
Halo~ Ekotama masih disini.
Menurut kalian, apa bedanya serigala dan anjing? Kekuatannya? Kecerdasannya? Apapun itu, aku benci anjing. Apalagi anjing yang sering datang kepadaku ketika dia dapat masalah dan menghilang ketika aku yang dapat masalah.
◇
* Baguuuuuuum!!! *
Suara yang mirip seperti suara meteor jatuh terdengar di dataran luas, tanpa pohon maupun tanaman, hanya tanah saja. Tanah yang sangat keras dan kasar.
Disana—di tempat suara itu terdengar—terbaring seorang pemuda laki-laki berumur dua puluh tahun dengan rambut berwarna hitam.
Pemuda laki-laki itu tidak lain adalah diriku sendiri, Ekotama.
Aku terjatuh dari langit selama berbulan-bulan dan membuat kawah sekitar lima meter di sekitarku dengan dalam setengah meter.
Tubuhku dipenuhi oleh darahku sendiri, tulangku remuk-remuk, patah-patah, rasa sakit dimana-mana, dan ada beberapa tulang yang posisinya sesat.
Aku tidak bisa bergerak, tidak bisa bicara, dan yang paling menyakitkan, tidak bisa bernafas. Kurasa aku sudah lupa cara bernafas. Dan yang terparah, aku baru sadar bahwa aku belum mandi selama berbulan-bulan!
◇
“Awwwww~!”(Eko)
Setelah hampir dua jam, Aku bangun dengan rasa sakit luar biasa di seluruh tubuhku.
“Bau banget! Gak mandi berbulan-bulan,” (Eko)
Karena nafasku sudah teratur, aku mencium bau tubuhku yang terasa sangat menyegat akibat tidak mandi berbulan-bulan.
“Ini … darah? Hueeeeek!” (Eko)
Aku tersadar, bahwa diriku dipenuhi dengan darah. Yah, tidak sedikit orang yang takut darah. Aku termasuk golongan mereka.
Namun … masih ada satu hal lagi yang masih belum kusadari.
“Oke, pertama aku akan mandi, kedua…… ngapain lagi?” (Eko)
Aku mulai menyusun rencanaku di dunia ini, namun tidak tahu harus melakukan apa lagi setelah mandi.
“Mikirnya nanti aja, tapi … yang bener aja dah.” (Eko)
Aku berdiri dan memegang beberapa bagian tubuhku yang beberapa saat lalu tulangnya remuk.
Rasanya seperti tidak terjadi apa-apa, tidak ada rasa sakit lagi.
“Grrrrrrrr….”
Aku mendengar suara … emmm…… apa sebutannya? Auman?
Apapun sebutannya, aku melihat ke asal suara, lebih tepatnya aku melihat ke depan bukan ke tubuhku.
“Halo teman-teman…. Ehehehe,” (Eko)
Ternyata aku dikelilingi oleh sekumpulan serigala yang memiliki bulu hitam lebat.
Ada rasa ingin memotong habis bulunya, tapi karena sekarang antara hidup dan mati, aku tersenyum masam pada mereka.
“Aaaaaaaaaah!” (Eko)
Aku melompat dari kawah dan langsung berlari terbirit-birit.
Setelah hampir seratus meter (atau mungkin lebih dari itu), aku berhenti dan melihat ke belakang.
Mereka diam, tidak bergerak sama sekali. Hanya melihatku dari kejauhan. Tapi jumlah mereka berkurang, sepertinya beberapa dari mereka masuk ke kawah.
“Haaa…. Baru tiba aja udah mati sama dibuat kaget setengah mati. Gimana kalo udah lawan bosnya coba.” (Eko)
Aku mengeluh dan duduk di atas batu terdekat.
Aku merogoh saku celanaku dan mengeluarkan hp-ku, kacanya retak membentuk seperti jaring laba-laba. Aku sudah terbiasa karena hampir semua hp yang kupegang akan mengalami hal seperti ini di masa depan. Entah itu punyaku atau punya orang.
Saat kunyalakan layarnya, kulihat aplikasi AnoWor. Aku mencoba membukanya saat jatuh dari langit, tapi selalu saja focre choles.
“Karena udah sampe sini, keknya udah bisa dibuka.” (Eko)
Saat kubuka, muncul loding yang bertulisan 1% yang terus bertambah menjadi 19%, 34%.
“Wooo, bisa.” (Eko)
42% 58% 78% 99%.
Setelah 99% aku tidak melihat ada perubahan.
◇
Tiga jam berlalu…
“UDAH TIGA JAM GUA NUNGGU BA***AT!!! TUKANG PEHAPE!!!” (Eko)
Selama tiga jam menunggu tiba-tiba muncul tulisan aplikasi telah berhenti. Karena kesal akupun membanting hp itu ke tanah dengan kekuatan penuh. Hp itu pun patah menjadi dua bagian.
