
Tristan duduk di tengah-tengah para preman yang tengah berjudi. Seketika sikap dingin nya berubah menjadi periang dan banyak bicara.
"Wah, sudah lama aku tak berjudi. Boleh aku ikut bergabung?" kata nya pada orang-orang itu.
"Kami tidak akan bertanggungjawab jika anda kalah." kata salah satu dari mereka.
"Eiyy, kalah menang itu hal yang biasa. Aku tidak akan menangis jika hanya kalah sekali." kata Tristan.
Ia pun lalu duduk dan ikut bermain. Pada babak pertama ia memang sengaja mengalah namun pada permainan kedua dan seterusnya ia terus menang.
Bawahannya hanya bisa tercengang, ia sama sekali tak menduga pria tanpa ekspresi itu pandai berjudi dan bisa tersenyum. Malam itu benar-benar bagaikan mimpi.
"Anda pasti bermain curang kan?! Ini sungguh mencurigakan!" kata salah satu dari mereka yang tak menerima kekalahan berturut-turut.
"Benar! Lebih baik anda mengaku sekarang juga sebelum kami melakukan hal yang buruk pada anda dan teman anda!" ancam satu nya lagi.
"Karena perasaan ku sedang baik, aku akan mengembalikan arta kalian dan menambahkan beberapa keping koin emas juga bagi seseorang yang bisa membantu ku." kata Tristan.
Wajah orang-orang yang menegang karena kesal itu menjadi mengendur. Mata mereka berbinar setelah mendengar kata-kata keping koin emas.
Sejak awal memang bukan Tristan yang mengikuti permainan mereka tapi sebaliknya Tristan lah yang mengajak mereka masuk ke dalam permainan nya.
Sesuai dugaan Tristan hanya dengan imbalan beberapa koin emas para preman Serpens Umbra itu memberi nya informasi yang lumayan membantu.
Mereka memberitahu siapa saja nama-nama sekaligus letak tempat tinggal anggota Serpens Umbra yang melakukan pengerusak barang milik Lady Elizabeth.
__ADS_1
Malam itu juga Tristan beserta sang anak buah menuju salah satu tempat tinggal pelaku dalam insiden itu. Letaknya tak jauh jadi Tristan memutuskan untuk mulai dari pria ini.
Tok! Tok!
Kriet~
Seorang gadis muda membukakan pintu untuk mereka berdua, "Maaf, anda berdua ini siapa? Dan ada perlu apa ke rumah kami larut malam seperti ini?" tanya gadis itu dengan wajah yang terlihat lelah.
"Kami berdua adalah teman kakak mu, dia menyuruh kami untuk memberikan beberapa keping emas untuk mu." kata Tristan berbohong tapi ia yakin jika manusia tidak akan pernah menolak diberi arta.
"Ah, teman kakak. Saya tak bisa mempersilahkan anda masuk sebab rumah kami kecil dan ibu baru saja tidur. Saya takut akan membuat ibu terbangun, beliau sedang sakit dan butuh banyak istirahat." kata gadis itu.
"Ya, tidak apa-apa. Kita bisa berbicara di depan sini saja." sahut Tristan.
Kriet~
Setelah menutup pintu rumah nya gadis itu menghampiri kedua pria yang mengaku sebagai teman sang kakak.
"Lepaskan mantel mu." kata Tristan pada bawahan nya.
"Udara nya dingin karena sudah larut." kata Tristan.
"Te-terimakasih.." kata gadis itu.
"Jadi ibu mu sedang sakit? Kalau boleh tahu beliau sakit apa? Karena kakak mu sama sekali tidak pernah menceritakan keadaan keluarga nya pada kami." ucap Tristan si pembohong ulung.
Gadis itu mengatakan bahwa ibu nya sudah lama sakit keras dan semenjak sang ayah meninggal, otomatis tulang punggung keluar berpindah pada satu-satunya pria yang ada di rumah.
