
"Putri mahhota, apa tidak apa apa jika saya duduk di sebelah anda?.."
"Bukankah ini adalah tempat duduk kakak anda?" Tanya Chou Ye yang merasa canggung.
"Uhm?.." -Xierra
"Itu.." -Chou Ye
"Tidak apa apa.. Lagipula, kakak tidak pernah marah sedikitpun." Jawab Xierra. Mendengar hal itu Chou Ye lega bersamaan dengan kaisar dan orang orang yang berada di ruangan tersebut. Mereka berfikir bahwa, Annchi merupakan. Orang yang kejam dan berhati dingin di karenakan auranya yang selalu mengintimidasi.
"Namun, dia akan langsung membunuh orang yang membuatnya kesal." Lanjut Xierra dengan santai sambil meminum tehnya.
Semua orang yang berada di ruangan tersebut terkejut. Bahkan, beberapa dari mereka tersedak minuman yang mereka minum.
"P..putriku.. apa kamu pernah membuat dia kesal?.." Tanya Kaisar yang juga sama terkejutnya dengan semua orang.
"Hmm.." Gumam Xierra yang berfikir.
"Bagaimana putri mahkota? Apa anda pernah membuatnya kesal?" Tanya sesorang gadis cantik yang merupakan putri ke 3 dari kekaisaran Valcke.
"Hm? Ah.."
"Sepertinya.. pernah?" Jawab Xierra dengan santai.
"A-apa?!.."
"Putriku! Apa orang itu menyakitimu? Katakan semuanya padaku!" Ucap Kaisar serius.
"..."-Xierra tidak menjawab pertanyaan kaisar dan malah menatapnya dengan tatapan dingin.
"Ada apa putri mahkota? Padahal ayahanda sudah khawatir kepadamu, tapi kamu.." Sela Chou yi dengan wajah khawatirnya(tentu saja itu hanya berpura pura).
"Hm?" Gumam Xierra yang kemudian menatap Chou Yi dengan tatapan kosong. Tentu saja Itu membuat semua orang yang melihat tatapan Xierra menjadi takut. Pasalnya, Xierra masih berusia 16 tahun dan sudah memiliki tatapan seperti itu.
Tatapannya seperti seorang yang sudah lama menderita dan sudah mengalami kematian yang tidak biasa. Matanya yang sama sekali tidak memiliki cahaya sedikitpun serta, raut mukanya yang mendatar membuat nya seperti seorang iblis yang sedang menatap rendah musuhnya.
"P..putri.." Ucap Chou Yi yang terduduk lemas.
"Ada Tiga hal yang ingin aku ingatkan kepada kalian.." Ucap Xierra yang kemudian berdiri dari tempat duduknya.
"Yang pertama.."
"Tidak ada seorangpun yang boleh memanggil kakak dengan sebutan "orang itu"."
"Tentu saja, itu bukan karena aku menyayangi kakak ataupun semacamnya. Tapi, itu karena kakak bukanlah orang yang sederajat dengan kalian semua yang merupakan orang rendahan."
Ucap Xierra yang membuat seisi ruangannya terkejut. Itu karena Xierra mengatakan bahwa mereka tidak sederajat dengan kakaknya, yang berarti, Kakak Xierra memiliki Derajat yang lebih tinggi dari pada Kaisar Kerajaan Nuvoleon.
Apalagi, saat Putri mahkota mengatakan bahwa mereka merupakan orang rendahan.
__ADS_1
"Kedua.."
"Di saat aku menghilang, aku memanglah sudah menjadi mayat yang berarti aku sudah mati." Ucap Xierra. yang lagi lagi membuat semua orang terkejut.
"A..apa maksudnya putriku?.." Tanya Kaisar yang hampir meneteskan air matanya. Dia juga terkejut saat mendengar perkataan Xierra yang membuatnya menjadi terguncang.
Dia tidak bisa menyelamatkan istri kesayangannya dan sekarang. Tanpa dia ketahui, Putri yang di tinggalkan oleh istri kesayangannya itu juga meninggal tanpa ia ketahui.
"Itu mudah. Aku mati karena di racuni oleh seseorang di istana."
"Dan tentu saja.. racun tersebut sangat lambat dan tidak bisa di deteksi oleh seorang tabib biasa." Ucap Xierra yang kemudian menggambik sesuatu dari balik Hanfunya.
