Eleanor Hasrat Sang Penguasa

Eleanor Hasrat Sang Penguasa
Bab 20 - Merubah Arah Hidupnya


__ADS_3

"ELEANOR!!"


BRAK!!


PYAR!!


Waktu berjalan begitu cepat, tak ada yang bisa menghentikan lampu gantung itu jatuh.


Hera bahkan pergi sebelum lampu itu menghantam lantai.


Semua orang berteriak histeris.


Arthur tak sempat menyelematkan wanitanya, kini Eleanor berada dalam dekapan Haldez.


Ya, Haldez begerak lebih cepat untuk menyelamatkan Eleanor. kekuatannya kini lebih unggul dibandingkan Art. Merengkuh tubuh wanita ini sepersekian detik sebelum lampu berhasil mengenai tubuhnya.


Pecahan kaca berserak di lantai. Mommy Arra sudah menangis. Dan Arthur menatap nanar sang istri yang ketakutan di dekapan pria lain.


"El!"


"Arra! perhatikan langkah kaki mu!" ucap daddy Erzan, dia pun sangat mencemaskan sang istri. mommy Arra nyaris berlari melewati pecahan kaca itu. Andai terpeleset sedikit saja dia akan jatuh di atas pecahan kaca.


"Tenang," lirih Haldez. Tubuh Eleanor sudah gemetar.


Arthur melihat segala penjuru dan tidak melihat Hera, tapi dia yakin betul jika ini adalah ulah Dewi itu.


Tapi pikir panjang lagi, Arthur segera mendatangi sang istri dan menariknya dari dekapan Haldez, dia peluk sendiri dengan erat.

__ADS_1


Mommy Arra pun memeluk anak dan menantunya juga.


Daddy Erzan memohon maaf dengan menundukkan kepalanya dalam, tak menyangka jika dalam perjamuan mereka akan terjadi kejadian seperti ini.


Dengan mendadak, pertemuan itu pun diakhiri.


Arthur segera membawa sang istri untuk keluar dari gedung itu.


Haldez mengikuti di belakang dengan tatapan yang entah, ketika dia memeluk Eleanor tadi, darahnya seperti mendidih. Ada debaran yang tak bisa dia jelaskan.


Namun hasrat untuk melindungi wanita itu terlalu kuat. Mungkin karena Haldez pun menginginkan darrah succi itu.


Haldez yang mengemudi mobil, sementara Art dan Eleanor duduk di belakang. Berulang kali Arthur mencium kening istrinya, ingin membuat Eleanor tenang.


"Maafkan aku sayang," lirih Arthur tepat di telinga sang istri.


Eleanor membalas pelukan suami tak kalah erat.


"Tidak ada yang tau akan ada kejadian seperti itu Art, jangan meminta maaf."


"Ini pertama kalinya aku mengajak mu bekerja, tapi malah seperti ini jadinya."


Saat Eleanor mendongak untuk melihat wajah sang suami, Arthur segera menyesap bibir sang istri.


Sungguh Arthur tak ingin Eleanor terluka.


Lampu yang jatuh dan Eleanor yang berada di dekapan Haldez membuatnya sadar, bahwa hatinya telah berubah.

__ADS_1


Bahwa cinta nyatanya bisa hadir di hati siluman licik.


Ya, dia mencintai Eleanor, cinta yang sangat menggebu. Sampai bisa merubah arah hidupnya sendiri.


Sekarang bukan lagi tentang membahagiakan Eleanor selama 40 hari kedepan. Tapi tentang Art yang menciptakan banyak kenangan indah untuknya sendiri sebelum dia menghilang.


Di hari ke 99 mereka bersama, Arthur berencana membuat Eleanor memakan daging. Dengan begitu Arthur yang akan kalah dan Eleanor bisa tetap hidup.


Arthur terus mencium bibir istrinya dengan begitu dalam, tak peduli jika di depan sana ada Haldez.


"Art," lirih Eleanor, dia tahu ada yang lain dari ciuman sang suami. Eleanor merasakan ada ketakutan dalam ciuman itu.


"Aku sangat mencintai kamu El."


Eleanor tersenyum, dia bahkan telah mencintai lebih dulu.


"Aku juga, aku juga sangat mencintai kamu Art. Apa dengan saling mencintai begini, kamu akan jadi manusia seutuhnya?"


Haldez tersenyum miring, kalimat itu terlalu naif.


Sementara Arthur menggeleng pelan.


"Semua itu hanya kuasa Tuhan El, aku tidak tahu bagaimana pastinya. Kita hanya tinggal menghitung hari untuk itu."


Dan di hari ke 100, Eleanor lah yang akan mati. Batin Haldez.


Ada bagian dalam dirinya yang menyayangkan hal itu.

__ADS_1


__ADS_2