
“AAAAAAAAAAAAA!!!” (???)
Aku berteriak kencang karena jatuh dari langit.
“AAAAAAAAAAAAA!!!” (???)
Aku masih berteriak.
“Ini tanahnya di mana coba?” (???)
Aku sedikit lebih tenang sekarang karena sudah hampir dua jam aku jatuh ke jurang ini.
“Woah mantap! One P**ce tamat! Auto download batchnya!” (???)
Saking bosannya jatuh, aku membuka hp-ku dan tak kusanga-sangka, aku melihat info bahwa anime yang sudah lama kutunggu tamatnya telah tamat.
“….” (???)
Sudah 100 episode kutonton, atau bisa dibilang sudah sekita empat hari aku jatuh dari langit dan tidak menemui tanah sama sekali.
Aku tidak merasakan haus dan lapar, karena aku sudah diberi kekuatan oleh seseorang.
“….” (???)
Entah berapa bulan berlalu, aku menamatkannya. Dan sekarang aku masih jatuh dan melihat-lihat layar hp-ku.
“….” (???)
Aku melihat ke bawah setelah berbulan-bulan. Dan benar saja! Aku melihat tanah!
“TANAH! AKU MERINDUKANMU!” (???)
Aku berteriak sambil melambai melihatnya dan sesaat aku sadar.
“EH! ITU TANAH ****! MATI DAH GUA!” (???)
◇
Perkenalkan, namaku Ekotama, panggil saja Eko. Aku berumur dua puluh tahun. Wibu dari kelas 6 hingga sekarang, pemicunya aku agak lupa. Walau wibu aku tidak terlalu parah hingga membeli ini dan itu, aku tidak pernah ikut event cosplay dan semacamnya. Aku hanya menonton, membaca mangga dan novel, tidak lebih dari itu.
Aku adalah orang yang sering sial. Kesialan yang tidak mungkin kulupakan adalah di saat kematianku.
◇
Hari itu…. Adalah hari yang tidak panas, namun sangat panas.
Waktu itu…. Aku sedang…. Sedang….………. Tunggu! Biar kuingat-ingat dulu!
Umm ….….….Yahh…….Benar, waktu itu……aku sedang duduk di luar rumah.
Sendiri, tidak ada yang menamani. Seperti hidup kalian! Hahahaha, ehm maaf, mari kembali ke ceritaku.
Aku duduk di luar karena dimarahi keluargaku. Mengapa tidak? Aku sudah di dalam kamar selama hampir satu tahun.
Aku hanya keluar kamar saat ke kampus, kamar mandi, makan, dan berbelanja. Jadi hari itu aku dimarahi dan dipaksa menjemur diri di luar rumah.
“Haaa…. Panas-panas gini enaknya makan es krim.” (Eko)
* Gruukkk~ *
“Sekarang, karena mikirin makanan. Perutku jadi berbunyi.” (Eko)
Awalnya biasa-biasa saja pada saat itu…….
Tapi saat aku melihat ke arah langit dengan mulut menganga karena memikirkan makanan, disitulah dimulainya.…
Kotoran burung jatuh tepat di mulutku.
“Hueeeek …. Ba*gs*t! Jadi burung gak ada ahlak! Hueeeek ….” (Eko)
Namun kesialanku ternyata tidak hanya itu…….
Aku berlari ke tempat keran untuk membersihkan mulutku.
Dan saat sampai disana aku memasukkan air ke mulut dan mengkumur-kumurkannya dan disitulah, kesialanku yang lainnya…….
“DUARRRRR!!!” (????)
“Glek, uhuk uhuk.” (Eko)
Aku dikagetkan oleh seseorang dan menelan airnya hingga terbatuk.
“Pffft– Ahahahahaha, maaf-maaf, ternyata lo kagetnya sampai segitu.” (????)
__ADS_1
Aku berbalik dan melihat teman sekampusku, aku lupa namanya siapa, aku juga sudah tidak terlalu peduli pada nama orang.
“Maaf?! Setelah kau membuatku menelan air bercampur e*k burung kau ingin mendapatkan maaf?!” (Eko)
“Sante bos, paling cuma sakit perut.” (????)
“Jangan bilang macem-macem! Kan tiba- tiba perut gue sakit gini! Aduuh….….” (Eko)
Setelah mendengar kata-katanya itu, tiba-tiba perutku jadi teramat sangat sakit.
Aku berlari menuju ke toilet umum yang berada di seberang jalan.
Dan sialnya saat sampai ke seberang jalan, aku menginjak ScalayBoard entah apalah itu namanya dan termundur ke jalan raya.
