Drop

Drop
Bab 3-Z : Di desa


__ADS_3

Pernah gak sih? Nyelamatin orang-orang, eh malah dituduh biang kerok-nya.


Coba liat Na**to, satu desa hancur diserang rasa sakit (terjemahkan ke bahasa inggris) saat dia kalahin si rasa sakit dapat pujian para warga. Padahal kalo bukan karena rubah di tubuhnya, desa gak bakalan diserang.


Lah gua? Gak tau apa-apa, malah disalahin. Padahal udah nyelamatin satu desa.



Aku bangun dari tidurku dan langsung mencari-cari ke samping. Aku menemukan hapeku.


Aku menyalakannya dan melihat wha**app.


Ngapain gua buka w**tsapp? Karena kebiasaan lama.


“Nasib jomblo, gak ada pesan masuk.” (Eko)


Aku menutup wh**sapp dan membuka aplikasi AnoWor.


Aku mencek brankas dan melihat salah satu barang berbentuk peti.


“Fifi….” (Eko)


Entah kenapa, peti itu tidak bisa diambil.


Aku menutup aplikasi AnoWor dan mematikan layar hape-ku.


Aku keluar dari gubuk bersiap untuk mandi.



“Bajing….” (Eko)


Aku pergi ke laut tempat Olivia menemukanku dan mandi disana.


Belum semenit aku berendam, kepalaku sudah ditancapi kail pancing milik Kepala Desa.


“Akwoakwoak, siapa suruh mandi disana. Udah tau aku sering mancing lempar kailnya kesana.” (Kepala Desa)


“Mantap pak! Baru lempar udah dapat yang segede manusia.” (Haris)


“Lo pikir gua ikan!?” (Eko)


Aku berteriak pada salah satu warga desa yang bernama Harisah, biasa dipanggil Haris, laki-laki kurus berumur 21.


“Ikannya bicara pak.” (Haris)


“Waduh, kok jadi merinding ya.” (Kepala Desa)


“Muka lo bedua udah gua tandain ya!” (Eko)


“Lari!” (Haris)


“Akwoakwoak.” (Kepala Desa)


“Eh bajing! Kail lu masih nancep di kepala gue, kamp*et!” (Eko)


Haris dan Kepala Desa berlari. Kepala desa masih memegang pancingnya dan kailnya masih menancap di kepalaku. Jadi…. Kalian pasti sudah tau apa yang terjadi.



Selesai mandi, aku ikut memancing bersama mereka.


Disini ada aku, Kepala Desa, Haris, Gilang—salah satu warga desa, Dedy—salah satu warga desa juga, Andre—salah satu warga desa juga, dan beberapa bocil—gak tau anak siapa, tuyul nyasar kali.


“Tau gak sih?” (Dedy)


“Gak.” (Gilang)


“Dia belum ngomong.” (Eko)


Aku membalas Gilang. Dia merupakan pria berumur 27 dengan rambut berdiri, pria yang agak kasar. Mukanya kayak preman.


“Oh.” (Gilang)


“Kalo gak lagi mancing. Udah gue nyelemin muka lo di laut.” (Eko)


“Oh.” (Dedy)


Mendengar kata Dedy—laki-laki berumur 20 tahun dengan wajah yang ngeselin, aku langsung menangkap kepalanya dan langsung menyelamkan wajahnya di laut.


“Brr, brr brrbbbbr brup brrp brrp brp!?” (Dedy)


* Kok, emosinya ke gua sih!?


“Bro, jangan terlalu sadis.” (Gilang)


Gilang menepuk pundakku.


“Terus?” (Eko)


“Tenggelamin aja kepalanya.” (Gilang)


“Brrp blup brep, blurpr!” (Dedy)


* Kirain mau bantu, bajing!


Aku mengikuti saran Gilang.


“……….” (Dedy)


Dedy sudah tidak mengeluh, nampaknya pingsan. Aku mengangkatnya dan meliat wajahnya. Dia menunjukkan senyum yang membuat siapapun ingin memukulinya.


“Mukanya ngeselin banget.” (Eko)


“Tenggelamin lagi aja. Gua bantu.” (Gilang)


Kami berdua menenggelamkan muka Dedy di laut.



Tak terasa, sore tiba.


Seperti biasa, aku hanya mendapat sampah, sampah, dan sampah. Tidak ada hal lain lagi.