“….” (Eko)
Aku terdiam, hp yang mungkin harganya jutaan rupian, kupatah dua begitu mudahnya.
Kalo gak salah ada cara ngebaikinnya, tapi … aku lupa caranya karena ingatannya sudah hilang setelah berbulan-bulan aku di atas langit.
“….…” (Eko)
Sekarang aku merenung, menyesali perbuatanku.
◇
Aku berjalan kesana kemari di tengah-tengah gurun pasir, berjalan tanpa tujuan.
Sudah satu bulan aku berada disini, tempat ini diisi beberapa mahluk fantasi yang sering kulihat di game.
Setiap kali aku bertemu mereka, aku cuma diam, pasrah. Tidak ada gunanya melawan, aku tidak memiliki kekuatan untuk itu. Aku hanya bisa mati.
Dunia ini, tidak ada manusia, tidak ada mahluk cerdas yang kutemui. Mereka hanya memiliki keinginan untuk hidup (Makan tidur mulu kaya kalian :v). Tidak ada hal lain.
Itu wajar. Dunia ini digunakan untuk latihan, bukan untuk ditinggali.
Latihan? Bagiku ini hanya tempat penyiksaan.
Setiap hari diserang mahluk lain, mati, berlumur darah. Hanya rasa sakit yang kudapat.
Mengapa hal ini harus terjadi padaku. Aku berharap bisa seperti orang lain.
Takdirku, bagiku sangat kejam. Aku sudah menyerah untuk hidup, namun … sekarang aku tidak bisa mati.
* Roaaaaaaar!!!! *
Aku melihat ke asal suara yang berada cukup jauh dari tempatku berdiri. Mungkin sekitar lima ratus meter.
Dua kadal besar yang memiliki sayap lebar, salah satu dari mereka memiliki sayap yang berlubang. Naga, begitulah kita menyebut mereka—kedua kadal itu.
Yang meraung adalah naga dengan tubuh penuh luka dan sayap berlubang.
Pertarungan berat sebelah karena naga yang meraung tidak bisa terbang.
Setiap naga yang tidak bisa terbang menyerang, naga yang terbang selalu dapat menghindarinya.
* Roaaaaaaar!!!! *
__ADS_1
Naga yang tidak bisa terbang meraung kesal.
“….” (Eko)
Aku ingin membantu, namun apa yang kubisa selain mati? Jadi umpan juga tidak ada gunanya, dalam sedetik aku dihabisi naga terbang dan dia bisa kembali menyerang naga yang tidak bisa terbang.
“…. Bodo ah, gua mati atau gak juga, gak ada bedanya. Ghhh.” (Eko)
Aku menggigit pergelangan tanganku hingga darah keluar dan berlari ke arah keduanya.
Entah kapan, aku menyadari bahwa darahku ternyata dapat memancing para mahluk di dunia ini. Para serigala yang pertama kali kutemui datang karena tertarik pada darahku.
Naga terbang melihatku dan langsung menyerbuku.
Aku berbalik dan lari dikejarnya. Kuharap naga yang tidak bisa terbang itu sempat melarikan diri.
* Goaaaaaar!!! *
Naga terbang berada tepat di belakangku, dan beberapa saat setelahnya, dia berada di depanku dan memakanku.
◇
Beberapa jam berlalu, aku terbangun kembali setelah menjadi e*k naga.
Bercanda, aku tidak menjadi e*k-nya. Aku membunuh naga itu dengan memukul-mukul tenggorokannya. Walau diluar keras, ternyata di dalamnya sangat empuk.
Untung naga terbang itu tidak memiliki nafas api. Beda dengan naga yang tidak terbang. Jika dia punya, aku sudah jadi arang di dalam sini.
Dan keuntungan yang lain, dia mati di tanah bukan di langit.
Karena agak penasaran, aku memakan dagingnya dari dalam. Bagaimana rasanya? Yah …… jawabannya satu.
Menjijikkan, tidak enak, lebih buruk dari daging basi, dan bikin sakit perut dalam sekali gigit.
(Satu itu maksudnya satu baris, bukan satu kalimat :3)
Rasa penasaranku berubah jadi penyesalan. Kupikir bisa menambah kekuatan atau memiliki rasa enak, namun nyatanya tubuhku biasa-biasa aja cuma sakit perut doang.
“Hei Kadal Terbang! Apa kau mati?” (????)
Aku mendengar suara panggilan dari luar, suara dari seorang gadis muda.
Waduh, jantungku jadi deg-degan. Kek gini doang udah deg-degan, gimana kalo ketemu langsung?
Dengan sedikit langkah gemetar dan becek, aku berjalan keluar dari tempat ini.
