Eleanor Hasrat Sang Penguasa

Eleanor Hasrat Sang Penguasa
Bab 22 - Diterangi Kunang-kunang


__ADS_3

"Kamu dari mana?" tanya Eleanor.


Dan Arthur makin gelagapan untuk menjawab pertanyaan itu. suasana akan semakin canggung Andai Haldez tidak buka suara.


Mengalihkan semua perhatian orang pada apa yang dilakukan sebelumnya, yaitu membuat salad buah kesukaan Eleanor.


Sementara Arthur hanya mampu membuang nafasnya secara perlahan.


*


*


Selepas makan malam mommy Arra dan Aston pamit pulang. Haldez mengantarkan keduanya secara pribadi. Membalas kebaikan mommy Arra yang memperlakukannya dengan sangat baik.


Sementara Eleanor segera menatap sang suami meski mereka masih berada di teras rumah.


"Kamu dari mana tadi?" tanya Eleanor lagi, belum puas sekali rasanya sebelum mendapatkan jawaban dari pertanyaan itu.


Sejak tadi ada rasa yang mengganjal di dalam hatinya, tapi tetap dia tahan mengingat masih ada ibu dan adiknya di sini.


Jadi sekarang Setelah semuanya pergi, pertanyaan itu kembali dia lontarkan.


"Maafkan aku El, tadi aku kembali ke kantor sebentar."


"Kenapa?"


"Hanya ada sedikit masalah, sekarang semuanya sudah selesai."


"Kenapa aku mencium aroma wangi seorang wanita di tubuhmu?"

__ADS_1


"Benarkah? tadi aku membantu seorang nenek untuk menyeberang jalan, mungkin aroma tubuhnya tertinggal di bajuku."


"Seperti itu?"


"Iya sayang, memangnya apa yang kamu pikirkan?" Arthur menarik pinggang Eleanor, menatapnya lekat. Memanggil angin agar datang hingga menciptakan suasana yang sangat dingin. Arthur mengeluarkan ekornya dan memeluk Eleanor dengan erat.


"Art! ekormu! bagaimana jika ada yang melihat?!"pekik Eleanor dengan suara yang tertahan.


Tapi Arthur malah mengajaknya untuk melompat dan hinggap di salah satu pohon.


Eleanor menjerit kecil, memeluk Arthur dengan sangat erat.


Dan Arthur terus melompat hingga mereka tiba di hutan Arimba.


Berada di atas pohon paling tinggi di hutan itu.


"Art, aku takut."


Perlahan Eleanor membuka mata dan yang dia lihat adalah bulan yang nampak begitu besar, indah sekali.


Masih ketakutan seperti itu, Eleanor tersenyum dan memeluk Arthur erat. Membalas saat Arthur mencium bibirnya dengan mesra.


"Daddy Erzan sudah memintaku untuk mengambil libur selama 3 hari. Jadi selama itu pula, kita akan tinggal di hutan Arimba."


Eleanor terlalu terkejut hingga dia tak bisa berkata apa-apa. Hanya kembali menjerit saat Arthur melompat turun.


Grap!


Grap!

__ADS_1


Terus seperti itu sampai mereka mendarat di tanah.


Akh! pekik Eleanor.


Ini terlalu mengejutkan dan menegangkan bagi dia, tapi Eleanor saat menyukainya. Wanita itu bahkan seketika lupa tentang dugaannya pada sang suami.


kini tidak ada lagi sedikitpun prasangka, yang ada hanyalah dadda berdebar kencang.


Malam itu di hutan Arimba mereka hanya di terangi oleh kunang-kunang.


Duduk bersama di batu yang sangat besar. Arthur mengeluarkan semua ekornya yang hanya bersisa 3 ekor.


"Kamu dingin El?"


"Iya."


"Aku akan membuat tubuh mu jadi panas."


"Art!!" pekik Elenaor, namun tidak butuh waktu lama pekik itu berubah jadi desah.


Berulang kali Arthur terus mengatakan bahwa dia sangat mencintai Eleanor.


Akan menukarkan hidupnya sendiri demi wanita ini.


Tapi mendengar itu Eleanor tak banyak menerka, hanya tersenyum dan bersyukur karena dicintai begitu dalam.


"Art!" rintih Eleanor, lama memadu kasih akhirnya mereka sampai di puncak. Memeluk dengan sangat erat hingga penyatuan itu terasa begitu dalam.


Eleanor bahkan sampai mengigit pundak sang suami untuk pelampiasannya.

__ADS_1


Di akhir penyatuan itu nafas keduanya terengah. Dan Arthur terus menyuarakan apa yang ada di dalam hatinya ...


"Aku sangat mencintai kamu El, sangat."


__ADS_2