
Arthur memang begitu kejam bagi Eleanor, tapi pria itu nampak lain ketika bersama orang lain.
Arthur sangat baik, berwibawa dan jauh dari kata menjijjikan. Auranya sebagai pemimpin terpancar jelas, setiap kata yang keluar dari mulutnya menggambarkan wawasannya yang luas.
Daddy Erzan bahkan sangat menyukai Arthur Heil.
Arthur juga memperlakukan Eleanor bak ratu jika di luaran sana, sangat berbeda jika mereka hanya berdua. Eleanor hanya seperti pelampiassan hasrrat.
Entahlah, Eleanor tak bisa menebak tentang pria itu. Hanya satu yang dia yakini, Arthur Heil membuat hidupnya semakin hancur.
Semakin terpuruk.
Namun hidup tetap harus berlangsung, Art-nya yang telah tiada tak bisa dia harapkan lagi, hanya penyesalan karena cinta tak menemukan ujung.
Kini Eleanor sudah seperti mati rasa.
Arthur dan Eleanor memulai proyek kerjasama mereka. Perusahaan Harold Kingdom dan The Royal Heil bekerja sama untuk membangun perusahaan penyewaan helikopter, yang akan beroperasi di berbagai kota dan berpusat di New Kingston.
Menawarkan armada helikopter mewah yang tersedia untuk evakuasi medis, liburan, transfer VIP, transfer golf dan masih banyak lagi.
Pembangunan perusahaan itu pun mulai dibangun setelah desain dan semua perencanaannya matang.
1 bulan penuh mereka bekerja keras untuk perencanaan pembanguan itu dan sekarang akhirnya proyek mulai berjalan.
Menggunakan helm proyek dan sepatu boot untuk keamanan, Eleanor dan Arthur meninjau pembangunan lintasan helikopter itu. Setelah semuanya rampung, 20 helikopter yang sudah mereka beli akan mendarat disini.
__ADS_1
"Ini bagus, pengerjaan seperti ini tidak akan membutuhkan waktu lama. 3 bulan kita sudah bisa mulai beroperasi," ucap Arthur.
Eleanor mengangguk setuju. Setelah proyek ini rampung kabarnya Arthur akan kembali ke Austane dan hal itu adalah yang Eleanor tunggu-tunggu.
"Perhatikan langkah mu El, banyak besi di lantai."
Cukup lama mereka berkeliling dan akhrinya menyudahi kunjungan hari itu.
"Pulang lah bersama supir, hari ini aku tidak bisa mengantar mu," ucap Arthur.
Wajahnya nampak pucat sekali. Kedua matanya pun begitu sayu. Malam nanti adalah malam bulan purnama terakhir, kesakitan yang menderanya mulai terasa di saat senja. Sekujur tubuhnya seperti di tusuk ribuan jarum.
Keringat dingin mulai membasahi dahi dan telapak tangan.
Eleanor hanya mengangguk.
"Tuan."
"Cepat pulang," titah Art.
Khaled membantu sang Tuan untuk masuk ke dalam mobil itu dan Jean mengemudikannya.
Eleanor mengerutkan dahi, pria yang selama ini terlihat begitu kuat namun kini nampak seperti pesaakitan.
"Terserahlah, mati sekalian pun tak masalah," gumam Eleanor. Dia menatap langit yang seolah begitu cepat berubah jadi gelap.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan itu Arthur merintih kesakitan. Khaled dan Jean selama ini pun melihatnya. Tapi Art selalu menolak dibawa ke rumah sakit, cukup bawa pulang dan tidurkan di kamarnya.
Maka besok pagi tuannya itu akan terlihat baik-baik saja.
"Jean, tambah kecepatan mobilnya."
"Baik Kha."
Membelah jalanan dengan kecepatan cukup tinggi hingga akhirnya mereka tiba di mansion.
Khaled dan Jean berbondong membawa sang Tuan untuk segera tiba di kamar.
"Ingat Je, Kha ... Jangan biarkan ada orang yang naik ke lantai 3."
"Baik Tuan," jawab Jean dan Khaled patuh.
Setelah mereka membaringkan sang Tuan di atas ranjang, keduanya pun pergi dari sana.
Khaled dan Jean berjaga semalaman, memastikan tak ada satu pun orang yang mengganggu sang tuan.
Dan di dalam kamarnya sana, berulang kali Arthur merintih kesakitan. Di kesunyian itu Arthur seperti menangis.
Sampai kedua matanya terlihat sangat merah. Urat di wajahnya dan lehernya begitu jelas.
Hingga tepat di tengah malam, saat sakit itu berada tepat di puncaknya, Arthur berteriak dengan sangat kuat.
__ADS_1
AARGH!!