
1 hari.
2 hari.
3 hari.
Terus berjalan dengan indah bagi Arthur dan Eleanor.
Sampai Minggu pun ikut berganti. Arthur membelikan banyak sekali Eleanor hadiah.
Sampai di bulan purnama terakhir yang bisa Arthur lihat. Arthur memanggil Haldez untuk bicara berdua.
"Aku sudah mengambil keputusan Hald, saat aku telah tiada tolong jaga Eleanor."
Arthur telah menanam permatta succi nya pada Eleanor, jadi meski permatta itu nanti menghilang dari tubuh El, tidak akan ada siluman lain yang bisa menanaminya lagi, termasuk Haldez.
"Ternyata hati siluman pun bisa berubah, tapi jika aku jadi kamu, aku pun akan melakukan hal yang sama. Sejak awal Eleanor tidak tahu apa-apa, kamu lah yang mempermainkan hidupnya. Dan hasil dari permainan mu adalah kamu harus menghilang untuk selamanya."
Arthur terdiam. Mereka berdua berdiri di balkon rumah ini. Sementara Eleanor sudah tertidur di dalam kamarnya.
Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 1 dini hari.
"Apa ekor mu sudah menghilang semua Art?"
"Iya," balas Arthur dengan lirih.
Ini adalah Minggu terakhir menuju 100 hari. Arthur telah kehilangan semua ekornya. Tiap coba untuk mengeluarkan hanya terlihat seperti kepulan asap berbentuk ekor lalu menghilang.
__ADS_1
"Sekarang aku juga mudah sekali lelah, seluruh kekuatan ku perlahan benar-benar hilang."
"Hera tidak pernah nampak lagi, apa dia tahu rencana mu ini?"
"Tidak, jangan sampai dia tahu. Setelah 100 hari dewa Agung akan memanggilnya kembali. Sama seperti aku, dia pun akan mendapatkan hukuman yang setimpal,"
"Karena itulah aku mohon padamu, jaga terus Eleanor dari Hera."
Haldez tentu saja menyanggupinya, tanpa Arthur minta pun dia akan melakukan hal demikian.
Saat bintang di langit sana mulai penuh, Arthur dan Haldez menyudahi pembicaraan mereka.
Arthur masuk ke dalam kamar dan melihat sang istri yang terlelap pulas.
Arthur terjaga semalaman, menatap lekat wajah Eleanor. Selalu berharap meski telah mati pun dia masih bisa menghafal wajah ini.
Saat pagi datang. Eleanor tidak melihat sang suami ada di sampingnya. Tapi dia tersenyum saat mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.
Menunggu Arthur keluar dari sana, Eleanor bangun juga. Berjalan menuju meja riasnya dan memperhatikan penampilan. Ingin memastikan dia tetap terlihat cantik meski baru bangun tidur.
Melihat ponselnya di atas meja itu dan ternyata daya nya habis.
"Dimana charger nya?"
Eleanor membuka beberapa laci, tapi bukan charger yang dia temukan. Melainkan buku pemberian Priska saat itu.
Tentang legenda kuno Gumiho.
__ADS_1
"Astaga, bagaimana bisa aku melupakan tentang buku ini? apa bibik yang meletakkannya disini."
Eleanor mengambil buku itu, menaruhnya di atas meja, agar dia lebih jelas melihat.
"El," panggil Arthur tiba-tiba, Eleanor sontak menoleh ke sumber suara.
"Cari apa?"
"Charger ponsel ku."
"Di laci nakas, bukan di meja rias."
Eleanor tersenyum hingga menampakkan deretan gigi, dia lupa tentang hal itu.
Wanita cantik itu lantas berlari kecil menuju nakas dan segera mengisi daya ponselnya.
Saat Arthur hendak berjalan menuju meja rias, Eleanor mencegah, menarik suaminya agar duduk di tepi ranjang saja.
"Aku yang akan menyisir rambut mu," ucap Eleanor.
Arthur menurut saja, saat Eleanor menyisir rambutnya dia memeluk erat pinggang sang istri.
"Makan siang nanti aku ingin di antar bekal oleh mu," ucap Art, sebuah permintaan.
Eleanor tertawa pelan.
"Baiklah Tuan," jawabnya patuh.
__ADS_1