
Hello guys~ Dav– ehem Ekotama disini~
Inilah, cerita saat aku mendapat kekuatan dan beberapa saat sebelum aku jatuh dari langit.
◇
“Fuhahahaha! Kematianmu lebih buruk dari yang lain nak!” (???)
Suara tawa menggema di tempat yang terlihat seperti sebuah bola transparan yang melayang di atas langit, atau mungkin ini memang bola transparan yang melayang di atas langit?
Di tempat itu, hanya ada aku, seorang kakek berjanggut tebal yang beruban, dan sebuah meja dengan secangkir kopi di atasnya.
Aku dan Kakek itu duduk dengan saling berhadapan satu sama lain.
“Berisik! Lo siapa?! Tau-tau gua udah ada disini aja sama lo!” (Eko)
“Aku adalah….…” (Kakek)
“AKU! BE YOURSELF AND NEVER SURRENDER!” (Kakek)
“….” (Eko)
Aku menatapnya dengan tatapan kosong.
Kakek itu mengambil cangkir kopi, dan setelah menghirupnya, dia berkata :
“Identitasku tidaklah penting, yang penting adalah apa kau akan menerima tawaranku atau tidak.” (Kakek)
“Tawuran?” (Eko)
“Tawuran janai, tawaran da!” (Kakek)
“….” (Eko)
Sekali lagi, aku menatapnya dengan tatapang kosong.
“Baiklah, kita ke intinya. Pernah dengar tentang dunia lain? Dunia fantasi dengan sihir dan berbagai ras yang tidak ada di bumi?” (Kakek)
“Ya….pernah.” (Eko)
Sering malahan.
“Kalau begitu, ini akan jadi cepat.” (Kakek)
“Aku ingin–” (Kakek)
“Mengirimmu ke dunia lain yang mirip seperti itu dan memberimu sebuah kekuatan untuk melawan Raja Iblis dan semacamnya, gituh?” (Eko)
Aku memotong kalimatnya dan mengatakan maksudnya dengan cepat.
“Kau luar biasa anak muda.” (Kakek)
“Hal itu sudah biasa untuk wibu kek gua. Intinya entar bakal hidup di dunia lain dengan kekuatan yang gak ngotak, melawan berbagai monster, dan menjadi raja harem seperti di anime, manga, dan novel-novelkan?” (Eko)
“Itu menurutmu.” (Kakek)
Kakek itu sedikit menyeringai saat membalasku.
“Tapi ternyata bukanlah hal yang salah aku memilihmu yang sering sial dalam segala hal.” (Kakek)
“….” (Eko)
Perang? Sepertinya ada yang mengajak berperang.
“Kau akan mendapat kekuatanmu setelah menjawab beberapa pertanyaanku ini.” (Kakek)
“Kalo salah gimana?” (Eko)
“Tidak ada jawaban yang benar, ini hanya untuk menentukan kekuatan yang cocok untukmu.” (Kakek)
“Ngulang entar boleh gak?” (Eko)
“Tawar aja terus!” (Kakek)
Baru sekali ini aku nawar…….
Baiklah, aku harus menjawab dengan sangat hati-hati disini, ini akan berpengaruh besar dalam hidupku nanti.
Kakek itu mengambil cangkir kopinya dan menghirupnya kembali, lalu berkata :
“Pertanyaan pertama, jika kau punya pilihan memiliki kekuatan atau kekayaan mana yang akan kau pilih?” (Kakek)
“Emmm….” (Eko)
Pilihan yang cukup sulit untuk diriku yang missqueen ini. Tapi sudah pasti aku memilih….
“Kekuatan,” (Eko)
“Hooo…. Mengapa kau cukup berani memilih itu? Apa alasannya? Gak takut jadi missqueen?” (Kakek)
“Alasannya cukup mudah, punya banyak harta tapi tidak punya kekuatan untuk melindunginya apa gunanya? Aku lebih baik memilih kekuatan, karena mendapat kekayaan bisa dengan berusaha. Ditambah aku pernah dengar, yang terkuat adalah ummm……..aku lupa, apa sambungan kalimat selanjutnya?” (Eko)
“Begitu….biarlah, alasanmu cukup simpel.” (Kakek)
Kakek itu menulis sesuatu di sebuah buku tebal yang muncul entah dari mana dengan pena bulu.
