Eleanor Hasrat Sang Penguasa

Eleanor Hasrat Sang Penguasa
Bab 21 - Aroma Tubuh Yang Lain


__ADS_3

"Ini semua ulah Hera, meskipun Eleanor akan selamat karena dia memilki permatta succi mu, tapi rasa sakitnya akan tetap Eleanor rasa sebelum luka itu pulih. Hera ingin Eleanor merasakan kesakitan itu!" cerca Haldez.


Ketika Eleanor sudah tertidur di dalam kamarnya, Haldez menarik Arthur untuk bicara berdua.


"Apa kamu juga merayu Hera?" tanya Haldez pula.


Dan melihat Arthur yang diam saja, Haldez tersenyum miring. Merasa jika tebakannya benar.


Sementara Arthur hanya diam, memikirkan bagaimana baiknya. Yang terpenting untuk dia sekarang adalah keselamatan Eleanor dan kebersamaan mereka.


Tanpa banyak kata lagi, Arthur bahkan pergi begitu saja. Tanpa kata dia meninggalkan Haldez.


"Art! kamu mau kemana?"


"Hei!" pekiknya tapi Arthur tidak mau dengar.


Pria itu keluar dari dalam rumah dan mengunakan sisa-sisa kekuatannya untuk memanggil mendung. Siang itu keadaan kota NewKingston jadi sedikit gelap. Awan hitam menggumpal di atas sana, tapi Arthur tidak punya cukup tenaga untuk membuatnya jadi hujan.


Di taman kota yang banyak ditanami pepohonan Arthur menemui Hera.


"Kenapa Hera? kenapa kamu berniat mencelakai Eleanor? bukannya manusia harusnya berada dalam perlindungan mu?" tanya Arthur bertubi, kini dia telah berhadapan dengan Dewi itu.

__ADS_1


Hera yang menatapnya dengan tatapan entah.


"Aku sudah melanggar sumpah ku sebagai Dewi, jadi ku mohon Art jangan goyah niatmu untuk menjadi manusia. Jangan jatuh cinta pada manusia itu dan berakhir kamu yang mengalah. Setelah ini Dewa Agung pasti melempar ku ke neraka, dan aku akan menunggu disana sampai kamu datang."


Hera mendekat, menyentuh lengan Arthur dengan lembut.


Tanpa perlu di jelaskan Hera merasa telah memiliki hubungan. Arthur selalu memujinya cantik, bahkan lebih cantik daripada Eleanor.


Arthur bahkan tidak pernah menyerangnya dan hanya selalu menghindar.


sesekali dalam pertarungan mereka Arthur terkadang malah memeluknya erat.


Hera telah merasakan apa itu namanya cinta, hingga dia rela merubah jiwanya sendiri.


"Ya, kamu benar, lagi pula aku tidak mungkin jatuh cinta pada manusia, jika di hadapan ku ada seorang dewi yang kecantikannya berkali-kali lipat."


Hera tersenyum lebar.


"Sekarang hanya tinggal menghitung hari, sebelum manusia itu mati, biar aku membahagiakannya sebentar. lebih baik kamu jangan mengawasi lagi, Hem?" pinta Arthur, saat mengatakan itu dia memeluk Hera dengan erat. Meski jijik namun dia terpaksa melakukan ini.


Kemarahan Hera tak akan mungkin bisa dia kendalikan.

__ADS_1


Hera mengangguk.


Di bawah langit mendung itu, keduanya saling memagut mesra.


Baru kali ini Arthur merasa jijik pada dirinya sendiri yang licik. Merasa kotor karena telah menghianati Eleanor.


Tubuh dan jiwanya yang perlahan menjadi manusia seutuhnya membuatnya benci pada sifat siluman. Tiba di rumahnya saat itu waktu sudah menunjukkan jam 4 sore.


Sayup-sayup dia mendengar pembicaraan Eleanor dan Haldez dari arah dapur. Amarahnya bergemuruh, dia yang berkhianat namun merasa Eleanor pun melakukan hal yang sama.


Berpagut mesra dengan Haldez disaat dia tidak ada.


"Eleanor!" suara Art menggelegar.


Seketika semua orang di dapur tercengang. Ternyata disana bukan hanya ada Eleanor dan Haldez, tapi juga Aston dan mommy Arra.


Masih cemas dengan keadaan Eleanor, mommy Arra mengajak Aston untuk datang kesini.


Deg! seketika Arthur jadi merasa bersalah sendiri. Apalagi saat dia lihat dengan jelas mommy Arra yang terkejut.


"Maafkan aku Mom, ku pikir ..." Arthur kesulitan untuk melanjutkan ucapannya sendiri.

__ADS_1


Eleanor mendekat, menyentuh lengan Art. Namun dia malah mencium aroma tubuh yang lain.


Aroma pekat yang sengaja Hera tinggal.


__ADS_2