ELIZABETH SWAN

ELIZABETH SWAN
Bab 20 - Dibalik Topeng Edgar Fosberg


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, di kediaman Marquess Edgar Fosberg.


"Kau jadi sangat sibuk setelah kenal dengan wanita itu." kata Edgar pada Peter.


"Maaf, Tuan. Saya janji setelah ini saya hanya akan fokus pada pekerjaan ini." sahut Peter.


Edgar menatap Peter untuk beberapa detik, "Hm? Kenapa kau pikir aku keberatan akan hal itu? Asal kau tidak mengacaukan pekerjaan utama mu itu tidak masalah." tutur Edgar.


"Saya kira anda tak suka jika saya menjadi dekat dengan Lady Elizabeth?" tanya Peter ragu-ragu sembari terus sibuk membungkus sesuatu.


Edgar memiringkan kepala nya sedikit ke kanan, "Kenapa kau bisa berpikir begitu? Justru jika kau bisa menjadi kekasih nya itu akan sangat bagus untuk bisnis kita." pungkas nya dengan masih mempertahankan ekspresi datarnya.


Sangat sulit membaca ekspresi ataupun perasaan Edgar, tak ada yang tahu apa yang dipikirkan oleh pria paruh baya itu sebab ia sangat pandai dalam menyembunyikan semua hal itu dibalik wajah nya.



Setelah pernah menikah sekali dengan mendiang Baroness Avellar, ia tak berniat untuk menikah lagi. Menurut rumor yang beredar Edgar mengalami trauma sebab ulah mendiang Baroness yang mengkhianati nya tepat disaat malam seusai acara pernikahan mereka berdua.


Tapi tentu saja kenyataan nya tidak seperti itu. Lagi-lagi Edgar hanya memanfaatkan situasi yang ada untuk meraih simpati publik terhadap nya.


Hal yang sebenarnya terjadi adalah, menurut Edgar memiliki istri dan anak hanyalah sebuah beban. Untuk apa harus merepotkan diri sendiri dengan menghidupi oranglain? Sedangkan demi mendapatkan posisi dan kekayaan nya sekarang perlu banyak usaha serta pengorbanan yang harus dilakukan nya seorang diri dengan susah payah.

__ADS_1


"Count Swan meski hanya seorang bangsawan dari rakyat jelata, orang itu memiliki kedekatan dengan Yang Mulia Baginda Kaisar. Sebab dia telah berjasa membantu perekonomian kekaisaran yang hampir bangkrut menjadi kembali stabil. Kabarnya ia bahkan menggelontorkan ratusan balok emas untuk membayar hutang keluarga kekaisaran yang segunung itu." terang Edgar.


Peter mengangkat kedua alis nya seolah tak percaya, "Ratusan balok emas? Apa itu mungkin Tuan? Seumur hidup saya, saya hanya pernah mendengar ratusan keping emas, tapi ini ratusan balok?" ia sampai tak dapat membayangkan seberapa banyak balok itu jika dijadikan kepingan emas.


"Orang itu memiliki bakat dan semangat. Jika manusia mempunyai sesuatu yang ia perjuangan, akan semakin kuat pula motivasi nya. Ia bahkan bisa berbagai bahasa asing, tidak seperti para bangsawan yang memiliki guru khusus bahasa asing. Robert Swan mempelajari bahasa asing secara ototidak. Semenjak istrinya meninggal karena penyakit jantung lemah, ia bertekad akan memberikan kebahagiaan serta kehidupan yang layak pada putri semata wayang nya, Elizabeth. Elizabeth lah semangat dan motivasi hidup nya." tutur Edgar yang ternyata sudah menyelidiki seluk beluk keluarga Swan.


Setelah bertemu dan berbincang langsung dengan Elizabeth ia menjadi penasaran pada wanita itu. Edgar merasa familiar dengan gaya bicara Elizabeth namun ia tahu jika tempo hari di toko itu adalah pertemuan pertama nya dengan Elizabeth.


"Jika kau bisa menjadi kekasih nya, bisnis kita ini akan merambah hingga ke pasar luar kekaisaran Alexandria. Dengan sertifikat ijin berdagang milik Count Swan hal yang tak mungkin itu akan kita raih dengan mudah. Jadi jangan sia-sia kan kesempatan ini, Peter." kata Edgar.


