Eleanor Hasrat Sang Penguasa

Eleanor Hasrat Sang Penguasa
Bab 24 - Seperti Mimpimu


__ADS_3

"Haldez yang akan mengantar mu nanti, ya?" ucap Arthur.


Saat ini dia dan Eleanor sudah berada di teras rumah. Arthur sudah siap pergi ke kantor. Tapi belum puas menatapi sang istri.


"Sepertinya aku harus minta libur lagi dengan daddy."


"Kenapa?" tanya Eleanor dengan cepat.


"Ingin di rumah saja menghabiskan waktu bersama mu."


Eleanor mencebik, mencubit lengan Arthur. Jadi merasa gemas sendiri gara-gara kalimat itu.


"Pergilah, nanti kan aku ke kantor."


"Iya iya," balas Arthur pasrah.


Eleanor melambai saat mobil suaminya mulai melaju. Kembali masuk ke dalam rumah dan menuju kamarnya.


Sedikit berlari, sudah tidak sabar untuk tiba disana dan membaca buku pemberian Priska.


Senyum Eleanor terkembang lebar, menjangkau buku itu di atas meja rias. Lalu dengan riang membawanya ke atas ranjang.


Membuka buku itu satu per satu, seperti sedang membaca tentang suaminya sendiri.


Seekor siluman rubah bisa melepas permatta succi dan memasangnya pada siapapun. Sebagai pengobatan atau untuk menjadi manusia.


Senyum Eleanor masih terukir.

__ADS_1


Ya, demi menyelamatkan aku Arthur melepas permatta succinya.


Makin menarik buku yang dia baca, Eleanor pun membacanya secara langsung. Bukan dari hati lagi.


"Manusia berdarrah succi, 100 hari."


"Setelah 100 hari, permatta succi itu aka hilang dan siluman rubah akan benar-benar jadi manusia. Sementara manusia yang dijadikan perantara akan mengalami sakit tak terkira hingga kehilangan nyawa ..."


Deg!


Eleanor tidak bisa lagi melanjutkan bacaannya. Karena seketika sesak itu menguasai dada. Siluman dan manusia memang tidak akan pernah bisa bersatu.


Terlalu naif mereka berdua yang banyak berharap pada hubungan ini.


Diantara keduanya harus ada yang menghilang.


"Apa Art tahu tentang ini?" gumam El dengan kedua mata yang kini tatapannya nampak kosong.


"Tidak, dia tidak tahu, yang Art tahu hanya cinta yang bisa membuatnya jadi manusia."


"Tapi kami sudah saling mencintai, tapi Art tetap jadi siluman dan permata ini tetap ada di tubuh ku,"


"Itu artinya bukan cinta yang jadi penentu, itu artinya memang harus ada yang berkorban di antara kami."


Tanpa Eleanor sadari ada air mata yang jatuh dari kedua matanya. Jatuh yang semakin deras hingga tak bisa dia hapus. Berhasil membasahi wajahnya.


Elenaor merobek buku itu hingga kepingan kecil-kecil.

__ADS_1


"Art tidak boleh membaca buku ini, dia tidak boleh tau."


Srak!


Srak!!


Srak!


Satu per satu lembaran itu koyak. Eleanor adalah yang paling tahu betapa Arthur ingin jadi manusia.


Mengakhiri keabadian dalam kesendiriannya.


Eleanor menangis, Art telah hidup beratus-ratus tahun dan terjebak di hutan Arimba.


Art sangat ingin memilki kehidupan yang sesungguhnya, membangun rumah tangga, memiliki anak-anak.


Setelah itu kematian bukan lagi hal yang dia takutkan. Karena kenangan indah itu sudah dia dapatkan.


Eleanor terus menangis, cintanya teramat besar pada pria itu. Jadi biarlah dia yang berkorban nyawa.


"Art tidak boleh tahu buku ini, permatta succi ini harus tetap tertanam dalam tubuhku hingga 100 hari."


Tes! air mata itu terus jatuh. Sampai akhirnya reda saat buku itu telah hancur lebur. Kamarnya berserak penuh dengan sobekan kertas.


Eleanor menghapus air matanya. Coba tersenyum untuk hidup Arthur.


"Ya, kamu harus hidup Art, jadilah manusia seperti mimpi mu."

__ADS_1


__ADS_2