
Dadda Eleanor sesak sekali. Dia menangis tanpa suara. Udara disekitarnya seolah habis. Tak henti-henti Tuhan menguji tentang cintanya.
Ya Eleanor sadar, dia telah jadi manusia paling berdosa karena menyatu dengan siluman. Tapi tak menyangka jika jalan ini begitu sulit untuk dilalui.
Entah berapa purnama yang telah lewat, tapi kesedihan ini tak kunjung usai.
Sementara Hald, dia segera menarik tangan Priska untuk keluar dari sana. Menggenggam erat tangan wanita itu agar tak bersuara memecah lamunan Eleanor.
Dugaan Hald benar, pria itu adalah Art.
Sejak pertama mengunjungi kediaman Arthur Heil, Hald seperti mencium aroma yang tak asing. Namun hanya samar-samar hingga membuatnya ragu.
Dan semalam adalah bulan Purnama, dia sengaja mengawasi mansion milik Arthur Heil dan mendengar lolongan dari lantai 3 mansion itu. Teriakan rubah paling ngilu yang pernah dia dengar.
Saat malam Haldez mempertajam penciumannya dia masih mencium aroma sesama kaumnya, namun saat pagi aroma itu benar-benar telah hilang.
Di dalam tubuh Art tidak ada lagi jiwa siluman. Haldez masuk ke dalam kamar Arthur sebelum Eleanor tiba.
Ketika di Austane dia memang tidak mencium aroma rubah itu, karena kalah dengan aroma menyengat yang lain.
Menyadari itu semua Haldez lantas menawarkan tentang pernikahan ini. Merencanakan semuanya dengan Eleanor. Mengatakan bahwa kini Art telah jadi manusia seutuhnya, sementara hari-hari yang lalu belum.
__ADS_1
Tapi bagaimana kisahnya Haldez sungguh tidak tahu.
Di hari pertama Art jadi manusia, pria itu pasti akan mengejar Eleanor.
Hingga akhirnya pria itu benar-benar muncul dan mengaku sebagai Art.
Sedangkan untuk Eleanor, sejak pertama kali berhubungan baddan dengan Arthur, Eleanor pun mencium aroma tubuh suaminya. Tapi El selalu merasa bahwa Arthur tak ingin diketahui, tak ingin dianggap Art-nya.
Meskipun berulang kali mengatakan bahwa dia Art, tapi bibirnya tersenyum miring.
Kegamangan itu pula lah yang membuat Eleanor bersedia mengikuti rencana Hald.
Eleanor ikut bersimpuh, menangis dan menatap wajah Art yang pucat.
"Apa benar kamu Art?"
"Ini aku El, bukankah kita menghabiskan malam di hutan Arimba bersama kunang-kunang?"
Tangis Eleanor makin pecah, sampai sesenggukan dan pundaknya naik turun.
"Kenapa? kenapa harus menyakiti aku lebih dulu? jika kamu mengatakan sejak awal tanpa menyebutkan semua itu aku akan tetap percaya pada mu Art."
__ADS_1
"Maafkan aku El, banyak hal yang tak bisa aku katakan padamu. Biar itu semua jadi legenda."
Eleanor masih menangis, dan Arthur segera beranjak untuk mendekat. Menjangkau tubuh Eleanor hingga masuk ke dalam dekapannya.
Eleanor tidak menolak ataupun menepis, dia pun membalas pelukan itu lebih erat.
Lalu memukul punggung Arthur berulang kali.
Sementara tangisnya makin menjadi-jadi.
"Terima kasih Art, terima kasih telah kembali," lirih Eleanor.
Jika Arthur tidak ingin diketahui sejak awal, maka Eleanor pun akan menutupinya juga, jika semua itu harus jadi legenda, maka Eleanor akan menutup mulutnya rapat.
Tidak ada yang lebih dia inginkan selain Arthur.
"Terima kasih sudah bertahan El, terima kasih sudah menunggu ku." Arthur melerai pelukan meraka dan mencium bibir istrinya.
Eleanor menutup mata dan membalas ciuman itu pula, cinta dan rindu yang menggebu jadi satu.
Ada air mata yang sama-sama mengalir dari paguttan itu.
__ADS_1