ELIZABETH SWAN

ELIZABETH SWAN
Bab 10 - Afternoon Tea


__ADS_3

Afternoon tea atau teh sore di kalangan para lady bangsawan adalah suatu hal yang wajib diselenggarakan paling tidak satu kali dalam hidup nya.


Biasa nya di acara tersebut juga menjadi ajang memamerkan kekayaan sang pemilik rumah dan pengetahuan nya perihal jenis-jenis teh di kalangan para sosialita.


Sore itu acara minum teh diselenggarakan di kediaman Baron Lu Vettel. Sebagai tuan rumah, Baroness Lu Vettel telah menyiapkan teh yang ia pesan langsung dari kerajaan tetangga sejak jauh-jauh hari.


"Teh yang saya sajikan hari ini berasal dari kerajaan di wilayah barat. Teh langka yang hanya bisa di panen sekali dalam setahun ini begitu sulit untuk mendapatkan nya, tapi karena koneksi suami saya sangat luas tentu saja nyonya dan para lady sekalian dapat menikmatinya disini, sekarang." ucap Baroness Lu Vettel dengan penuh bangga.


"Bagaimana Lady Elizabeth? Apakah ini sesuai dengan selera anda?" tanya Viscountess Magnus sengaja ingin mempermalukan Elizabeth yang dikenal sebagai bangsawan baru dari rakyat jelata. Ia mengira jika Elizabeth yang dari kalangan bawah itu sama sekali tak mengerti tentang hobi minum teh selayaknya mereka.


"Terimakasih sudah memperhatikan saya, Nyonya. Meski ini acara minum teh yang pertama kali saya hadiri, tapi teh hitam yang di campurkan minyak bergamot ini cocok dengan selera saya. Perpaduan rasamanis, asam, dan sedikit pahit ini saya rasa akan sempurna jika disandingkan dengan beberapa scone." tutur Elizabeth panjang lebar, membuat Viscountess Magnus sedikit kesal karena ia tak berhasil mempermalukan Elizabeth didepan para sosialita lainnya.


Sang tuan rumah, Baroness Lu Vettel meneguk teh nya sekali, membayangkan ia memakan scone setelah meneguk teh itu, "Hmm, scone ya?" gumam nya, kemudian memanggil pelayan yang bersiap dibelakang nya, "Suruh juru masak untuk membuat beberapa scone sekarang juga." ucapnya kepada pelayan itu.


"Baik, Nyonya." jawab pelayan nya, lalu segera pergi ke dapur untuk menyampaikan permintaan nyonya nya kepada sang koki.


Beberapa menit kemudian, scone yang diminta oleh Baroness Lu Vettel pun datang. Begitu ia mencicipi scone itu setelah meneguk teh nya, mata nya berbinar seolah menemukan harta karun.


"Saya tidak menyangka ternyata Lady Elizabeth memiliki selera yang sangat berkelas." puji sang Baroness Lu Vettel pada Elizabeth.


"Nyonya terlalu berlebihan. Saya lah yang merasa terhormat jika saran dari saya cocok dengan selera anda, Nyonya." tutur Elizabeth merendah, ia tak ingin dianggap sombong dan terlalu percaya diri hanya karena satu pujian.

__ADS_1


Viscountess Magnus yang telah gagal mempermalukan Elizabeth berniat untuk menggunakan hal lain untuk membuat gadis dari kalangan rendahan itu malu. Tapi tentu saja tak semudah itu, Elizabeth juga telah menantikan hari ini sejak jauh-jauh hari. Hari dimana ia bisa membalas mempermalukan sang bibi yang telah memutar balikan fakta dan membuat dirinya menjadi gadis buangan yang hina.


"Oh ya, Viscountess Magnus, saya dengar Tuan Viscount sedang sakit, apa beliau sudah baik-baik saja sekarang?" tanya Elizabeth setelah mencicipi scone.


"Apa? Viscount Magnus sakit?"


"Saya tak pernah mendengar kabar beliau sakit. Apa itu benar, Nyonya?"


Seketika keadaan menjadi ricuh. Sebab tak ada yang tahu perihal kondisi suami Viscountess Magnus, mereka semua justru baru mengetahui jika Thomas Magnus sedang sakit akibat Elizabeth yang baru saja bertanya pada Viscountess.


Viscountess bingung, muka nya menjadi pucat pasih, tak tahu harus melontarkan jawaban seperti apa pada para nyonya dan lady yang penasaran. Yang lebih membuatnya bingung, bagaimana Elizabeth bisa tahu, sedangkan ia yakin sudah merahasiakan ini dengan baik.