“Pertanyaan kedua, apa kau merasa suatu saat nanti akan kembali ke dunia asalmu atau akan tetap berada di dunia barumu sekeras apapun kau mencoba?” (Kakek)
“Kurasa…. Aku dapat kembali.” (Eko)
“Mnnn….” (Kakek)
Kakek itu kembali menulis di buku.
“Gak nanya alesannya?” (Eko)
“Memangnya kau punya alasan tertentu?” (Kakek)
“Gak juga sih….” (Eko)
“Pertanyaan ketiga, jika ada dua orang yang diserang di dalam hutan oleh sekelompok bandit apa kau akan membantu mereka berdua?” (Kakek)
“Bantu dong~” (Eko)
Barang kali jadi pasangan ato gak dapet hadiah yang banyak.
“Lanjut, pertanyaan keempat, seseorang mengetuk pintu rumahmu di tengah malam dia adalah? Dan tujuannya?” (Kakek)
Kek pertayaan psikolog aja.
“Temen, tujuannya ngewifi.” (Eko)
Aku menjawab sesuai dari kejadian di masa lalu.
__ADS_1
“Pengalaman ya? Tidak masalah sih….” (Kakek)
Kakek menulis ke buku kembali.
“Pertanyaan kelima, apa yang ingin kau ketahui tentang duniamu setelah kematianmu?” (Kakek)
“Mmmm, bagaimana kabar keluargaku? Mereka sedih?” (Eko)
Keluargaku terdiri dari kakek (ayahnya ibu), nenek (ibunya ibu), ayahku, ibuku, adikku, dua paman (kakak dan adik ayahku), bibi (adik ayahku), dan sepupu (Anak perempuan bibi, ayahnya sudah lama ditanam).
Kami bisa dibilang keluarga yang normal, yang tidak normal cuma kesialanku saja. Mereka bahkan sering melupakanku.
Sering kali saat makan, piring yang berada di meja hanya untuk sembilan orang, karena aku dilupakan mereka.
Dan pernah sekali, aku mematah dua tutup tup*erw*re, dan yang benar saja, namaku benar-benar akan dicoret dari kartu keluarga jika tidak dibantu nenekku saat itu.
“…….” (Kakek)
Kakek menutup matanya dan terdiam. Rasanya mau kuisengin, tapi aku harus menahan diri.
“Pfft– Fuhahahaha,” (Kakek)
Kakek itu membuka mata dengan lebar dan tertawa terbahak-bahak.
“Udah gila Kek?” (Eko)
“Tidak…. Hanya saja menurutku agak konyol. Awalnya mereka sedih atas kematianmu, tapi ketika adik perempuanmu berkata : ‘Untuk apa sedih? Bukankah yang mati itu tukang habisi beras dan bawa sial.’ mendengar itu keluargamu kembali bahagia dan berpesta keesokan harinya.” (Kakek)
“Buset bro, oh atas informasinya.” (Eko)
Saking kesalnya, aku berkata seperti itu pada kakek.
Awas kau ya (Nama disensor, yang pasti dia adalah adik Eko)! Kalo nanti aku pulang!
Hubungan kami tidak pernah akur, selalu bertengkar.
Dulu… aku pernah mengunduh batch one pi**e dari episode 1 hingga 100, namun saat hampir selesai—sisa lima mb—dia mematikan wifi-nya dan membuat unduhannya terhenti. Dan ketika aku melajutkannya, file-nya corup. Dan ketika aku mencoba mengunduh ulang, link-nya rusak!
Hingga sekarang pun aku masih kesal mengingat kejadian itu.
“Pertanyaan keenam, ada seekor kucing mengencingi jemuranmu yang belum dijemur, apa yang akan kau lakukan?” (Kakek)
“Kejar sampe dapet! Terus sentil b*jinya dengan keras hingga dia mendapat rasa sakit yang luar biasa! Hahahahaha!” (Eko)
Aku tertawa kejam.
“….” (Kakek)
Kakek itu terdiam seribu kata dengan tatapan takjub sambil memegang anunya setelah meletakkan buku tebalnya.
