yang melarang nya kok," kata Adelio.
"Dibilangin aku tidak nangis kok! Aku hanya sedih saja," ucap Celestia.
"Hehehe, ya sudah! Jangan sedih yah!? Ibu bapak bentar lagi juga nanti ke kota. Mereka akan menjenguk kamu dan juga ingin meramaikan acara pertunangan kita lagi di kota. Bunda pasti sangat senang," kata Adelio.
"Heem, tapi kakak janji yah, kalau acara pertunangan kita tidak perlu mewah dan megah. Hanya keluarga besar kakak dan teman-teman dekat saja. Dan jangan lupa, kakak belum boleh mengundang bahkan menyebarkan kalau aku adalah tunangan kakak di lingkungan kampus. Khususnya lingkungan kampus fakultas," ucap Celestia panjang lebar.
"Iya, jangan khawatir kalau soal itu!?" sahut Adelio.
*****
__ADS_1
"Kita ke rumah bunda dulu yah. Baru nanti aku antar kamu kembali ke kost," kata Adelio.
"Apa gak ke kost dulu, baru aku ke rumah kakak! Ke kost dulu mandi, bersih-bersih dan juga nurunin barang-barang aku," ucap Celestia.
"Hem, ke rumah dulu dong!? Nanti kamu bisa mandi lagi di rumah bunda. Makan dan istirahat di rumah bunda. Kalau capek bisa bobok di kamarku," kata Adelio.
"Eh?? Kamar kakak?" sahut Celestia dengan menyipitkan bola matanya.
"Jangan berpikiran yang tidak-tidak neng! Kamu ini suka sekali mancing emosi saja," ucap Adelio dengan nada bercanda. Celestia kembali cemberut lalu menjulurkan lidahnya ke arah Adelio.
"Mampir dulu sebentar yah, belikan oleh-oleh untuk bunda," kata Adelio.
"Oke!? Aku juga mau juz buah," sahut Celestia.
"Siap, tuan putri!?" kata Adelio seraya tersenyum.
Semakin hari Celestia semakin merasa dekat dan akrab dengan Adelio. Demikian juga Adelio. Mereka sekarang mulai berbicara tanpa ada rasa sungkan karena sudah semakin lengket. Apalagi selama beberapa hari liburan di rumah Celestia, mereka semakin sering bersama. Apalagi setelah kedua nya nekat memutuskan bertunangan.
*****
Setiba nya di rumah bunda Jelita.
Celestia dan Adelio saling berpandangan. Lalu akhirnya Adelio berkata pada bunda Jelita.
"Bunda, ibu dan bapak Celestia nanti juga akan datang di acara pertunangan kami nanti," sahut Adelio.
"Itu harus dong!? Maaf, jika bunda kemarin tidak bisa ikut ke rumah Celestia yang dikampung," ucap bunda Jelita.
"Tidak apa-apa bunda!? Ibu dan bapak titip salam untuk bunda Jelita. Dan ini ada titipan dari ibu dan bapak emping melinjo. Ini adalah hasil panen di kebun kami. Selain itu, ini salah satu usaha dari bapak dan ibu yaitu membuat emping melinjo," kata Celestia.
"Wah, hebat ibu dan bapak kamu, Celestia!?" sahut bunda Jelita.
"Ibu dan bapak Celestia ini memiliki kebun yang luas, bun. Banyak tanaman-tanaman yang ditanam di kebunnya. Saya jadi terinspirasi untuk menjadi bertani. Rasanya menyenangkan sekali, bun," jelas Adelio.
"Wah, itu bagus sekali nak!? Tapi kita tidak punya cukup halaman untuk bertanam," sahut bunda Jelita.
__ADS_1
"Nanti kita buat bertani dengan sistem hidroponik, bunda!?" kata Adelio.
"Keren!? Nanti kita buat yah, nak!? Bunda juga sangat suka bertanam," sahut bunda Jelita.
"Baik, bunda!? Setelah ini saya akan mewujudkan nya. Halaman kita akan kita sulap dengan adanya sayuran-sayuran hidroponik," kata Adelio sambil tersenyum.
"Pokoknya, bunda ikut mendukung sesuatu yang bersifat positif," ucap bunda Jelita.
*****
Saat pulang ke kost. Celestia sedang berbincang-bincang dengan Caca, teman satu jurusan dan teman satu kost.
"Kamu sudah bertunangan? Dengan pak Adelio? Kamu yakin, Celestia? Kamu tidak sedang berbohong bukan?" ucap Caca.
Celestia segera menunjukkan telapak tangannya di mana di salah satu jarinya ada cincin tunangan dari Adelio.
"Wah, cincin kamu sangat indah sekali. Pasti mahal yah??" ucap Caca.
"Tidak tahu!? Kak Adelio yang mempersiapkan semuanya kok. Aku tidak tahu menahu kalau saat di kampung, kak Adelio sudah membeli banyak bingkisan untuk acara pertunangan ku. Dari cincin, kebaya, dan lain-lain," kata Celestia.
"Senang banget lihat kamu bahagia, Celestia!? Oh iya, bagaimana dengan Raja? Apakah dia sudah mengetahui bahwasanya kamu sudah bertunangan dengan pak Adelio?" tanya Caca.
"Sudah!?" jawab Celestia singkat.
"What?!?" sahut Caca dengan bola mata membulat dengan sempurna.
"Kamu tahu, Caca!? Raja datang ke rumah juga. Di saat itulah Raja bertemu dengan kak Adelio. Sehingga aku dengan tegas dan berani harus memutuskan siapa yang aku pilih diantara Raja dan kak Adelio," cerita Celestia.
"Dan kamu memilih pak Adelio? Sehingga Raja sangat sedih dan kecewa?" sahut Caca. Celestia hanya bisa mengangkat kedua bahunya.
*****
Di ruangan dosen di jurusan bahasa dan sastra.
"Jadi Adelio sudah benar-benar bertunangan dengan salah satu mahasiswanya?" gumam bu Anggun setelah bertemu dengan pak Adelio dan melihat salah satu jari nya melingkar cincin emas putih. Di dalam cincin yang melingkar di jari pak Adelio itu ada nama Celestia.
__ADS_1
Bu Anggun manggut-manggut menebak semua nya. Apalagi dengan sengaja bu Anggun mendatangi ruangan pak Adelio untuk memberikan makanan. Pak Adelio sangat sulit untuk menolak sekecil perhatian dari bu Anggun terhadap dirinya.
"Celestia!? Ternyata Celestia yang selama ini dipersulit oleh Adelio saat mengikuti mata kuliahnya dan untuk mendapatkan nilai yang baik. Ternyata ada udang dibalik bakwan. Benar-benar modus Adelio ini," gumam Bu Anggun dengan tersenyum sinis.