“Ayo balik. Hari ini kita ada pesta ingat?” (Kepala Desa)


Kepala Desa mengajak kami pulang.


Hari ini merupakan hari yang sama dimana warga desa ini mengalahkan seekor monster laut dulu.


“Oke.” (Semua pemancing)


Aku memegang kaki kanan Dedy—yang masih tidak sadarkan diri, sedangkan Gilang memegang kaki kirinya. Kami berdua berjalan sambil menghiritnya.


“Buset, kerbau bawa kereta.” (Haris)


Haris menghampiri kami.


“Ngomong lagi…” (Gilang)


“Lo bernasib sama.” (Eko)


Aku melanjutkan kalimat Gilang.


“Selow bro.” (Haris)


Haris sedikit termundur.


“Tapi, sekesal-kesalnya lo ama temen. Jangan sampe dijadiin lap lantai juga dong.” (Andre)


Andre, pria berumur 30an yang cukup pendiam. Namun sekarang dia tiba-tiba bicara.


“Coba liat mukanya.” (Eko)


Atas saranku, Andre meliat wajah Dedy.


“….”


Raut wajah Andre langsung berubah.


“Bantu.” (Andre)


Andre mengambil tangan Dedy dan mengangkatnya.


“Yak, lempar!” (Haris)


* Buk *


“Kok ke arah gua sih!?” (Haris)


Atas saran Haris, kami mengayunkan Dedy dan melemparnya ke arah Haris. Haris berteriak, protes.


“Terus?” (Gilang)


“Lempar ke hutan lah!” (Haris)


Aku mengambil tangan Haris, Gilang mengambil kaki kanannya, sedangkan Andre mengambil kaki kirinya. Kami bertiga mengangkatnya dan mulai mengayunkannya.


“Satu….” (Andre)


“Eh, kok gue diangkat!? Kalian mau ngapain!!?” (Haris)


“Dua….” (Eko)


“Udah gue bilang, kalian mau ngapain!!!?” (Haris)


“Ti…Ga!” (Gilang)


* Buk *


Kami melempar Haris ke hutan. Dia menabrak pohon dan langsung pingsan.


“Kalian mau bunuh orang yak!?” (Kepala Desa)


“Target selanjutnya.” (Eko/Gilang/Andre)


Kami menatap tajam pada Kepala Desa.


“Tidak semudah itu furgoso. Clucuk Up.”


Dia langsung berlari secepat ka*en ri*er bawahan orochimaru yang berkacamata (Namanya) yang menggunakan clock up menuju desa.



Aku memegang kaki kiri Haris dan kaki kanan Dedy, Gilang memegang kaki kaki kanan Haris, sedangkan Andre memegang kaki kiri Dedy.


Kami berjalan sambil menghirit kedua orang menyebalkan itu hingga sampai ke desa.


Tidak sedikit kejadian dimana kepala mereka menghantam batu dan kayu. Tidak masalah, paling-paling, mereka bakal kena gegar otak.


Ngomong-ngomong ikan hasil buruan dibawa oleh anak-anak lebih dulu menuju desa.


“Mereka kenapa?” (Olivia)


Olivia bertanya. Walau terlambat mengatakannya, Olivia merupakan gadis tujuh belas tahun dengan rambut hitam panjang. Dia manis sekali ya tuhan.


“Ng–Nggak, nggak papa kok. Mereka cuma pingsan.” (Eko)


Kami bertiga dengan panik melepas kaki keduanya.


“Tapi, kenapa orang pingsan dibawa begitu?” (Olivia)

__ADS_1


“Coba lihat muka mereka.” (Andre)


“Ya….” (Olivia)


Atas saran Andre, Olivia melihat wajah keduanya.


“….” (Olivia)


Tatapan mata lembut Olivia seketika berubah menjadi dingin.


“Lebih baik kalian tinggalkan kedua sampah ini disana.” (Olivia)


Olivia menunjuk ke arah gerbang masuk desa.


Kami mengangkat Dedy lebih dulu dan melemparnya, lalu baru mengangkat Haris dan melemparnya.



Aku berada di dapur sederhana yang baru dibuat untuk memasak makanan pesta.


Aku mengajukan diri karena ingin mencoba skill memasakku.


Sekali-kali kompor meledak, makanan muncrat, bau gosong, dan berbagai masalah lainnya.


Dapur hancur, namun makanan sudah jadi.