Itu adalah barang/berkas yang dapat membuktikan kasus kasus pembunuhan di istana(kasus pembunuhan permaisuri dan Xierra.)
"Untunglah ibu, aku bisa mendapatkan kakak yang hebat dari dunia lain..dengan begitu, dendam mu bisa aku balaskan.."
"Bagaimana? Bukankah putrimu ini hebat huh?.." batin Xierra yang secara tak sadar meneteskan air mata.
...||FLASHBACK||...
Beberapa minggu sebelum Mereka pergi ke kerajaan nuvoleon, Annchi memikirkan sesuatu.
"Kakak, ada apa? Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Xierra yang Khawatir kepada Annchi.
"Tidak."
"Huh?.."
"Bukankah kakak tidak ada hubungannya lagi dengan masalahku dan ibuku..?" Tanya Xierra lagi yang terkejut.
Dia tidak menyangka bahwa Annchi masih ibgin membalaskan dendamnya dan ibunya. Padahal, Annchi sudah tidak berada di dalam tubuhnya.
"Tentu saja."
"Kau adalah adikku sekarang. Otimatis ibumu adalah ibuku."
"Namun, tidak dengan ayahmu. Aku tidak menganggap nya." Jawab nya santai.
"U..uh.. ja..jadi begitu.." Ucap Xierra yang menangis terharu.
Melihat Xierra yabg menangis, Annchi mengelus kepalanya dan menyingkurkan air mata Xierra yang mengalir.
"Sudahlah." Ucapnya.
"Uhm.."
"Bao Xu."
"Bao Fu." Ucap Annchi memanggil kedua penjaga bayangannya.
__ADS_1
"Ya tuan." Jawab Bao Xu dan Bao Fu serentak.
"Pergi dan dapatkanlah bukti kasus pembunuhan permaisuri kerajaan Nuvoleon dan Putri mahkota."
"Jangan sisakan sedikitpun."
"Baik" Jawab Bao Fu dan Bao Xu yang kemudian menghilang.
"Baiklah, sekarang tidak apa apa. Pergi bermainlah dengan Cayo. Dia sedang bermain dengan anak anak di panti asuhan." Ucap Annchi kepada Xierra denga sedikit tersenyum.
"Baik kakak" Jawab Xierra yang tersenyum lebar dan kemudian melesat pergi ke tempat Xierra.
Sedangkan Annchi? Dia pergi ke tempat Gio dan Jia untuk berlatih menggunakan Kipas yama nya.
...----------------...
Beberapa saat kemudian, di saat Annchi sedang berlatih. Bao Fu dan Bao Xu muncul di dekat Annchi dan memberikan Berkas berkas/barang bukti yang mereka temukan.
"Tuan."
"Hm."
"Apa sudah?" Tanya Annchi yang kemudian berhenti berlatih. Bigitu pun juga dengan Gio dan Jia.
"Ada apa An an?" Tanya Gio yang penasaran.
"Aku menyuruh mereka mencari bukti kasus pembunuhan ibu Xierra dan Xierra sendiri."
"Ohh.." -Gio
"Kenapa kamu tidak memberitahu kan itu pada kami An an? Bukankah kami bisa mencarikannya sendiri?" Tanya Jia yang mendekat pada Annchi.
"Jika aku menyuruh kalian, siapa yang akan mengajariku untuk memakai kipas yama ini huh?" Tanya Annchi ketus.
"Ah.. iya juga.." Jawab Jia sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal.
"Baiklah berikan padaku." Ucap Annchi kepada Bao Xu Dan Bao Fu.
Mereka berdua kemudian memberikan semua barang bukti yang mereka temukan kepada Annchi tanpa berlama lama dan kemudian menghilang.
Setelah di berikan barang barang bukti, Annchi memeriksa semua nya dan tersenyum kecil.
"Bagus." Gumamnya sambil menyeringai.
"Uh.. An an, bisakah kamu berhenti tersenyum seperti itu? Itu menakutkan!.." Ucap Gio Yang ngeri dengan senyuman Annchi. Begitupun juga dengan Jia.
"Ha.. baiklah baiklah. Kita akan melanjutkan latihannya nanti. Pergi bersenang senanglah." Ucap Annchi kepada mereka berdua dan kemudian menghilang.
...||FLASHBACK OFF||...
__ADS_1