“Lah, kok gue malah masuk lebih dalam sih?!” (Eko)
Aku berbalik dan menuju ke jalan keluar yang benar.
Akhirnya aku sampai di bagian mulut, jalan keluar dari dalam sini, namun mulutnya tertutup rapat.
Aku mencoba mengangkat bagian atas mulutnya, tapi beratnya membuatku pasrah.
“Dah lah, males. Kurung aja gue disini selamanya.” (Eko)
Aku mengeluh dan berjongkok sambil memain-mainkan lidah naga.
◇
“Njir, ada cara bukanya.” (Eko)
Beberapa menit berlalu, karena gabut, aku menarik lidah naga dengan kuat dan mulutnya langsung terbuka lebar.
Aku melangkah keluar dengan rasa senang di hati.
Dan secara tiba-tiba ….
* Bruuuuuuzh~ *
Aku langsung disambut dengan semburan api dari naga yang tidak bisa terbang dan terbakar di tempat.
Naga itu berbicara dengan suara seorang gadis muda yang kudengar dari dalam tubuh naga terbang.
“Emm, apa kau mati karena salahku?” (Naga)
Naga itu menggerak-gerakkan tubuhku dengan kaki depannya kemudian melihatku dengan cukup tajam.
“Eh, regenerasi? Kalau gitu aku akan menunggumu hingga pulih disini.” (Naga)
◇
Sekitar satu jam luka bakarku pulih sepenuhnya.
“Ah, kau sudah bangun, kera tanpa bulu.” (Naga)
Di sampingku, seekor naga seukuranku sedang memasak. Awalnya dia seukuran gedung sekolah. Sepertinya dia dapat mengubah ukuran kecil tubuhnya.
“Terima kasih sudah menolongku. Namaku Fifi. Kalau bukan karenamu, aku sudah mati akibat kadal terbang ini.” (Fifi)
Fifi berkata ‘kadal terbang ini’ dengan cara menunjukkan sendok dari sup yang sedang dimasaknya.
“….…Ekotama, panggil saja Eko.” (Eko)
Aku sedikit gugup, tapi berhasil menjawabnya dengan tenang.
“Oke Eko. Tunggulah sebentar lagi, maka sup kadal terbang yang menyebalkan ini selesai.” (Fifi)
Sepertinya aku mimpi. Mengapa ada mahluk yang bisa bicara dan baik disini. Ah iya, mungkin naga khusus.
“Selesai! Ini dia! Sup kadal terbang yang menyebalkan, ah—” (Fifi)
* Byuuur *
Fifi melangkah dan tersandung. Membuat supnya tersiram ke wajahku.
Panas …. Aduh… panas …. Pengen nangis …. Pengen teriak ….
“……Maaf, gak sengaja.” (Fifi)
GAK SENGAJA, GAK SENGAJA. ENAK AJA! LO PIKIR GUA GAK SAKIT?! KALAU AIR BIASA KE BAJU MAH GAK MASALAH. INI SUP PANAS, KE MUKA LAGI !1!1!1!
◇
Beberapa tahun berlalu, mungkin sekitar dua ratus ribu tahun.
Entah bagaimana, aku dan Fifi menjadi teman baik.
Kami sering berburu. Aku selalu menjadi umpan untuk memancing mahluk lain mendekat dan dia akan menyerangnya dengan nafas apinya.
Tidak sedikit kejadian dimana aku ikut terkena serangannya. Sekarang aku sudah kebal dengan api.
Kami berdua hidup bersama dan kini memiliki anak.
Becanda, becanda. Fifi sebenarnya naga jantan. Padahal suaranya seperti penyuara Rem dari Re : Z**o.
Aku memang tidak dapat mati. Namun Fifi berbeda, dia dapat mati. Sekarang, mungkin adalah hari terakhirnya.
“Eko, apa kau … punya penyesalan selama hidup ini?” (Fifi)
Fifi berkata sambil besandar lemah pada dinding rumah yang kami berdua buat.
“Ya. Aku nyesal bertemu denganmu di dunia ini.” (Eko)
Fifi tertawa dengan balasanku.
__ADS_1
“Temen lagi sekarat. Sempat, sempatnya becanda.” (Fifi)
“Yeee, maaf.” (Eko)
Fifi menutup matanya.
“Menurutmu … apa kita akan bertemu lagi.” (Fifi)
“Mudahan tidak.” (Eko)
“Semenyesal itukah kau bertemu denganku?!” (Fifi)
Kami berdua pun tertawa.
“Kau tidak sedih?” (Fifi)
“Nanti aja. Setelah kau mati, baru aku akan sedih di pojok ruangan.” (Eko)
“Oh, jadi saat kau menghadap di dinding kamar waktu itu ternyata lagi nangis.” (Fifi)
“….” (Eko)
Astaga, kok gua ngaku sih?