Makanannya terlihat biasa saja. Tapi, setelah dicoba --


“Apa-apaan ini….” (Kepala Desa)


Kepala Desa bergumam dengan air mata menetes.


“Tidak bisa dipercaya….” (Warga 1)


“Benar-benar….” (Warga 2)


“Aku baru tau ada masakan seenak ini.” (Warga 3)


“Aku merasa berada di surga….” (Warga 4 seorang kakek)


“Kek! Bangun Kek!” (Warga 5 cucu kakek)


“Aku merasa disucikan….” (Gilang)


“Rasanya aku bisa berkata lebih dari sepuluh juta kata perjam-nya.” (Andre)


Orang-orang memberi pendapat yang berbeda-beda saat memakannya dengan air mata dan liur menetes.


“Sepertinya gak sia-sia dapur meledak.” (Olivia)


Olivia berkata dengan senyum masam.


“Yee, maaf.” (Eko)


Aku menggaruk kepala.


“Buset, makan gak bawa-bawa.” (Haris)


“Tau. Bagi dong.” (Dedy)


Kedua mahluk biadab yang baru sadar datang.


“Yah, abis.” (Dedy)


“Uh, pelit, pelit.” (Haris)


Haris dan Dedy menggoyang-goyangkan tubuhku.


“Jangan parody iklan permen di hari minggu, dong!” (Eko)



“Tenangnya….” (Eko)


Sudah seminggu berlalu sejak pesta.


Seperti biasa aku memancing -- keributan -- dan mendapat sampah.


Kali ini hanya aku sendiri di tempat memancing ini.


“Katanya mau kemari. Udah mau setengah jam gue nungguin nih.” (Eko)


Awalnya aku bersama dengan dua temanku yang lain—Gilang dan Andre. Dan dua mahluk menyebalkan—Haris dan Dedy.


Lalu Gilang menyuruhku untuk pergi lebih dulu karena ada yang dia tinggalin. Andre ikut menemaninya. Sisa dua orang menyebalkan, karena tidak ingin menemani celotehan dua orang itu, akupun menyuruh keduanya pergi menemani Gilang.


“Ternyata kau memang disini.” (Olivia)


Aku berbalik dan meliat Olivia.


“Eh, Olivia. Tumben kesini.” (Eko)


“Kau belum sarapan 'kan? Kata bapak, biasanya kamu langsung pergi ke laut tanpa sarapan. Ini, kukasih bekal.” (Olivia)


“Makasih, biasanya aku langsung nyelonong ke sini.” (Eko)


Aku tidak makan karena aku tidak bisa merasa kenyang ataupun lapar setelah… setelah apa ya?


Aku menerima bekal dari Olivia dengan senag hati.


“Kwak, kwak, kwak.” (Buwung)


Aku mendengar suara burung berlarian menjauhi desa.


Sejak kapan burung lari ya?


“Entah a…pa… yang merasu– Ini bukan saatnya untuk nyanyi.” (Eko)


“Eko! Aku ikut!” (Olivia)


Eh, ada yang ketinggalan.


“Waaa…!” (Olivia)


“Maaf, lariku terlalu cepat. Jadi, terpaksa begini. Pegangan yang erat.” (Eko)


Aku menggendong Olivia dan melompat di jalan desa.



“Gilang!” (Haris)


Haris berteriak pada Gilang yang menahan serangan Goblin dengan pisaunya yang biasa dipakainya untuk memotong ikan.


Goblin, merupakan– masa kalian gak tau goblin sih!?


“Cepat evakuasi warga desa yang lain! Biar para Goblokin ini gue dan Andre yang urus!” (Gilang)


“Ya. Pergi. Evakuasi.” (Andre)


“…. Jangan mati ya.” (Haris)


Haris menggigit bibirnya dan pergi menuju desa.


“Gue?” (Dedy)


Dedy yang berada di belakang menunjuk dirinya.


“Kami akan mengenangmu.” (Gilang)


“Pengorbanan.” (Andre)


“Hei, tunggu!” (Dedy)


Andre mendorong Dedy ke para goblin.


“Meh meh meh meh meh meh!” (Goblin)


*Mahluk menjijikkan dari ras mana ini!


Para Goblin menatap jijik saat meliatnya.


“Nj*r.” (Andre)


“Akwoakwoak, goblin aja ngehina!” (Gilang)


Gilang melempar pisaunya ke arah Dedy. Dedy yang mengambilnya langsung berteriak dan menyerang goblin.


