Eleanor Hasrat Sang Penguasa

Eleanor Hasrat Sang Penguasa
Bab 38 - Bulan Purnama ke 8


__ADS_3

2 minggu setelah kesepatakan itu dibuat.


Meski belum di wisuda namun Eleanor mulai bekerja di perusahaan sang ayah. Tapi dia lebih banyak menghabiskan waktu di kantor Arthur.


Makin lama mengenal pria itu, Eleanor semakin yakin saja jika tidak ada sedikitpun Art-nya dalam pria menjijjikan itu.


Tidak datang ke kampus membuat pertemuannya dengan Priska jadi berkurang.


Haldez sangat terkejut saat tau Eleanor bekerja sama dengan Arthur Heil.


Berulang kali Haldez mengatakan jika ada apa-apa katakan, dan Eleanor selalu mengangguk dengan patuh. Tapi dia menutupi semua hal buruk yang selama ini menimpanya.


Sungguh, Eleanor tak ingin semua orang selalu mencemaskan dia. Eleanor tumbuh semakin dewasa, hal paling menyakitkan pernah dia alami. Jadi apapun kini yang dihadapinya, Eleanor merasa mampu untuk menangani.


Di malam hari.


Eleanor diminta lembur oleh Arthur. Bukan datang ke perusahaanya, melainkan datang ke mansion pria itu.


Haldez yang masih mengkhawatirkan Eleanor diam-diam mengikuti.


Tapi sayangnya Eleanor menyadari pergerakan Haldez itu. Dia sudah sangat menghafalnya.


"Hald, pulang lah, tidak perlu mencemaskan aku."


Shat!! dalam sekejab saja Haldez berdiri di hadapan Eleanor.


"Tau saja kalau aku ikuti." Haldez menarik hidung Eleanor, membuat wanita itu tertawa.


"Pulang lah."


"Hemm, ku beri waktu sampai tengah malam. Kalau kamu belum pulang juga aku akan gedor pintu itu." Haldez menunjuk pintu utama mansion mewah ini.


Mereka sudah berdiri di halaman, kini waktu sudah menjelang malam.


"Baiklah, deal," balas Eleanor. Mereka bahkan membuat janji kelingking.


Eleanor tidak sadar jika saat ini dia telah diperhatikan oleh Art dari lantai 3 mansion ini, tempat paling tinggi itu adalah kamar Arthur.


Eleanor masuk ke dalam sana dan seketika dibuat merinding, saat merasa bahwa mansion ini sedikit gelap.

__ADS_1


Seorang pelayan menghampiri.


"Nona, apakah anda nona Eleanor?"


"Benar Bik, dimana Tuan Art?"


"Mari, saya akan antar anda ke kamar beliau."


Kamar.


Eleanor merasa tak baik tentang hal ini.


Tapi mau tidak mau dia pun mengikuti langkah pelayan itu. Naik lift hingga tiba di lantai 3.


"Ini pintu kamar tuan Arthur Nona, silahkan masuk."


"Terima kasih Bik."


Pelayan itu pergi, meninggalkan Eleanor sendiri.


"Mansion ini terlalu besar untuk ditempati seorang diri, jadinya sepi sekali." Eleanor menyentuh tengkuknya yang terasa merinding.


Suaranya terdengar jelas, Krek!


Deg! Arthur sudah menunggunya dan berdiri di depan pintu itu, membuat Eleanor sangat terkejut.


"Masuk."


Eleanor patuh, Arthur menutup pintu itu kembali dan menguncinya. Lalu memeluk tubuh Eleanor dari belakang.


"Siapa pria itu?" tanya Arthur, suaranya terdengar sangat dingin, tapi menerpa leher Eleanor dan terasa panas.


"Pria siapa?"


"Jangan bohongi aku El, pria yang bersama mu di bawah tadi."


"Dia Haldez, teman ku."


"Begitu mesra dengan teman mu ya?" Arthur meremas kuat salah satu dadda Eleanor, ini bukan pertama kalinya Eleanor mendapatkan perlakuan seperti ini.

__ADS_1


"Kamu hanya salah paham Art."


"Aku sudah sangat mengerti kamu untuk tidak memaksakan kehendak, tapi ternyata kamu bermain di belakang ku."


Brug! mereka jatuh ke atas ranjang. Arthur menindih Eleanor.


"Kamu tahu hal seperti ini tidak bisa kita hindari kan? sekarang lah saatnya."


"Jangan Art, aku mohon."


"Aku adalah suamimu El."


Eleanor menggeleng.


Pergumullan itu terjadi dengan air mata Eleanor yang mengalir.


Tengah malam saat Eleanor tak sadarkan diri. Arthur terbangun, membelai lembut wajah itu, wajah yang sudah sangat dia rindukan.


1 tahun lalu dia bertemu dewa Agung, menyaksikan Hera dilempar ke neraka.


Sementara dia mendapatkan pengampunan karena telah menyelamatkan Eleanor.


Art akan jadi manusia, namun masih ada yang harus dia tempuh.


Ingin lahir kembali atau tetap menjadi Arthur.


Jika lahir kembali tak akan membuatnya begitu tersiksa, karena semua kenangan akan hilang. Tapi Arthur pilih untuk jadi dirinya sendiri agar bisa kembali pada Eleanor.


Sampai di bulan purnama ke 10, Arthur tak boleh mengakui jati dirinya. Tapi bulan purnama ke 8 Eleanor datang ke Austane.


Hasratnya pada wanita ini tak bisa dicegah, jadi jalan satu-satunya adalah membuat Eleanor membenci dia, membuat Eleanor tak percaya bahwa dia adalah Art.


Tiap bulan purnama dia akan mengalami kesakitan yang luar biasa. Seperti mencabut secara paksa semua ekor di dalam dirinya.


Karena itulah Art harus tinggal di tempat seperti ini, tinggi dan sepi, hingga tak ada yang mendengar jerit kesakitannya.


Arthur tidak punya permatta suci lagi.


Aku sangat merindukan mu El.

__ADS_1


__ADS_2