Tiba-tiba sebuah truk berjalan dengan kecepatan penuh dan menabrakku.
Tapi itu bukanlah akhir….
Saat tertabrak, aku terpental puluhan meter ke depan sedikit miring ke kanan.
Sebelum aku menyentuh aspal jalan, aku ditabrak sebuah bis besar dan terpental puluhan meter lagi.
Tidak sampai disitu, aku ditabrak lagi oleh mobil pemadam kebakaran, mobil polisi hingga mobil ambulan. Aku dijadikan seperti bola sepak oleh para mobil.
Dan setelah bertabrakan dengan sekitar dua puluh mobil, akhirnya aku tidak tertabrak apa-apa lagi, tapi terlempar masuk ke dalam alat yang dipakai untuk mengaduk semen, dengan kepala yang masuk lebih dulu.
“Copot! Demi ayam beranak ayam, astaga naga!” (Orang 1)
“Hubungannya apaan! ****.” (Orang 2)
Ketiga orang yang bertugas memasukkan pasir dan semen terkejut melihatku yang tiba-tiba muncul dengan penuh luka.
“Eh matiin mesinnya cepet! Malah diliatin.” (Orang 3)
Dua orang yang lain saling pandang.
“Gimana cara matiinnya?” (Orang 2)
“Tauk, kita betigakan baru masuk. Emang lo bisa?” (Orang 1)
“Ya kagak. Makanya gue minta matiin tadi.” (Orang 3)
Orang 2 pun pergi menuju tempat Bos mereka namun dia tertidur di atas lantai. Jadi dia memutuskan untuk kembali.
“Lo ngapain balik? Bosnya mana? Ini orang kasian, lo gak liat?” (Orang 1)
“Bos tidur, gue gak berani bangunin.” (Orang 2)
“Terus kita harus ngapain? Nunggu bos bangun?” (Orang 3)
Dan mereka memutuskan untuk menunggu bos mereka bangun dari tidurnya.
Sambil menunggu mereka berjoged dengan musik keras dan bermain kartu.
Satu jam kemudian….
Seorang pria botak dengan otot dimana-mana dan memakai kaos putih datang ke tempat kejadian. Dia tidak lain adalah bos mereka bertiga.
Bos mereka bertiga yang datang, kaget bukan main.
“Astaga…. Kalian ngapain masukin orang?! Udah dibilangin, masukin semen, pasir, ama air, itu aja cukup!” (Bos)
“Tapi bos….” (Orang 2)
“Ayo, apa alesannya, cepet!” (Bos)
“Manusia terbuat dari tanah.” (Orang 2)
Kedua temannya yang lain menunjukkan senyum pepso*ent seketika.
“Sini lo! Gue jadiin bubur!” (Bos)
“Selow bos.” (Orang 3)
“Iri? Bilang bos.” (Orang 1)
“Baperan banget jadi orang.” (Orang 2)
* Buk * * Buk * * Buk * * Buk *
Pertempuaran sepihak terjadi, dimana sang bos memukuli ketiga anak buahnya hingga babak belur dan wajah mereka hampir tidak bisa dikenali.
__ADS_1
Mereka akhirnya menjelaskan segala kejadiannya melalui tulisan karena mulut mereka sudah tidak biaa berbicara dengan jelas.
“Makanya ilang dari awal! Benyokkan jadinya.” (Bos)
“lho yha ayha hulah balelan.” (Orang 2)
*lo nya aja mudah baperan
“Tungguin gue nelpon ambulan dulu. Tu orang jangan lo apa-apain.” (Bos)
Bos pergi menjauh dan menelpon rumah sakit.
◇
Tak lama ambulan datang dan para pembawa tandu keluar dan memasukkanku ke dalam mobil ambulan.
“Dia masih bernafas.” (PemTan 1)
“Yang benar. Kalau begitu kita harus cepat, ayo Pak!” (PemTan 2)
“Iya!” (Supir)
Pak Supir langsung menyalakannya ambulan dan menjalankannya dengan cepat.
Saking cepatnya, aku merasa dunia berputar-putar.
“Bertahanlah! Kau pasti bisa!” (PemTan 2)
Bertahan, bertahan, gundulmu! Yang ada gua mati gara-gara naik mobil yang kecepatannya gak ngotak kek gini!
Dan benar saja….
.
.
.
.
.
.
Aku merasa sedang tenggelam.
.
.
.
.
.
.
.
.
Dan akhirnya….
.
.
.
.
.
Aku….
.
.
.
.
__ADS_1
Mati!