“Mati!!!” (Dedy)


Dia membunuh dua goblin dengan pisau itu.


“Mantap Soul!” (Gilang)


“Ide. Bagus.” (Andre)


Mereka berdua puas atas ide mereka.


“Goblinnya kok rasanya nambah ya.” (Gilang)


“Utara. Beberapa. Desa.” (Andre)


“Yang bener!? Gawat nih!” (Gilang)


Gilang mulai panik.


“Bunuh, bunuh, BUNUH…!!! MODAR…!!! MOKAD…!!!” (Dedy)


Dedy menggila dan membunuhi para Goblin. Namun…


“Ghak–!” (Dedy)


Dedy dikepung dan mengenai serangan panah dari salah satu goblin yang berada cukup jauh.


“Ded! Sabit!” (???)


Seseorang datang dengan cepat dan menebas kepala para goblin



“Ded! Sabit!” (Eko)


Aku datang bersama Olivia dan mengeluarkan sabit keabadian.


Sabit muncul di tanganku, aku langsung menebaskannya ke para goblin.


“…!” (Olivia)


Aku meletakkan Olivia di samping, dia nampak ketakutan ketika melihat darah.


“Ded! Lo gak is dead kan!?” (Eko)


Aku menghampiri Dedy yang menyucurkan darah di bahunya lalu kucabut panah yang menancap padanya.


“Jangan sama-samain nama gue dengan bahasa asing dong!” (Dedy)


“Yee, maaf. Tunggu bentar.” (Eko)


Aku mencoba memikirkan sesuatu….


“Gue jadi ngeri, an–” (Eko)

__ADS_1


* Treng~ *


Hape an**oid muncul di tanganku.


Aku langsung membuka aplikasi AnoWor dan meng-klik tulisan toko.


Aku mencari dan menemukan skill : sihir penyembuh dengan harga 3500 Poin.


Aku membelinya dan memaks-kan levelnya.


“Wahai cahaya, sembuhkan!” (Eko)


Seketika cahaya emas muncul dan membuat luka Dedy menghilang.


Aku kembali ke toko dan membeli beberapa senjata.


“Nih, pake.” (Eko)


Aku memberikannya pada yang lain.


“Dan untuk Olivia….” (Eko)


Aku mencari di bagian skill dan menemukan skill : pemindahan skill seharga 10000 poin.


Aku juga mencari beberapa skill sihir pendukung seperti sihir penguat, sihir pertahanan, dan sihir penambah kecepatan.


Aku membeli semuanya, memakskan-nya, dan langsung menggunakan skill : pemindah skill pada Olivia untuk memindah skill pendukung yang kubeli.


Aku juga memberikan tongkat sihir yang kubeli pada Olivia. Namun….


“Kelar!” (Gilang)


Mereka bertiga sudah mengurus para goblin.


“Rasanya ingin kumutilasi kalian bertiga.” (Eko)


“Selow, di desa masih banyak goblinnya.” (Gilang)


“BMM!!!! BUNUH…!!! MODAR…!!! MOKAD…!!!” (Dedy)


Dedy berteriak dan berlari ke arah desa.


Kami mengikutinya. Tentu saja, Olivia kugendong.



Di desa, ternyata tidak hanya ada goblin. Tapi serigala bertanduk, orc, ogre, dan yang lain pun ikut menyerang.


Sudah dua pertiga rumah di desa yang hancur.


Aku dan yang lain tiba dan memberantas mereka.


Aku dan tiga yang lain mengurus para monster, sedangkan Olivia menyembuhkan warga desa yang terluka.


Sore hari, semuanya selesai. Ratusan mayat terbaring di tanah.


“Hah … hah … hah….” (Eko)


Aku kehabisan nafas, saking lelahnya.


“Akhirnya … hah … mereka … hah …” (Gilang)


“Jangan … hah … bicara … hah.” (Andre)


“Kalian kenapa?” (Dady)


Gilang dan Andre sama sepertiku. Beda dengan si mahluk menyebalkan yang dengan tenangnya menanyai kami.


Setelah semua, kami beristirahat di gubukku.