Sayangnya Elizabeth tak berniat untuk melepaskan wanita itu dengan mudah. Ia melengkungkan seringai tatkala mendengar wanita setengah paruh baya itu masih bisa berbohong perihal keadaan Thomas Magnus yang kehilangan kejantanan nya karena gadis yang hendak ia tiduri.


"Hmm, sangat sehat ya? Syukurlah jika begitu, saya sempat khawatir karena dari sumber yang saya dengar Tuan Viscount ditemukan tak sadarkan diri di Flowers Garden. Mungkin kabar yang saya dapat sedikit dilebih-lebihkan." pungkas Elizabeth.


Deg!


Viscountess Magnus gemetar, keringat dingin mulai menetes dari dahi nya. Ia benar-benar takut setengah mati jika Elizabeth akan membocorkan semua nya. Darimana gadis bodoh itu mendapatkan informasi yang begitu akurat? Siapa yang berani membocorkan air suami nya pada Elizabeth? Viscountess dibuatnya terus bertanya-bertanya.


"Flowers Garden? Bukankah itu toko bunga?" tanya salah seorang lady yang tak tahu tempat apa itu sebenarnya.

__ADS_1


"Apa Lady tidak tahu? Itu bukan sekedar toko bunga, jika anda masuk ke dalam akan terlihat kalau tempat itu tak hanya menjual bunga biasa." jawab salah seorang lady satu nya lagi.


Karena situasi semakin tak kondusif, Viscountess Magnus bergegas berpamitan pada sang tuan rumah, "Sa-saya merasa tak enak badan. Nyonya Baroness Lu Vettel, maaf saya pamit undur diri. Terimakasih atas jamuan teh nya sore ini." ucapnya sembari berdiri dari tempat duduknya.


"Ya, Viscountess. Terimakasih sudah mau hadir ke acara sederhana saya ini." jawab Baroness Lu Vettel.


Setelah Viscountess Magnus pergi rasa penasaran mereka semua semakin menjadi. Namun Elizabeth berusaha untuk tetap diam agar mereka semua semakin bertanya-tanya sehingga rumornya akan menyebar lebih luas diluar acara minum teh ini.


Langit senja mulai menampakkan keindahan nya, membuat acara afternoon tea harus berakhir. Elizabeth yang hendak menaiki kereta kuda nya itu tak sengaja bertemu dengan Edgar Fosberg manusia yang paling dibenci nya di muka bumi ini.


Tentu nya ia harus berpura-pura tak mengenalinya, Elizabeth membuang muka acuh tak acuh. Begitu pun Edgdar yang merasa Elizabeth tak begitu penting. Walau waktu telah berlalu pria itu tetap mempertahankan ketampanan nya. Tapi sayang sekali dibalik ketampanan terdapat kebusukan yang hanya diketahui oleh Elizabeth.


"Selamat datang, Marquess Fosberg. Tuan sudah menunggu anda di ruang kerja nya, mari saya antar." ucap salah seorang pelayan yang telah menunggu kedatangan Edgar.


Di dalam kereta kuda nya Elizabeth membelalakan mata nya, "Marquess? Dia kini seorang Marquess?!" gadis itu mengepalkan tangan nya, "Hebat sekali pria licik itu telah berhasil melengserkan kakak nya sendiri dan merebut gelar Marquess nya. Tunggu saja giliran mu dasar kepa*rat!" umpat Elizabeth.


Sesampainya di rumah Elizabeth langsung meminta Leila untuk mencari informasi apapun tentang Marquess Fosberg. Di ketahui publik bahwa setelah berhasil merebut kekayaan keluarga Avellar, Edgar segera mengambil alih toko-toko perhiasan milik mendiang Baron Avellar. Meski begitu ia tak mampu mengelola semua toko sebaik pemilik sebelumnya, menyebabkan beberapa toko yang berada di kota-kota wilayah bagian barat harus gulung tikar setelah beberapa bulan.


Elizabeth berencana untuk membeli toko-toko itu dan memulai ulang usaha mendiang ayah nya. Untungnya Elizabeth sudah sering mempelajari tentang berbagai hal penting untuk mengurus toko. Antara nya tentang manajemen toko serta jenis-jenis perhiasan yang dijual sang ayah.


"Musuh terbesar adalah orang terdekat mu." gumam Elizabeth.

__ADS_1


__ADS_2