
Jam 11 siang Eleanor mulai bersiap untuk pergi ke kantor sang suami. Siang ini katanya Art mau makan bekal yang dia bawa.
Haldez sudah menunggu wanita itu bersiap, menyiapkan bekalnya. Di duduk di kursi meja makan, terus memperhatikan pergerakan wanita itu.
"El?" panggil Haldez.
Eleanor mengangkat wajahnya yang sejak tadi menunduk menyusun nasi dan lauk di kotak bekal.
"Iya Hald, kenapa?"
"Apa kamu habis menangis?"
Hening, Eleanor tidak langsung menjawab. Namun setelah ada jeda dia menggeleng.
"Tidak," sambungnya kemudian.
"Iya, kamu habis menangis? kenapa? Art menyakiti mu?"
Gelengan Eleanor semakin kuat.
"Tidak Hald, aku tidak menangis, mungkin ini karena tadi aku sedih saat menonton drama kesukaan ku," kilahnya.
Kedua tangannya jadi buru-buru menyiapkan bekal itu.
"Sudah selesai, ayo pergi, Art pasti sudah menunggu," Eleanor berjalan tergesa untuk segera pergi. Haldez pun mengikuti.
"Nanti antar sampai depan perusahaan saja, setelahnya pergilah, aku akan pulang bersama Art di sore hari,"
"Katanya kamu mau pergi ke taman kota, pergilah kesana,"
"Oh iya Hald, kata Art di hutan Arimba hanya ada kalian berdua saja, apa kalian saudara?"
__ADS_1
"Hem, sebenarnya kami 1 keturunan, aku lebih tua dari pada dia."
"Berarti kalian saudara, harus saling menjaga nantinya."
Haldez menatap Eleanor dengan aneh, kenapa pula Eleanor harus bicara tentang nanti untuk saling menjaga. Hald seperti kembali mendengar permintaan Arthur, tentang dia yang harus menjaga El ketika Art menghilang.
Sepanjang perjalanan mereka, Eleanor terus bicara banyak hal. Dia hanya ingin mengalihkan perhatian Haldez pada kesedihannya. Sampai akhirnya mereka tiba di perusahaan itu.
"Terima kasih Hald, aku pergi dulu."
"Aku antar sampai ke dalam ya?"
"Tidak usah."
Hald terdiam, hanya mampu melihat Eleanor yang sedikit berlari masui ke dalam perusahaan itu.
Beberapa karyawan yang berpapasan dengan Eleanor langsung menundukkan kepalanya memberi hormat.
Dan Eleanor membalasnya dengan senyum. Berulang kali di menenangkan dirinya sendiri, jangan sampai bersedih apalagi menangis ketika di hadapan sang suami.
Masih di ambang pintu, El dan Art saling tatap dengan bibir yang sama-sama tersenyum.
"Aku sudah menunggu mu."
Eleanor masuk setelah menutup pintu itu lagi, melangkah cepat menghampiri sang suami. Meletakkan kotak bekal di atas meja dan memeluk sang suami erat.
Sangat erat dan berulang kali El menghirup dalam aroma tubuh sang suami.
Selama ini hanya Arthur yang takut kehilangan, takut berpisah, jadi selalu ingin berada di samping sang isti. Tapi sekarang Eleanor pun merasakan hal yang sama.
Tapi sikap El yang seperti ini, cukup membuat Art merasa heran.
__ADS_1
"El."
"Aku sangat merindukan mu Art."
Arthur tersenyum.
"Sudah berapa jam kita berpisah?"
"4 jam."
Kini Arthur tertawa, dia lantas mengangkat tubuh sang istri untuk duduk di atas meja, sementara dia berdiri di antara kedua kaki El yang terbuka.
Arthur menatap lekat wajah sang istri ...
"Kamu habis menangis?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Drama yang ku tonton tadi sedih sekali, suami dan istri akhirnya pisah, aku tidak mau seperti itu, aku ingin selamanya kita seperti ini," rengek Eleanor, seolah tangisnya benar-benar karena drama itu.
Eleanor bahkan lebih dulu menarik tengkuk sang suami dan membuat mereka saling berpaut.
Sementara Art segera mengunci pintu, mematikan lampu utama dan hanya menyisahkn lampu temaram, menutup tirai jendela menggunakan mantranya yang masih tersisa, lalu segera memperdalam ciuman itu.
Ada rasa yang tak bisa mereka utarakan dari penyatuan kali ini. Sebuah rasa yang berselimut takut.
Sementara waktu terus berjalan dan tak bisa di hentikan.
Di hari ke 99 Art dan Eleanor menciptakan cara berpisah mereka masing-masing.
__ADS_1
"El, ayo kita makan malam di luar, aku akan menyiapkan makan malam paling romantis untuk mu."
"Setuju dan aku akan berdandan sangat cantik."