Dan sudah hampir seminggu kakak nya tidak pulang ke rumah, sedangkan insiden pengerusakan baru saja terjadi tiga hari yang lalu.
"Sepertinya dia juga tak tahu jika kakak nya adalah anggota Serpens Umbra." gumam Tristan dalam hati.
__ADS_1
Ia lalu memberikan sekantong penuh keping emas kepada gadis muda itu seolah itu adalah pemberian kakak nya. Gadis itu sangat berterimakasih karena Tristan sudah berbaik hati mengantarkan arta titipan sang kakak.
Ia juga menitipkan pesan untuk sang kakak, ia meminta kakak nya agar lebih sering pulang karena ibu mereka selalu menanyakan nya.
...****************...
Keesokan hari nya di kediaman Duke Meyer.
"Jadi, bagaimana hasil penyelidikan mu semalam, Tristan?" tanya Raymond dengan wajah serius nya.
"Maaf, ini jalan buntu, tuan ku." kata Tristan sembari menundukkan kepala nya.
Brak!
Raymond memukul meja dengan sangat keras, ia marah pada pria di hadapan nya yang bahkan belum sempat beristirahat itu.
"Kau tahu ini adalah masalah penting bagi ku, tapi kau bilang ini jalan buntu?! Apa sepertinya harus memenggal kepala kosong mu sekarang juga!" ucap Raymond sembari mengeluarkan pedang nya.
Tristan sama sekali tak merasa takut, ia hanya memasang wajah datar nya seperti biasa, "Sebelum tuan menebas kepala saya ijinkan saya melaporkan hasil dari penyelidikan nya dengan lebih jelas." kata Tristan.
"Waktu mu lima menit." jawab Raymond mengacungkan ujung pedang nya tepat di leher Tristan.
"Benar adanya jika dalang dari insiden ini adalah seorang bangsawan, namun pimpinan Serpens Umbra tak memberikan informasi mendetail tentang siapa orang itu atau bahkan jenis kelamin nya. Saya mencoba mencari informasi dari para preman Serpens Umbra, mereka memberikan daftar nama serta letak tempat tinggal pelaku yang turut andil dalam insiden itu." terang Tristan.
"3 menit." ucap Raymond mengingat sisa waktu yang dimiliki Tristan untuk melapor.
Tristan sama sekali tak nampak panik, ia tetap dan selalu tenang, "Setelah saya datangi semua tempat tinggal para pelaku, hasil nya sama. Para pelaku itu sudah tak pulang ke rumah sejak kurang lebih seminggu lama nya. Dan latar belakang keluarga para pelaku juga hampir mirip. Para pelaku dari kalangan rakyat miskin yang menjadi tulang punggung keluarga dan entah kebetulan atau memang di sengaja salah satu dari anggota keluarga mereka sedang sakit parah." imbuh Tristan.
Raymond menurunkan pedang nya, "Jadi besar kemungkinan mereka sekarang sudah mati? Atau bahkan mereka rela mati demi menjalankan tugas itu karena diiming-imingi imbalan yang besar." kata Raymond sembari menyimpan pedang nya kembali.
Otot-otot leher nya yang semula menegang mulai mengendur secara perlahan.
__ADS_1
"Menurut saya juga begitu. Musuh kita adalah seorang bangsawan yang licik dan cerdik, ia seolah sudah memperhitungkan segala kemungkinan yang akan terjadi setelah insiden ini. Sehingga tak ada cela bagi Lady Elizabeth untuk mengetahui siapa dalang di balik insiden ini karena ia sudah menutup segala akses untuk mendapatkan informasi perihal dirinya." kata Tristan masih dengan ekspresi nya semula.
Ia seolah sudah mengetahui jika Raymond tidak akan benar-benar menebas kan pedang ke leher nya. Raymond memang sering kehilangan kendali saat menyangkut Elizabeth jadi Tristan tidak terkejut jika sang empunya tiba-tiba mekakuan hal semacam mengacungkan pedang pada orang kepercayaan nya.