“Oke….. Kita lanjutkan saja, pertanyaan ketujuhnya.” (Kakek)
Kakek itu kembali mengambil buku dan penanya kembali.
“Antara hilang ingatan dan dilupakan, pilih mana?” (Kakek)
“Emmmm…….” (Eko)
Bagaimana cara ngejawabnya sekarang?
“Hilang ingatan, kayaknya….” (Eko)
“Mm, aku juga akan memilih itu. Tapi kalau sampai lupa cara bernafas bagaimana?” (Kakek)
“Bijimana ceritanya sampai lupa cara bernafas?!” (Eko)
“Kalau yah, kalau. Kalau ada kata kalau, maka artinya kalau. Paham gak sih? Kalau gak paham, dibuat kalau paham aja.” (Kakek)
Bikin pusing aja!
“Kita lanjutkan kembali. Pertanyaan kedelapan, apa tebakanku benar? Bahwa tidak ada seorang lawan jenis pun yang dekat denganmu. ” (Kakek)
“Bjir, ngena banget.” (Eko)
Aku berkata sambil memegangi jantung.
“Benar ya …. Kasihan sekali kau anak muda.” (Kakek)
“BAC*T!!” (Eko)
Kesel gua lama-lama disini!
“Hahaha, sabarlah, mari kita lanjutkan ke pertanyaan kesembilan, seni bela diri atau senjata?” (Kakek)
Kek nya ini waktu yang tepat untuk mencoba-coba jawaban sendiri.
“Dua-duanya.” (Eko)
Kakek menulis di bukunya, sepertinya menjawab dua-duanya bisa-bisa saja. Tapi untuk mastiin, tanya ajalah.
“Tadi beneran bisa dua-duanya?” (Eko)
“Ya, kau bebas menjawab apa. Kecuali pertanyaan pilih salah satu. Oh ya, senjata apa yang kau mau?” (Kakek)
Senjata ya? Ummm, aku ingin senjata yang terlihat keren nantinya.
“Sabit besar. Kek nya bakal keren.” (Eko)
“Hmmm, baru kau yang memilih senjata itu. Kebanyakan orang memilih pedang dua tangan, dua pedang pendek, pedang panjang, pedang normal, katana, pistol, panah, dan tombak.” (Kakek)
Kebanyakan orang? Artinya ada orang lain dong. Dan keknya lebih dari satu.
“Pertanyaan kesepuluh, cahaya atau kegelapan.” (Kakek)
Pilih elemen? So pasti…….
“Kegelapan!” (Eko)
Aku berkata dengan girang dan mengangkat kepalan tangan.
Biar cocok dengan sabit.
“Baiklah, kegelapan ya….” (Kakek)
“Emang kenapa?” (Eko)
“Gak, gak papa. Cocok aja dengan kesialanmu.” (Kakek)
Firasatku buruk, benar-benar buruk. Mungkin ke lewat buruk. Apakah ada savepoint sebelum kejadian ini? Bisa ngulang gak?
“Pertanyaannya … masih ada?” (Eko)
“Masih ada satu lagi, tapi biar kujelaskan terlebih dahulu beberapa hal.” (Kakek)
__ADS_1
Satu? Aku tidak yakin….
“Pertama-tama, kau sudah kuberi kekuatan regenerasi, penetral racun, tidak merasakan lapar, tidak merasakan haus, penguat fisik, dan terakhir tidak dapat mati.” (Kakek)
“Woah! Mantap!” (Eko)
Aku mengacungkan jempol ke atas.
“Kedua, ambil ini.” (Kakek)
Kakek memberiku sebuah hp yang entah darimana lagi dia ambil. Aku menerimanya dan dalam hati berbisik :
Horeee, dapet hp baru. Udah lama nabung dari sma kelas dua malah mati sebelum kebeli.
“Hape itu memiliki baterai, kuota, dan penyimpanan tak terbatas. Dengan itu kau bisa mengakses informasi dari duniamu sebelumnya. Dan yang terpenting, jika hape ini rusak, dia bisa memperbaiki diri sendiri. Caranya, kau ucapkan saja apa yang terlintas dipikiranmu.” (Kakek)
Manchab!
“Pasti ada fitur lain lagi kan?!” (Eko)
Aku berkata dengan penuh semangat.