“Kau bilang dulu bahwa kau merupakan mahluk bernama manusia, bukan kera yang terkena penyakit aneh. Jadi … apa semua manusia berumur panjang sepertimu?” (Fifi)
“Tidak. Mereka paling panjang berumur seratus. Aku ini khusus.” (Eko)
“Begitu …. Hei kau dimana sekarang?” (Fifi)
“Aku masih disini.” (Eko)
Aku menggenggam tangan Fifi.
“Oh … kau masih di sampingku. Entah kenapa … aku tidak bisa merasakan hawa kehadiranmu.” (Fifi)
Mendengar perkataannya, aku meneteskan air mata.
“Hei, kenapa kau melepaskan tanganku?” (Fifi)
“Aku tidak … hiks … melepaskannya.” (Eko)
Aku mulai berkata sambil terisak.
“Nangis ya…? Uuu~ cengeng~” (Fifi)
“Sempat-sempatnya … hiks … lo becanda!” (Eko)
“Apa kau mengatakan sesuatu? Maaf, aku tidak mendengarnya. Aku hanya mendengar suara yang sama-samar sekarang.” (Fifi)
Air mataku semakin deras.
“Sebagai peninggalan, kau dapat memiliki kulit dan apiku. Kulit dan api dari naga api. Jadi jangan terlalu sedih. Dan juga … ada satu hal yang kau mungkin tidak tahu….” (Fifi)
“…. Aku adalah satu dari enam Dragon Gods, naga yang menghilang ratusan juta tahun yang lalu. Daripada menghilang, kami sebenarnya mendapat luka berat dari seseorang sepertimu … seseorang yang mirip dengan kera namun tidak memiliki bulu lebat di anggota tubuh … seorang manusia….” (Fifi)
“…. Satu persatu dari kami mati. Dan pada akhirnya hanya akulah yang tersisa dengan luka di sayap….” (Fifi)
“…. Jadi, aku akan memberimu pemberian yang kudapat dari kelima Dragon Gods yang lain.” (Fifi)
Enam cahaya keluar dari tubuh Fifi dan masuk ke dalam tubuhku.
“Ini adalah berbagai barang yang kami simpan dan dapat selama hidup kami. Tolong … gunakanlah.” (Fifi)
“Ya … hiks … akan kugunakan….” (Eko)
Aku menggenggam erat tangannya.
“…. Bisa kau beritahu … hiks … nama atau … hiks … ciri-ciri dari orang yang melakukan … hiks … i– … hiks … ini padamu…?” (Eko)
“Biar kutebak …. Kau penasaran dengan orang yang membunuh Dragon Gods kan? Kalau tidak salah … kau akan bisa langsung mengetahuinya dari sayap dan barang-barang yang kau teri…ma…….” (Fifi)
Fifi menghembuskan nafas terakhirnya. Akupun langsung menangis sejadi-jadinya.
Fifi, satu-satunya temanku di dunia ini. Kau tidak akan kulupakan. Akan kuhabisi orang yang telah mengambil sayapmu.
“Tunggu saja!” (Eko)
\=\=\=\=\=Quest Pertama : Teman\=\=\=\=\=
Penjelasan singkat : Hidup bersama teman hingga akhir hayatnya.
Tujuan :
Membantu suatu mahluk (Selesai)
Menjadi temannya (Selesai)
Makan dan berburu bersamanya (Selesai)
Tinggal bersama dengannya selama setahun atau lebih. Semakin lama masa pertemanan, semakin tinggi hadiah yang didapat (Selesai)
Cerita masa lalunya (Selesai)
Bersamanya di akhir hayatnya (Selesai)
Sampingan 1. Peninggalan sebelum kematiannya (Selesai)
Sampingan 2. Tidak pernah mengkhianatinya (Selesai)
Sampingan 3 (Baru ditambahkan). Pembalasan dendamnya (Proses)
Hadiah dari quest utama :
9.282.425.152.735.158.371.510 Poin
Skill memasak level maks
Hadiah dari quest sampingan :
Skill pengambil skill mahluk lain level maks.
20.000 Poin
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Aku mendengar suara-suara itu di kepalaku.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Quest utama dinyatakan selesai!
Menuju ke Quest selanjutnya…
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Tiba-tiba semuanya menjadi partikel-partikel kecil dan perlahan-lahan terpisah lalu menghilang satu persatu.
Aku melihat ke tubuhku sendiri.
“Apa yang ….” (Eko)
Aku bernasib sama.
Seketika, diriku menghilang dari dunia.
__ADS_1
Sebenarnya dunia tidak kenapa-napa, matakulah yang membuat dunia seakan-akan menjadi partikel-partikel kecil yang menghilang.
Dengan ini, pelatihan pertamaku selesai dan berlanjut ke pelatihan selanjutnya….