Eleanor Hasrat Sang Penguasa

Eleanor Hasrat Sang Penguasa
Bab 39 - Tidak Pantas Memakai Wajah Suamiku


__ADS_3

TOK TOK TOK!!!


Haldez mengetuk dan menekan Bell berulang kali mansion mewah itu. Tengah malam dia buat keributan disini. Bukan tanpa sebab, karena Eleanor tak kunjung keluar dari mansion itu.


Lama hidup bercampur dengan manusia, Haldez mulai mengendalikan dirinya untuk menyelesaikan masalah dengan cara manusia pula.


Dia tidak pernah menggunakan kekuatannya hanya untuk kepentingan pribadi.


Hanya dengan cara seperti itulah Dewa Agung tidak marah kepadanya.


Arthur sendiri lah yang membuka kan pintu untuk Hald.


melihat secara langsung kemarahan Haldez yang terpancar jelas di kedua matanya.


Hald. panggil Arthur. Tapi dia harus diam untuk menyembunyikan semuanya.


"Dimana Eleanor?!"


"Kamu siapa?"


"Katakan dimana El!"


"Dia sudah tidur, aku juga sudah mengatakan pada ayahnya tentang hal itu. Eleanor kelelahan jadi tak sadar ketiduran."


Haldez mengepalkan tangannya kuat, membawa-bawa daddy Erzan untuk membuatnya bungkam.


"Izinkan aku melihatnya."


Arthur tersenyum miring.


"Maaf, aku tidak biasa membiarkan orang asing masuk ke dalam istanaku." Arthur menggerakkan tangan kananya dan semua penjaga berkumpul disana.

__ADS_1


Entah darimana datangnya, karena sebelumnya Haldez pun tidak menyadari orang-orang itu.


"Baiklah, aku akan pergi," ucap Hald dengan terpaksa.


Sementara Arthur hanya menatap nanar punggung Hald yang pergi meninggalkan kediamannya.


Dia sangat tahu, Haldez telah menjaga Eleanor-nya dengan sangat baik.


"Tutup semua pintu masuk."


"Baik Tuan."


Arthur kembali ke dalam kamarnya.


Ketika pagi menjelang, cahaya matahari banyak sekali yang masuk ke dalam kamar ini.


Eleanor sudah memakai baju entah milik siapa, baju tidur berwarna peach yang sudah membalut tubunya dengan rapi.


Arthur datang dari sebuah ruangan di dalam kamar itu, entah ruangan apa.


"Kamu sudah bangun, jangan banyak bergerak, aku baru memberimu obat agar lecetnya tidak jadi iritasi." Arthur tersenyum miring.


Senyum paling menjijjikkan yang pernah Eleanor lihat.


Arthur duduk di tepi ranjang.


"El, dengar aku baik-baik. Kamu ... tidak bisa mengadukan ini pada siapa pun, bicara pada mommy dan daddy mu? itu hanya akan membuat masa tua mereka makin merana. Ingin melawan ku? No, tidak bisa, karena berakhir keluargamu yang akan tersiksa. Jadi ... tetaplah berada disampingku, coba nikmati semua kebersamaan ini."


Arthur coba membelai wajah Eleanor, namun dengan cepat wanita itu menepis nya ...


"Aa, satu lagi, aku paling tidak suka penolakan."

__ADS_1


Kini Art bukan hanya membelai wajah Eleanor, tapi pria itu menyesap bibir sang wanita.


"Ya, jadilah penurut seperti itu, lain kali cobalah untuk membalas ciuman ku."


Eleanor hanya diam. Air mata bahkan seolah sudah habis dari kedua matanya.


Tuhan selalu mempermainkan hidupnya seperti ini. Setelah semua hal yang terjadi ternyata Tuhan masih belum puas memberinya cobaan, hingga kini berakhir jadi mainan pria itu.


Menjadi wanita pemuaas hasrrat.


Kamu tidak pantas memakai wajah suami ku. Batin El.


Meski wajah mereka sama, tapi Eleanor sangat membenci Arthur Heil.


"Hari ini tidak perlu pergi kemana pun, nanti sore aku akan mengantar mu pulang."


Eleanor diam.


"Jawab jika aku mengajak mu bicara El, katakan iya, atau baik lah,"


"El?"


"Iya!" balas Eleanor dengan sangat terpaksa. Dia melempar sebuah bantal dengan asal, meluapkan amarah.


Tapi Art malah tertawa. Kembali menciumi wajah El dan wanita itu diam saja.


"Ayo mandi," ajaknya.


Dan apa El bisa menolak?


Tidak.

__ADS_1


__ADS_2