Eleanor Hasrat Sang Penguasa

Eleanor Hasrat Sang Penguasa
Bab 46 - Dua Bayi Tanpa Ekor


__ADS_3

1 tahun kemudian.


Puing-puing kenangan yang nyaris hancur kini sudah kembali utuh, tiap kali mengingatnya bukan lagi luka yang dikenang, melainkan kisah manis berbalut legenda yang tak boleh diketahui oleh manusia.


Eleanor dan Arthur hanya menyimpannya untuk berdua.


"Nyonya Heil, butuh waktu berapa lama lagi untuk mu merias diri?" sindir Arthur, dia telah menunggu di ambang pintu. menatap sang istri yang sejak tadi sibuk sendiri untuk merias wajah.


Eleanor terlihat sangat cantik, sejak dulu hingga kini kecantikan itu tak pernah pudar. seorang wanita bermata biru yang selalu membuat Arthur tergila-gila.


Sementara Eleanor malah tertawa kecil dan kembali fokus pada lipsticknya.


Ya, Arthur sang siluman telah menghilang, siluman itu hanya hidup di hati Eleanor.


Sementara semua orang hanya tau tentang Arthur Heil, sang penguasa.


Arthur Heil lah yang menikahi Eleanor di hadapan Daddy Erzan dan mommy Arra. Sedikit drama karena gara-gara Haldez.


Tapi tentu saja cinta selalu tau kemana harus pulang. Sedikit menunda akhirnya Arthur berhasil mendapatkan cintanya kembali, poros hassrat hidupnya.


Beberapa menit waktu berlalu dan akhirnya Eleanor menyelesaikan riasannya.


"Sudah selesai, cuma menunggu sebentar saja kamu cerewet sekali." wanita itu kini sudah berdiri tepat di hadapan sang suami, membalas tatapan Arthur yang sejak tadi menatapnya lekat.


"Aku yakin anak kita perempuan, kamu jadi suka sekali merias diri, padahal ini hanya makan malam biasa."


"Kata mommy kalau suka merias diri malah anaknya laki-laki."


"Ayolah kita periksa USG, aku benar-benar ingin tahu."


"Tidak, biar jadi kejutan."

__ADS_1


"Bagaimana jika ada ekornya?"


"Art!!" kesal Eleanor.


Arthur tertawa, dia menarik pinggang Eleanor dan memeluknya erat. Arthur juga mengelus perut sang istri yang sudah membesar. Saat ini kehamilan Eleanor memasuki usia 8 bulan.


Hari perkiraan lahir itu seolah sudah di depan mata. Sangat tidak sabar untuk menunggunya.


"Berulang kali ku jenguk, tapi tetap saja tidak bisa melihat anak kita laki-laki atau perempuan."


Plak! Eleanor langsung memukul dengan suaminya, gemas sendiri dengan ucapan ambigu itu.


dan melihat wajah Eleanor yang cemberut, Arthur tak kuasa untuk tidak menyesap bibirnya.


"Emhh." Eleanor melenguh, ciuman mendadak yang membuatnya gugup. Hanya bisa memejamkan mata dan mencengkeram kuat baju sang suami.


"Kita harus segera pergi sayang, sebelum aku semakin menginginkan kamu."


Malam ini mereka akan makan malam bersama Haldez dan Priska.


Manusia dan siluman yang telah lama selalu berselisih pendapat dan kini memutuskan untuk bersama dan saling mengikat.


Kata Haldez Priska adalah wanita yang licik dan mesyum, jadi sedikitpun tidak ada darrah succi yang terkandung dalam tubuh wanita itu. Jadi Haldez tidak akan menanamkan permatta succinya pada Priska.


Kata Priska dia sudah banyak berkorban untuk Haldez, rela menjadi wanita siluman kesepian itu.


Mereka berdua selalu saja beradu mulut, hanya mesra saat di atas ranjang.


Malam ini mereka semua akan mengadakan makan malam bersama, sebelum besok pernikahan Haldez dan Priska di gelar.


Makan malam itu diadakan di restoran tepi pantai. Suara ombak seperti alunan musik untuk mereka.

__ADS_1


"Kenapa makan malam disini sih? bagaimana jika Eleanor masuk angin," keluh Arthur, untung ada jas di dalam mobilnya jadi bisa dipakai Eleanor.


"Priska yang memilih tempat ini, aku hanya ikut saja," bela Haldez.


"Enak saja, kalau kamu tidak setuju aku tidak mungkin memilih tempat ini."


"Heis, sudahlah berisik sekali. Aku mau makan," sela Eleanor.


"Baiklah sayang," balas Arthur patuh.


Perjalanan mereka masih panjang, apa yang terjadi di depan sana semuanya masih misteri.


Namun bersama seperti ini membuat semuanya jadi mudah.


Di bulan Desember yang cerah, Eleanor melahirkan anak pertamanya. Anak Pertama yang langsung diberi dua.


Arthur menangis, menatap dua bayi laki-lakinya yang tanpa ekor.


Melihat bayi mungil itu membuatnya semakin yakin jika dia telah jadi manusia.


Mencium bibir Eleanor dengan sangat mesra, tak peduli jika di ruang perawatan Eleanor itu bukan hanya ada mereka berdua.


Tapi seluruh keluarga berkumpul.


"Aku sangat mencintai kamu El."


"Me too, aku juga sangat mencintai kamu Art."


"Sudah-sudah, di dunia ini bukan hanya ada kalian berdua," ketus Haldez.


Semua orang tertawa. Tapi Arthur malah kembali mencium bibir istrinya.

__ADS_1


...TAMAT...


__ADS_2