
1 bulan kemudian.
Hilangnya Arthur tentu membuat semua orang bingung.
Sementara Eleanor terus termenung di dalam kamarnya. Yang bisa mengajaknya bicara hanya lah Haldez dan Priska.
Mommy Arra begitu terpukul, hingga tiap memandang sang anak hanya air matanya yang keluar.
Sementara Daddy Erzan sekuat tenaga mencari keberadaan Arthur, dia akan buat perhitungan pada manusia itu. Bagaimana bisa pergi begitu saja meninggalkan sang anak.
Haldez juga terpaksa menunjukkan jati dirinya di hadapan Priska, menjelaskan semuanya secara gamblang kenapa Eleanor jadi seperti ini.
Priska berulang kali jatuh pingsan tiap kali Haldez mengeluarkan ekor 9, sementara Eleanor terus menatap nanar.
Betapa dia sangat merindukan sang suami.
Dan kini setelah cukup lama bersama, akhirnya Priska memahami semuanya. Marah namun tak bisa memutar waktu, tergugu karena nyatanya Eleanor sangat mencintai Arthur.
Hari itu cuaca sangat cerah seperti kemarin. Semenjak hujan lebat di akhir November, hingga kini tidak ada lagi hujan yang turun.
Eleanor menatap kosong pemandangan di luar sana melalui balkon kamarnya.
Semilir angin itu membuat rambut panjangnya melayang, terkadang melintas di wajahnya, tapi sedikitpun Eleanor tak terganggu, tidak merasa geli dan hanya diam.
"Temui lah El, aku akan minta pelayan untuk membawa sarapannya kesini," ucap Haldez.
Priska mengangguk pelan.
__ADS_1
Besok perkuliahan akan segera dimulai, tapi Eleanor masih seperti ini. Membuat hatinya pun ikut teriris.
"El, ayo kita pergi perpustakaan kota? cari buku untuk besok, hari pertama kita kuliah," ajak Priska, dia bicara dengan suaranya yang antusias, langsung duduk begitu saja di samping sang sahabat.
Dan mendengar perpustakaan kota disebut, seketika Eleanor teringat tentang buku kuno pemberian Priska dulu, buku yang sudah dia sobek meski belum membacanya sampai bab akhir.
Eleanor berkedip dengan cepat, hasrat kehidupan seperti kembali muncul dari kedua mata itu.
Harusnya Eleanor membaca buku itu sampai tamat bukannya merusak ketika baru tiba di pertengahan. Eleanor sangat menyesal, dia ingin mendapatkan buku itu kembali.
Mencari jalan keluar, mungkin ada cara bagaimana membuat Arthur kembali ke dunia ini.
"Pris, kamu masih ingat buku yang pernah kamu berikan padaku? dimana yang lainnya? apa masih ada salinan buku itu?"
Priska mengerutkan dahi, seingatnya dia tidak pernah memberikan buku apapun pada Eleanor.
"Buku apa?"
"Apa aku pernah memberikannya padamu?"
"Iya."
"Tapi aku tidak ingat."
"Ayolah Pris, jangan pura-pura lupa. lebih baik sekarang juga kita pergi ke perpustakaan kota!" putus Eleanor, dia bahkan langsung bangkit dari duduknya dan segera masuk ke dalam kamar.
Bertepatan dengan seorang pelayan yang membawakan sarapan untuk sang nyonya. Haldez pun ikut masuk kesini.
__ADS_1
"Letakkan saja di meja Bik." Priska yang memerintah.
Dia kemudian saling tatap dengan Haldez, sama-sama bertanya kenapa Eleanor tiba-tiba bersemangat seperti itu.
"Kamu mau kemana?" tanya Haldez.
"Aku dan Priska akan pergi ke perpustakaan kota, kamu tidak perlu ikut Hald."
"Kenapa?"
"Kamu tidak punya tanda pengenal untuk masuk."
Haldez terdiam, dia menatap Priska, melihat wanita itu yang mengedikkan bahu.
Saat tiba di perpustakaan, Eleanor dan Priska tiba-tiba melihat Haldez sudah ada di dalam sana. untuk masuk ke dalam sini dia tidak butuh pintu dan kartu tanda pengenal.
Priska sejenak tercengang, namun Eleanor baru sadar, jika Haldez adalah siluman.
"Apa yang mau kamu cari El?"
"Kenapa bertanya lagi Pris, aku cari buku pemberian mu dulu."
Priska menggaruk keningnya yang tidak gatal.
Seharian mereka mengelilingi perpustakaan kota itu, tiap lantai mereka datangi namun buku tentang legenda kuno siluman rubah tidak bisa mereka temukan.
Eleanor terduduk lesu di ujung lorong rak-rak buku itu, tatapannya kembali terlihat kosong.
__ADS_1
"El, dengarkan aku," ucap Haldez, dia ikut berjongkok mensejajarkan diri dengan Eleanor yang sudah bersimpuh.
"Jika pun Arthur selamat dan dia dilahirkan kembali jadi manusia, dia akan tetap melupakan kamu."