Peter mengangguk. Pemuda itu sedari tadi sedang sibuk membungkus pesanan milik para bangsawan yang harus ia antarkan hari ini juga.


Pria licik itu sengaja merekrut Peter sebagai tangan kanan nya sebab jika suatu saat bisnis nya terendus oleh pejabat kekaisaran ia akan mendorong Peter ke garis terdepan sebagai tameng untuk menyelamatkan diri nya.


"Stock di gudang tak tersisa banyak. Aku pikir sudah waktu nya aku pergi ke negara barat untuk mengambil nya." Edgar menghela nafas nya, "Hahh... Jika saja kini kau sudah menjadi kekasih Elizabeth, aku tidak perlu repot-repot ke luar kekaisaran hanya untuk sekedar mengambil tanaman itu." kata nya.


"Saya akan berusaha untuk melakukan yang terbaik, agar keinginan anda itu dapat segera terwujud, Tuan." sahut Peter.


Edgar berdiri dari tempat duduk nya melangkah ke samping Peter yang masih duduk di sofa, "Kau memang sangat bisa di andalkan, Peter." ucap nya sembari menepuk pundak Peter dua kali, "Kalau sudah membungkus nya cepat kirimkan pesanan itu, jangan membuat menunggu terlalu lama. Itu akan sangat menyakitkan untuk tubuh mereka." kata Edgar yang diikuti sebuah seringai di bibir nya.


"Baik, Tuan."

__ADS_1


"Aku harus pergi ke suatu tempat, kau urus sisa nya seperti biasa, oke?" ucap Edgar dengan santai sembari berlalu keluar dari ruang kerja nya tanpa menunggu jawaban dari Peter.


Efek jangka panjang narkotika buatan Edgar dapat mempengaruhi tubuh dan saraf pemakainya. Jika pemakainya terlambat menggunakan nya sehari saja, tubuh mereka akan merasakan sakit yang luar biasa.


Sementara narkotika yang digunakan Edgar untuk membunuh Baron Avellar secara perlahan itu berbeda dari narkotika yang diedarkan nya secara luas.


Secara bahan baku utama nya mungkin sama, dari tanaman erythroxylon coca yang dikeringkan atau biasa disebut cocaine. Namun efek yang didapatkan pemakainya berbeda tiap banyak nya dosis yang diberikan.


Edgar menyuruh seorang pelayan di dalam kediaman Avellar yang bertugas menyeduhkan teh untuk Baron Avellar memberikan bubuk cocaine yang sedikit demi sedikit secara rutin selama tiga tahun.


Memang efek bagi Baron tak begitu kentara karena dosisnya yang amat kecil, namun walau sedikit tapi karena tubuh Baron telah terkontaminasi hal itu terus menerus pada akhirnya narkotika itu menggerogoti organ dalam sang Baron, terutama paru-paru.


Melihat tanda-tanda penyakit nya, para dokter selalu mengatakan jika Baron Avellar menderita pneumonia. Sementara itu orang yang paling tahu apa penyebab penyakit nya sang Baron itu sedang menunggu Baron Avellar merenggang nyawa secara perlahan.


Peter memasukkan semua cocaine yang selesai dibungkusnya itu ke dalam sebuah tas ransel kain berwarna cokelat.


Ia membuka daftar pembeli sebelum berangkat, "Maximilian Magnus, Joseph, ..." Peter menghela nafas nya, "Hahh... Semoga kali ini tak ada masalah." ucap nya berharap.


Peter sadar jika yang dilakukannya ini salah, tapi tak ada jalan lagi. Dirinya yang seorang yatim piatu hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri untuk mencari biaya guna membeli obat sang adik yang masih ada di panti asuhan.


Hanya adiknya lah keluarga yang ia miliki, Peter tak bisa diam saja dan hanya melihat sang adik terus kesakitan sepanjang waktu. Meski dihantui rasa bersalah dan ketakutan jika suatu hari dia akan ditangkap oleh Kaisar, Peter tetap tak bisa berhenti melakukan pekerjaan ini.

__ADS_1


__ADS_2