Eleanor Hasrat Sang Penguasa

Eleanor Hasrat Sang Penguasa
Bab 30 - Akan Rela


__ADS_3

Hari bergulir.


Pagi Eleanor keluar dari dalam kamarnya dan menemui seluruh keluarga di meja makan.


Tapi disana hanya ada mommy Arra. Beberapa pelayan sibuk dengan tugasnya masing-masing.


"Daddy dan Aston dimana Mom?" tanya Eleanor, dia duduk di kursinya.


"Sudah pergi sayang, mereka berdua terlihat buru-buru."


"Kemana memangnya?"


"Tidak tahu, daddy belum sempat cerita. Apa kamu ada perlu dengan daddy?"


"Aku mau pinjam 1 proposal milik daddy."


"Ambil saja di ruang kerjanya."


"Iya nanti," balas Eleanor dengan kepala mengangguk.


Mereka berdua sarapan bersama, banyak yang mereka bahas tentang pendidikan Eleanor. Dia hampir menyelesaikan studinya setelah banyak mengambil mata kuliah percepatan. Kini Eleanor akan segera menghadapi ujian skripsi.


Jadi jika butuh bantuan apapun, mommy Arra dan daddy Erzan selalu siap mengulurkan tangan.


Masuk ke ruang kerja sang ayah, Eleanor menyalakan lampu utama. Membuka tirai jendela yang masih di tutup.


Duduk di kursi kerja itu dan mulai mencari apa yang dia butuhkan. Tapi bukan proposal yang Eleanor temu, melainkan sebuah berkas yang membuat kedua matanya membola.

__ADS_1


"Art," lirihnya dengan jantung yang berdegup hebat, sementra tenggorokannya mulai terasa tercekat.


Puing-puing kenangan itu seperti kembali menyatu, membawa kehampaan yang selama ini selalu menemani.


Art.


Hanya 1 kata itu yang mampu dia ucap, sementara kata yang lain seperti menghilang. Bahkan ruangan ini seketika jadi sunyi senyap.


Eleanor bahkan sampai tidak mendengar saat mommy Arra membuka pintu.


Saat mommy Arra mengajaknya bicara.


"El!" panggil mommy Arra dengan suara yang cukup keras. hingga akhirnya berhasil membuyarkan Lamunan sang anak.


Berkedip dengan cepat Eleanor menoleh ke arah sumber suara dan melihat sang Ibu ada di ambang pintu ruangan ini.


"Sudah Mom."


Eleanor menutup berkas itu dengan cepat, memeluknya di dadda dengan sangat erat, seolah tidak ingin kembali kehilangan meski sebentar.


tatapannya terlihat jelas begitu gusar, namun sekuat tenaga mencoba biasa saja ketika di hadapan mommy Arra.


Eleanor telah berjanji untuk melupakan pria itu dan melanjutkan hidupnya. Jadi kini tidak akan kembali menunjukkan kesedihan tentang Arthur pada sang ibu.


"Aku akan langsung pergi ke kampus Mom," pamit Eleanor.


Mommy Arra tersenyum, dia elus wajah sang anak penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Iya sayang, pergilah dan nikmati hari mu."


Eleanor mengangguk.


Sepanjang perjalanan menuju kampus, di dalam mobilnya Eleanor membuka berkas itu kembali. Melihat lagi sebuah foto seorang pria yang begitu dia rindukan.


Bagaimana bisa Daddy Erzan mendapatkan ini semua.


Arthur Heil.


Apa dia Art.


Eleanor menggeleng pelan, terasa ada air panas yang mengalir di kedua pipinya. Air mata Eleanor akhirnya jatuh.


Sadar lah El, Arthur sudah menghilang.


Kata Haldez meskipun dia benar jadi manusia dia tidak akan mengingat mu. Dia akan hidup dengan jati diri yang baru.


Keluarga Heil.


Perlahan Eleanor menghapus air matanya sendiri, menutup dokumen itu lagi dan menyimpannya di dalam tas.


"Tapi aku harus melihatnya secara langsung, aku harus pastikan itu Arthur atau bukan, aku harus pastikan, dia mengingat ku atau tidak."


Menatap jalanan yang dia lewati, Eleanor menyentuh daddanya yang terasa sesak.


Setelah lama menunggu, kini akhirnya ada sedikit tabir yang terbuka. Meski kisahnya begitu tragis, andai dia benar adalah Art. Eleanor akan rela.

__ADS_1


__ADS_2