
"Namaku Eleanor Harold, bisa kamu sampaikan pada Jean atau Khaled?" ucap El, bicara pada bagian resepsionis di kantor ini.
Mengingat kuasa yang dimiliki oleh Arthur Heil membuatnya sadar diri untuk menunggu. Pria itu jelas memiliki kesibukan yang luar biasa.
Mungkin di jam 9 pagi ini, pria itu belum tiba di perusahaan.
Eleanor sudah melihat kiri dan kanan, mencari kursi tunggu.
"Nona Eleanor, bisa saya lihat kartu tanda pengenal anda."
"Baik."
Eleanor membuka tas nya, membuka dompet dan memberikan kartu yang diminta.
"Tuan Arthur sudah menunggu Anda, mari saya antar."
Eleanor tersenyum kikuk, berarti semalam daddy-nya dan pria itu sudah membicarakan tentang kedatangannya kali ini.
Kenapa Daddy tidak bilang, ku kira ini mendadak, ternyata sudah direncanakan.
Eleanor sedikit mendengus, merasa di khianati oleh sang Daddy.
Tiba di lantai 7, karyawan itu mengantarkan Eleanor hingga tiba di meja Jean dan Khaled.
__ADS_1
"Asisten Je, asisten Kha, beliau adalah nona Eleanor."
Kedua asisten itu menundukkan kepalanya memberi hormat, tentu saja mereka berdua tahu, bahkan sangat mengenalnya.
"Mari Nona, saya antar anda untuk menemui tuan Art." Jean yang bicara.
Eleanor mengangguk kecil dan tersenyum.
Ruangan Arthur tidak jauh dari sana, mereka hanya berjalan sekitar 10 langkah dan akhirnya tiba.
Jean mengantarkan Eleanor sampai benar-benar masuk, sampai Arthur bangkit dari kursi kerjanya dan menyambut sang tamu.
"Saya permisi Nona, Tuan."
"Baik." Jean tersenyum kecil, dia berjalan mundur 2 langkah dan kemudian keluar dari ruangan itu.
Eleanor mengerutkan dahi, padahal diantara mereka tidak akan ada pembicaraan serius. Lalu kenapa? Arthur seolah tak ingin di ganggu.
Eleanor bahkan tidak membawa berkas apapun, hanya membawa sebuket bunga mawar putih ini di tangannya.
"Ini untuk Anda Tuan, selamat atas berdirinya The Royal Heil di New Kingston." Eleanor mengulurkan bunga itu,. bibirnya pun tersenyum sangat manis.
Arthur masih diam, menatap lekat wajah wanita ini. Semakin dia tatap Eleanor nampak begitu cantik.
__ADS_1
"Terima kasih Nona Eleanor, harusnya tidak perlu repot-repot untuk datang kesini."
"Sebenarnya aku juga tidak mau, tapi Daddy memaksa," Eleanor ingin mencairkan suasana dengan candaan.
Tapi wajah Arthur terlihat tak senang mendengarnya, membuat Eleanor jadi kikuk, Jadi kaku, jadi bingung, apalagi Arthur tidak menawarinya untuk duduk. Mereka hanya terus saling berdiri dan berhadapan di sana.
Tatapan Arthur makin lama membuat Eleanor merasa tak nyaman.
"Sepertinya anda sedang sibuk, saya akan langsung pamit," ucap Eleanor, mulai tak tenang, karena tatapan itu makin membuatnya teringat akan sang suami.
"Kenapa buru-buru, kamu bahkan mendatangi aku di Austane."
"Kenapa Anda bisa bicara seperti itu?"
"Tuan Erzan dan Nyonya Arra sudah menceritakan semuanya padaku, tentang suamimu yang memiliki wajah sama persis seperti aku," balas Arthur, bibirnya tersenyum miring.
Tanpa segan dia bahkan menarik pinggang Eleanor untuk di dekap.
"Lepas!!" pekik Eleanor, dia bahkan bergerak berontak.
Hingga ada sedikit pertarungan di antara mereka, namun berakhir dengan Eleanor yang terjerembab di atas sofa dan Arthur menindihnya dengan kuat.
"Kamu sangat cantik nona El, anggap saja aku adalah suami mu dan ayo kita bersenang-senang."
__ADS_1
"Shiitt! Lepas!! dasar pria menjijjikkan!! Emph.." Eleanor tak bisa buka suara lagi saat Arthur membungkamnya dengan sebuah ciuman.