Eleanor Hasrat Sang Penguasa

Eleanor Hasrat Sang Penguasa
Bab 35 - Bunga Mawar Putih


__ADS_3

Eleanor hanya punya waktu sebentar untuk membersihkan tubuh, dengan buru-buru dia kembali menemui semua orang di meja makan dan bergabung.


Arthur Heil tidak hanya datang sendiri, dia bersama 2 orang kepercayaannya, tangan kiri dan kanan, Jean seorang wanita dan Khaled seorang pria.


"Maaf menunggu."


"Tidak masalah nona El." Arthur yang menjawab.


Makan malam itu pun berlangsung, pembicaraan didominasi oleh daddy Erzan dan Arthur yang membicarakan tentang bisnis. Mereka berdua bahkan berencana untuk bekerja sama.


Diam-diam Eleanor jadi pengamat, semakin dia lihat Arthur Heil jelas semakin berbeda dengan Art-nya.


Art-nya selama ini tidak pernah suka makanan yang terlalu manis, tapi lihatlah Arthur Heil itu, berulang kali menambah kecap di dalam makanannya.


Seperti anak kecil.


"Eleanor baru saja lulus kuliah, dia yang akan menangani kerja sama kita nanti," ucap Daddy Erzan.


Eleanor tidak terkejut sedikitpun dengan titah sang ayah, tentang hal itu pun selama ini sudah dia pikirkan. Penerus perusahaan Harold Kingdom adalah dia dan Aston.


Hanya tidak menyangka jika kolega pertama yang bekerja sama dengannya adalah Arthur Heil.


Pria pemilik wajah suaminya.


Makan malam itu selesai ketika waktu menunjukkan jam 8 malam. Mereka semua berpindah ke ruang tengah.

__ADS_1


Tapi Eleanor pamit lebih dulu untuk undur diri. Tentang bisnis bisa mereka bicarakan nanti.


Huh! bersandar pada pintu kamarnya, Eleanor membuang nafas kasar.


Arthur Heil benar-benar nampak seperti suaminya, bagaimana bisa dia bersikap biasa saja. Sementara semua kenangan indah itu masih terbayang dengan jelas.


"Sadar lah El, sadar, tenangkan dirimu."


Di bawah sana.


Pembicaraan masih terus berlanjut, tapi bukan lagi membicarakan tentang bisnis. Arthur menceritakan bahwa dia pernah bertemu dengan Eleanor ketika Austane, di makan malam tuan George. Sekitar 1 bulan yang lalu.


Pria itu menceritakan semuanya ketika Eleanor tidak lagi ada di sana. Tentang tatapan Eleanor yang dalam ketika melihat ke arahnya.


Saat itu Eleanor tidak lihat, ketika Arthur memperhatikannya lekat. Arthur lihat saat Eleanor nyaris jatuh pingsan dan diselamatkan oleh seorang pria.


Mommy Arra dan Daddy Erzan lantas saling pandang. Sama-sama bertanya darimana Eleanor tahu tentang Arthur Heil.


"Kebetulan sekali kalian pernah bertemu, semoga itu adalah pertanda tuhan bahwa kerja sama kita akan berjalan baik," balas Daddy Erzan. Dia tidak akan membahas tentang menantunya itu.


Pria badjingan yang sudah dia anggap mati.


Pagi datang.


Eleanor diminta oleh Daddy Erzan untuk mengunjungi kantor Arthur.

__ADS_1


Kantor itu masih baru, sekitar 1 Minggu lalu peresmiannya. Eleanor diminta untuk membawa bunga sebagai ucapan selamat.


Karena Minggu lalu saat pembukaan kantor Daddy Erzan hanya datang bersama dengan mommy Arra. Sementara Eleanor sedang sibuk mengurus persiapan sidang skripsinya.


"Baiklah Dad, aku akan mengunjungi tuan Art."


"Terima kasih sayang, Daddy sangat berharap banyak padamu tentang proyek ini."


"El," panggil mommy Arra.


"Iya Mom."


"Apa begitu sulit bekerja sama dengan Arthur Heil? kamu ingin menolaknya."


"Tidak Mom, aku tau dia bukan Art."


Mommy Arra sebenarnya sangat bersedih ketika mendengar anaknya bicara seperti itu. Dia dan sang suami Bahkan sudah sadar jika kepergian Eleanor ke Austane 1 bulan lalu juga pasti untuk meyakinkan hal ini.


"Baiklah, hidup tetap harus berjalan El, mommy selalu mendoakan untuk kebahagian mu."


Eleanor tersenyum lebar, sungguh tak ingin membuat kedua orang tuanya khawatir.


Setelah sarapan Eleanor benar-benar mendatangi perusahaan milik Arthur Heil, kini dia bahkan sudah berdiri di hadapan gedung tinggi itu, bertuliskan The Royal Heil.


Di tangan kanannya dia membawa sebuket bunga mawar berwarna putih.

__ADS_1


__ADS_2