“Keluar kalian, para moster!” (Warga 1)


“Kalian tidak boleh tinggal di desa ini!” (Warga 2)


“Bakar!!” (Warga 3)


“Turunkan harga sembako!” (Warga 4 kakek)


“Kek… jangan protes masalah lain disini.” (Warga 5 cucu kakek)


“Berisik banget. Orang-orang pada ngapain sih disini!?” (Eko)


Aku dan ketiga yang lain bangun dari tidur kami.


Kami keluar gubuk dan melihat warga desa dengan obor dan trisula.


“Korbankan!” (Warga 6)


“Buset, pesta apaan nih?” (Dedy)


“Noh korban.” (Gilang)


Gilang mendorong Dady.


“Angkut!!!” (Para Warga)


“Eh, kok gue sih!?” (Dady)


Dady dibawa para warga ke tengah-tengah desa.


“Yak, lanjut tidur.” (Eko)


Kami kembali ke gubuk.



Singkat cerita, setelah sepuluh menit tidur, kami pergi ke tengah-tengah desa.


Disana Olivia dan Dedy diikat di tengah-tengah nyala api.


Ngomong-ngomong, Kepala Desa dan Haris mati dibunuh oleh serigala bertanduk.


Aku menyelamatkan Olivia dan Dedy, lalu bersama, kami meninggalkan desa, dan melarikan diri.


Kami berpindah ke desa lain. Di sana, mereka menerima kami.


Desa ini sering diserang monster, dengan bantuanku, mereka menjadi lebih kuat, mereka memberiku berbagai hadiah sebagai ucapan terimakasih.


Aku dan Olivia menikah. Setiap mengandung, Olivia selalu keguguran. Yang lain berkata “Mungkin ini kutukan dari warga desa dulu”.


Aku cuma bisa pasrah, kami mengihklaskan anak kami yang telah tiada. Walau rasanya sakit sekali.


Semua orang mengetahui tentang diriku yang tidak bisa mati dan menua. Warga desa, teman-temanku, dan Olivia tidak mempermasalahkannya. Aku menangis terharu saat mengetahui itu.


Dan tidak terasa, sekarang sudah tujuh puluh tahun berlalu.


Gilang dan Andre sudah tiada, mereka menikah dengan warga desa dan sudah memiliki beberapa cucu yang menggemaskan.


Sedangkan untuk Dedy… dia menghilang empat puluh tahun yang lalu.


Kini, aku sedang di kamar bersama Olivia yang terbaring lemah di kasur. Dia sudah tua dan wajahnya penuh dengan keriput. Meski begitu, aku tetap menyukainya. Karena dia selalu mendukungku setelah pergi dari desa.


“Eko…” (Olivia)


Olivia memegang pipiku.


“Via…” (Eko)


Aku memegang tangannya yang nampaknya bisa pergi kapan saja.


“Apa aku bisa pergi?” (Olivia)


“Ya. Setelah kau pergi, aku juga akan pergi.” (Eko)


“Misimu…ya?” (Olivia)


“Ya. Tapi, aku akan tetap mencintaimu. Aku akan berusaha untuk tetap mengingatmu.” (Eko)


“Terimakasih. Jika kita bertemu lagi di dunia yang berbeda … tolong nikahi aku–” (Olivia)


Olivia menutup matanya.


“Ya, pasti.” (Eko)


\=\=\=\=\=Quest Kedua : Pahlawan\=\=\=\=\=


Penjelasan singkat : menyelamatkan banyak orang


Tujuan :



Bertemu seseorang (Selesai)


Dibawa ke desa (Selesai)


Diterima warga desa (Selesai)


Menggagalkan serangan monster (Selesai)


Menerima hadiah (Selesai)


Bersama seseorang yang dicintai pada akhir hayatnya (Selesai)



Sampingan 1. Memiliki anak (Gagal)


Sampingan 2. Gagal dipercobaan pertama (Selesai)


Sampingan 3 (baru Ditambahkan). Pencarian teman (Proses)


Hadiah dari quest utama :


100.000 Poin


Title : Pahlawan


Hadiah dari quest sampingan :


Title : Berusaha


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


“Suara ini lagi….” (Eko)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Quest utama dinyatakan selesai! Menuju ke Quest selanjutnya…


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Semuanya menjadi partikel-partikel kecil.


“Selamat tinggal. Atau mungkin, sampai jumpa, Olivia….” (Eko)


Aku memegang pipi Olivia untuk terakhir kalinya.


Perjalananku pun, kembali berlanjut….

__ADS_1


__ADS_2