Eleanor Hasrat Sang Penguasa

Eleanor Hasrat Sang Penguasa
Bab 37 - Hassrat Sang Penguasa


__ADS_3

Ciuman itu kasar sekali, sampai Eleanor tak bisa menghindarinya dan hanya bisa menangis.


Sampai akhirnya Arthur melepas ciuman itu dan melihat bibir El yang terlihat merah, bahkan ada sedikit darah disana.


Dia tak bisa mengendalikan diri hingga mengigit bibir itu.


Eleanor adalah wanita paling cantik yang pernah dia lihat, kedua matanya yang biru seperti lautan, membuatnya selalu terpaku untuk memandang.


"Aku adalah Arthur suami mu El, kenapa menangis seperti seperti itu."


"Brengssek! Lepas!! ARGT!!!" pekiknya kuat sekali, berharap akan ada orang yang mendengar dan menolongnya.


Tapi sampai suara teriakannya menghilang tetap saja tak ads orang yang datang.


Arthur tersenyum miring, dia adalah sang penguasa disini. Lalu siapa berani menghentikannya?


"HALD!!" pekik Eleanor lagi, sangat kuat hingga terdengar nyaring di telinga Arthur.


"Sstt, jangan habiskan tenaga mu sayang. Kita belum melakukan apa-apa," bisik Arthur. Dia bicara tepat di telinga Eleanor.


Wanita cantik itu lantas menghenttakkan kepala mereka dengan sangat kuat.


Plak!


Awh! Arthur saja merasa sakit, tapi Eleanor seperti tidak merasakan apapun.


"Menyingkir dari tubuh ku!"


"Kamu terlalu berani El, sudah dalam keadaan seperti ini tapi masih melawan ku."

__ADS_1


"Kamu adalah pria yang paling menjijjikkan yang pernah aku tau."


"Benar, mana ada pria suci di dunia ini."


"Kamu ingin lihat betapa menjijjikkannya aku?" timpal Arthur lagi.


Ya, pria itu memang nampak sempurna di luar, namun begitu licik di dalam.


Eleanor menjatuhkan air matanya lagi. Melawan tak bisa, karena kini Arthur mulai melepas kancing bajunya satu per satu.


Eleanor menangis, kedua tangannya di cengkram kuat.


Yang bisa dia lakukan saat ini hanyalah memohon.


"Stop, jangan lakukan apapun, aku mohon."


"Anggap saja aku suami mu El."


"Bagaimana jika aku memang suamimu?"


Eleanor menggeleng dengan cepat.


"Tidak, dia sudah tidak ada."


Arthur menghentikan aksinya, dia melepas 3 kancing atas milik Eleanor.


"Aku tidak bohong, kamu sangat cantik."


"Jangan begini, lepaskan aku."

__ADS_1


"Baru kali ini aku bernegoisasi untuk hal seperti ini, biasanya tiap wanita selalu melempar tubuhnya lebih dulu ke atas ranjang. Tapi baiklah ... aku tidak ingin kamu menangis saat kita melakukannya. Tapi ingat, saat aku melepas tangan dan kaki mu jangan coba-coba kabur."


Eleanor hanya diam.


Hanya merasakan Arthur yang perlahan melepaskan cengkeraman di kedua tangannya. Lalu bangkit hingga tidak menindihnya lagi.


"Duduk di atas pangkuan ku," titah Arthur.


Eleanor tidak melihat jalan untuk kabur, dia masih ingat dengan jelas saat Jean mengunci pintu itu.


Jadi dengan sangat terpaksa, dia mendudukkan dirinya di atas pria badjingan ini.


"Bodoh sekali suami mu, kenapa dia harus meninggalkan istri secantik kamu." Arthur membelai wajah Art.


"Saya benar-benar tidak menyangka jika anda seperti ini Tuan," Eleanor tersenyum masam.


Mana mungkin Arthur-nya semenjijjikkan ini.


Arthur tertawa pelan.


"Selama aku tinggal di New Kingston, jadilah wanita ku, mengerti?" tanya Art.


Sebuah pertanyaan yang terdengar seperti perintah dan tak bisa di bantah.


Kedua orang tua Eleanor pun begitu banyak berharap padanya, tentang proyek ini dan tentang dia yang tidak lagi mengingat tentang Art.


Eleanor tidak menjawab apapun, hanya menganggukkan kepalanya kecil.


"Gadis pintar," ucap Arthur, dia elus puncak kepala Eleanor dengan begitu lembut. Tangannya berhenti di tengkuk, menahannya dan mencium Eleanor lagi.

__ADS_1


Menyesap sisa darrah yang tersisa disana.


Eleanor akan jadi hasrrat sang penguasa.


__ADS_2