
Pagi itu hujan gerimis.
Khaled dan Jean mulai meninggalkan mansion. Hari ini sang Tuan jelas tak akan pergi ke perusahaan.
"El, Khaled menelpon daddy mengatakan jika Arthur sakit, pagi ini datang lah ke mansion dia."
Eleanor terdiam, ternyata wajah pucat kemarin memang tanda bahwa pria itu akan jatuh sakit.
"Baik Dad."
"Mommy juga sudah buatkan sup, nanti kamu bawa ya?"
Eleanor mengangguk.
Lihatlah, pria itu pintar sekali mengambil hati kedua orang tuanya. Tidak ada satupun orang yang tahu sisi gelap pria itu.
Tepat di jam 8 pagi, Eleanor sudah masuk ke dalam mansion Art.
Bangunan megah yang sudah seperti rumahnya sendiri, tanpa perlu izin siapapun dia bebas masuk ke dalam sana.
"Bik, tolong panggilkan Art, katakan aku menunggu di bawah."
"Maaf Nona, sejak semalam tuan Art belum keluar dari dalam kamarnya, kami tidak ada yang berani mengganggu beliau."
"Kenapa kalian tidak bangunkan? bukannya dia sakit?"
Para pelayan itu hanya terdiam, menceritakan jika semalam Jean dan Khaled melarang semua pelayan untuk datang ke lantai 3.
"Jadi sejak semalam tidak ada orang yang memeriksa?"
__ADS_1
"Tidak Nona."
"Baiklah," balas Eleanor, tidak bertanya lebih banyak lagi dia segera pergi dari sana. Dengan sangat terpaksa akhirnya dia naik ke lantai 3.
Berdiri tepat di depan pintu kamar pria itu.
Eleanor hanya mendorongnya pelan, namun kemudian pintu itu terbuka lebar.
Cukup terkejut saat melihat kamar itu sangat berantakan, bahkan di salah satu sudut ruangan ada vas bunga yang pecah.
Matanya masih menelisik, mencari dimana keberadaan pria itu, hingga akhirnya dia melihat Arthur yang tergeletak di lantai, tepat di pinggir ranjang.
Deg! Eleanor tersentak. Dia memang terkejut namun tidak berlari untuk menghampiri. Dia hanya berjalan perlahan hingga mendekat.
Meletakkan kotak makanannya di atas lantai dan bersimpuh.
"Art," panggil Eleanor.
Tapi pria itu tak kunjung menyahut. Eleanor melihat ranjang yang begitu berantakan.
Otomatis saja menerka sebenarnya apa yang terjadi semalam.
"Art!" suara Eleanor lebih tinggi. Dengan kasar dia membaringkan tubuh Art yang sejak tadi tengkurap.
Dan makin terkejut lah Eleanor saat melihat wajah Art yang sangat pucat, bahkan lebih pucat daripada kemarin. Bibirnya nampak memutih.
Astaga.
Eleanor buru-buru menunduk mendekatkan telinganya pada jantung Art, untung lah dia masih mampu mendengar detak jantung pria itu.
__ADS_1
Sangat merepotkan.
Eleanor memanggil 3 pelayan dan mereka bersama-sama memindahkan Arthur ke ranjang.
"Aku akan hubungi dokter," ucap El, namun pergerakannya yang hendak mengambil ponsel terhenti ketika dia merasakan tangannya di cekal oleh Arthur.
"Jangan," ucap Art lirih, Suaranya pelan sekali,
Eleanor menepis tangan itu dan segera menghubungi dokter. Dia malas direpotkan seperti ini, jadi tak mau dengar permintaan pria itu.
Tak butuh waktu lama dokter pun datang, memasangkan infus.
"Tuan Art hanya kelelahan, setelah istirahat dia akan pulih," terang dokter itu.
Eleanor mengangguk, mengucapkan terima kasih sebelum sang dokter pamit.
Kini di dalam kamar itu menyisahkan Arthur dan Eleanor, kamar pun nampak lebih manusiawi setelah beberapa saat lalu 5 pelayan bekerja sama membereskannya.
Arthur menatap Eleanor dengan tatapan yang sendu, sementara wanita itu hanya menatapnya dengan tatapan datar.
"El."
"Tidak perlu banyak bicara, aku juga akan pergi sekarang"
"El."
Eleanor tak mendengar itu, dia segera keluar dan menutup pintu dengan cukup kuat.
Brak!
__ADS_1
"El, ayo menikah lagi."