
Hutan Arimba.
Sudah 30 hari Haldez tidak melihat Arthur di hutan ini, beberapa hewan yang dia tanyai semuanya seolah menutup-nutupi sesuatu. Burung yang selalu membawa kabar pun tak pernah lagi berterbangan di dekatnya.
"Ular, katakan padaku dimana Arthur? apa dia sudah mendapatkan darrah succi?" tanya Haldez, tatapannya begitu tajam ke arah ular. Dengan mantranya dia membuat ular itu tak bisa bergerak.
"Aku tidak tahu Hald, sudah lama aku tidak bertemu dengan Arthur," ucap ular itu bohong, dialah yang membantu Arthur ketika hendak mendapatkan gadis berdarrah succi itu.
Arthur dan Haldez memiliki sifat yang berbeda jauh, meskipun sama-sama licik. Arthur hanya memakan hewan untuk kebutuhannya, tapi Haldez tidak, saat marah pun dia akan melenyapkan nyawa hewan.
Sifat kejam itu tak disukai oleh para hewan, seluruh hewan di hutan ini berpihak kepada Arthur.
"Aku tidak akan segan untuk membunuhmu ular."
"Bunuh saja, aku tidak masalah. Kematian memang akan mendatangi semua mahkluk hidup."
Jawaban itu membuat Haldez meradang! saat dia mencengkram kuat tangan kanannya, ular itu kehabisan nafas. Tubuhnya yang terkena Mantra tak bisa menggeliat meski sakit di sekujur tubuh.
Sampai akhirnya ular itu meregang nyawa.
Burung bertebangan di atas sana, 2 diantaranya menuju Arthur untuk menyampaikan kabar ini.
Mendekati 100 hari kebersamaan Arthur dan Eleanor, kemampuan Arthur sebagai siluman pun semakin memudar. Saat ini ekornya hanya tinggal 8.
__ADS_1
Ketika Eleanor bertanya kemana yang 1, Arthur selalu menjawabnya dengan bercanda. Membuat wanita cantik itu tak lagi bertanya.
Arthur kini juga sudah memiliki seorang asisten pribadi-John. seseorang yang selalu berada di sampingnya jika Eleanor tidak ada.
Selalu berada di tengah keramaian tidak akan pernah membuat Hera menampakkan diri.
Drt drt drt, ponsel Eleanor bergetar di atas meja riasnya.
Eleanor yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi mendengar itu.
Melihat ada panggilan masuk dari Priska.
Eleanor menjawabnya.
"Halo Pris."
"Maafkan aku Pris, banyak hal yang sudah terjadi dan aku tidak bisa menceritakannya pada mu."
"Apa suami mu melarang kita bertemu?"
Eleanor tidak menjawab, semenjak mereka membahas tentang buku kuno yang dibacanya dengan Priska, Arthur memang tak mengizinkan Eleanor untuk bertemu dengan sang sahabat.
Banyak hal yang Arthur ucapkan sebagai alasan, salah satunya untuk tetep melindungi permatta sucii.
__ADS_1
Setelah 100 hari barulah Eleanor bisa bertemu dengan teman-teman sebebasnya. Kini Eleanor harus tetap berada di rumah.
"Bukan begitu Pris_"
"Iya, pasti dia melarang mu untuk menemui aku. Why? kenapa El?"
"Bukan begitu Pris, kita akan bertemu saat kuliah nanti."
"Benarkah?"
"Iya, aku janji, saat kita kuliah nanti, tidak akan hal seperti ini lagi, kamu juga akan ku kenalkan dengan suami ku."
Priska terdiam, entah kenapa dia merasa tak nyaman tentang hal ini. Entah kenapa ada sesuatu hal besar yang disembunyikan oleh suami Eleanor.
Sebenarnya siapa pria itu? selalu pertanyaan itu yang ada di benak Priska.
"Pris, aku melihat mobil suamiku sudah pulang. Aku matikan teleponnya ya?"
"Baiklah," balas Priska dengan suaranya yang lesu.
setelah panggilan itu mati, Eleanor menghapus panggilannya dengan Priska.
Menyambut sang suami saat dia masih menggunakan handuk, beberapa saat lalu dia baru saja mandi. Menerima telepon itu seraya berdiri di dekat jendela memperhatikan mobil suaminya, datang atau belum.
__ADS_1
Eleanor seperti terkurung di rumah mewah ini.
Rumah yang kini dia tempati bersama Arthur dan beberapa pelayan.