“Ya, ada sebuah aplikasi disana bernama [AnoWor] disana kau bisa mencek statusmu, dan membeli berbagai barang.” (Kakek)
Gak niat banget penamaannya.
“Membeli? Pakai mata uang dari mana? Lewat bank juga?” (Eko)
“Gak pakai uang, tapi pakai poin. Setiap kau naik level, mendapat title, menyesaikan misi, dan beberapa hal lainnya, kau akan mendapatkan poin dengan nilai yang tidak tentu.” (Kakek)
“Mm, terus, apa aja yang bisa dibeli di aplikasi itu?” (Eko)
“Berbagai hal, salah satunya semua barang yang ada di duniamu seperti motor, mobil, tank. Kau juga bisa membeli special power, kekuatan yang sejenis dengan kekuatan tahan bantingmu.” (Kakek)
“Oh.” (Eko)
“Jelasin panjang-panjang cuma dibalas dengan kata ‘oh’ ?! Oh!!!” (Kakek)
“Ya gimana lagi!? Orang guanya aja udah kehabisan kata-kata!” (Eko)
“Baiklah karena kau orang yang cukup seru bagiku, ada sebuah penawaran khusus untukmu.” (Kakek)
Penawaran lagi? Hati ini jadi tidak enak.
“Apaan tuh?” (Eko)
“Kau bisa berlatih ke dunia yang lain terlebih dahulu untuk mendapat pengalaman hidup disana.” (Kakek)
“Latihan? Oke aja la–” (Eko)
* Prang!!! * * Buhk *
“Copot!” (Eko)
Tiba-tiba seorang jatuh dari langit dan mendarat di meja, itu membuatku terkejut.
Jatuh dari langit? Tapi ini sudah di langit…. Oh ya, di atas langit masih ada langit.
“Punten! Go AnoWor!” (Kang Antar)
“Hoo, sudah sampai ya?” (Kakek)
“Ini pesanan kalian, Sabit Keabadian.” (Kang Antar)
Kang Antar memberi sabit berwara hitam kemerah-merahan kepada kakek.
“Terima kasih, bayarannya sudah masuk kan?” (Kakek)
“Sudah, kalau begitu, saya permisi.” (Kang Antar)
Dia kemudiam melompat dan menghilang di atas langit.
Aku terdiam seribu bahasa melihat hal itu.
“Ini adalah senjata untukmu, agar kau bisa membela diri di dunia lain. Setiap kau membeli sesuatu di aplikasi, dialah yang akan mengantarnya.” (Kakek)
“Oh … gitu,” (Eko)
Aku kembali tersadar dan melihat ke atas, tempat dia jatuh.
Eh, itu atap sejak kapan diperbaiki?!
“Kau bisa mengambil senjata ini di fitur tas penyimpanan dalam aplikasimu nanti.”
Sabit itu menghilang dari tangannya.
“Sekarang, pertanyaan terakhir, apa kau si–” (Kakek)
“Siap bang jago!” (Eko)
Aku langsung memotong perkataannya.
“…. Oke, sebelum pergi, aku ada kata-kata terakhir untukmu sebelum pertemuan kita selanjutnya.” (Kakek)
“….” (Eko)
Aku mendengarkan perkataannya dengan fokus.
“NGETEH!” (Kakek)
Kakek berkata sambil menyodorkan cangkir kopinya.
ITU KOPI, TUA BANGKA!
“Baiklah, sampai jumpa lagi.” (Kakek)
Tiba-tiba, aku kehilangan pijakan dan jatuh ke bawah.
Aku terkejut dan ketakutan bukan main hingga menyumpahinya :
“GUA SUMPAHIN CUCUMU MANDUL, KAKEK TUA!!!” (Eko)
Aku kemudian berteriak sekencang-kencangnya.
◇
“Sayang sekali sumpahanmu tidak mempan anak muda.” (Kakek)
Kakek mulai meneteskan air mata.
“Aku sendiri saja berpisah dari istriku karena mandul … Hiks …. Mana mungkin aku punya cucu.” (Kakek)
Setelah agak tenang, Kakek kemudian mengambil cangkir kopinya dan meminumnya.
__ADS_1
“Bffft– Sejak kapan cangkir ini berisi kopi?!” (Kakek)