Eleanor Hasrat Sang Penguasa

Eleanor Hasrat Sang Penguasa
Bab 33 - 3 Sahabat


__ADS_3

"Enak sekali Haldez, bagaimana cara dia berpindah negara?" tanya Priska, sebuah pertanyaan yang lebih mirip seperti menggerutu.


Pagi-pagi dia dan Eleanor sudah repot untuk pergi ke Bandara, sementara Haldez masih tertidur di ranjangnya.


Tapi lihat saja, pria itu pasti akan tiba lebih dulu di New Kingston.


Menyebalkan. Gerutu Priska.


Sementara Eleanor, untuk terakhir kalinya dia menoleh kebelakang. Berharap adegan romantis dari drama yang sering dia lihat akan dialaminya juga.


Tiba-tiba Art muncul dan mencegah dia naik ke penerbangan.


Tapi ternyata adegan seperti itu memang hanya ada di drama. Karena sampai Priska menarik tangannya sang suami tak muncul juga.


Baiklah, aku harus melupakan semuanya.


Mungkin sudah ada seribu kali Eleanor mengucapkan kalimat itu, tapi besoknya masih menunggu lagi.


"Nikmati saja rasanya menunggu El, sampai menunggu jadi temanmu," sindir Priska, dia tahu Eleanor melihat kebelakang tadi.


Eleanor tersenyum dan mencubit lengan sang sahabat, sampai Priska gaduh kesakitan.


Kini mereka berdua sudah duduk di dalam pesawat. Eleanor duduk di samping jendela.


Mereka tiba di New Kingston saat malam mulai menjelang.


Dan benar saja, Haldez sudah datang menjemput.


"Aku sudah katakan pada ayah mu dan ayah mu bahwa aku yang menjemput kalian berdua," ucap Haldez, bicara pada kedua wanita itu, menatap Eleanor dan Priska secara bergilir.


"Hald, kenapa kamu tidak pernah ajak kami untuk teleportasi? Sring! langsung tiba disini," ucap Priska.

__ADS_1


"Tidak bisa."


"Kenapa?"


"Karena kamu gendut."


Plak! "Kuraang ajjar!" geram Priska.


"Awh! sakit Pris," Haldez mengelus lengannya yang dipukul.


Eleanor segera memeluk keduanya kiri dan kanan, lalu menarik kedua orang itu untuk mulai berjalan.


1 bulan berlalu.


kehebatan Arthur Heil makin mendunia, Eleanor ingin tidak membahas tentang pria itu, tapi dunia selalu membicarakanya.


Bahkan kabar berhembus jika pria itu kini telah tinggal di New Kingston, ingin melebarkan sayap kerajaan bisnisnya di negara ini pula.


"Tidak, tidak, dia super tampan!"


"Tidak akan mudah mendapatkan Arthur Heil, saingannya putri dari kerajaan Angland. Dia sudah di gadang-gadang akan jadi jodoh sang putri."


"Tentu saja, putri Freysia adalah satu-satunya yang pantas bersanding dengan Arthur Heil."


"Eh, tapi apa kalian tidak merasa? wajah Arthur Heil sedikit mirip dengan suami Eleanor."


"Sstt," orangnya datang.


Pembicaraan beberapa gadis putus. Eleanor melewati kerumunan orang itu dan segera masuk ke ruang sidang.


Ya, hari ini Eleanor akan sidang skripsi.

__ADS_1


Ketika dia masuk ke dalam ruangan itu, Priska dengan setia menunggu di luar. Sementara Haldez memperhatikan dari jauh. Menatap Eleanor di dalam ruangan itu melalui jendela kaca.


3 jam sidang itu berlangsung. Sampai Haldez melihat ada senyum yang terukir di bibir Eleanor.


"Aku tahu kamu pasti berhasil El," gumam Haldez.


Sidang itu berjalan apik dan Eleanor dinyatakan lulus.


Keluar dari sana Eleanor tersenyum dan menangis sekaligus, berpelukan dengan Priska sangat erat.


"Huaa, kamu lulus duluan," keluh Priska. Meski senang untuk El, tapi dia sedih juga. Eleanor lulus setengah tahun lebih cepat dari jadwal Priska.


"Patah hati dulu, nanti belajar mu jadi rajin."


"Malas!" sahut Priska dengan kesal.


Eleanor tertawa kecil. Dengan saling memeluk lengan mereka keluar dari gedung itu.


Dan langsung di sambut oleh Haldez.


"Selamat Eleanor Harold," ucap Hald, dia merentangkan tangannya dan Eleanor berlari memeluk.


Priska bibirnya mengrucut, dan Haldez segera menariknya juga untuk masuk ke dalam dekapan.


3 sahabat itu saling memeluk erat.


"Lepas! ekorku mau keluar."


"Haldez!!" pekik Eleanor dan Priska.


"Ekor yang manaaa?" ulang Priska kesal. Haldez adalah pria mesyum, pasti ekor tengah pikirnya.

__ADS_1


Sementara Haldez malah tertawa.


__ADS_2