
Brak!
Putra Mahkota Caspian menggebrak meja dengan kedua tangan nya, "Apa kau bilang barusan?!" calon kaisar berikutnya itu terlihat sangat marah tatkala mengetahui jika Elizabeth sudah di kunjungi oleh beberapa pria setelah pertunangan mereka resmi dibatalkan.
"Ma-maaf, Yang Mulia. Saya hanya menyampaikan apa yang pelayan itu cerita kan pada saya." tutur seseorang yang di minta untuk mencari informasi perihal Elizabeth dengan kaki nya yang gemetar hebat.
"Panggil pelayan! Suruh mereka siapkan baju ku yang terbaik dan kereta kuda!" titah nya dengan amarah yang masih menggebu-gebu.
Pagi itu semua pelayan seketika kalang kabut menyiapkan permintaan sang Putra Mahkota yang begitu tiba-tiba. Ian bahkan belum sempat sarapan dan masih mengenakan piyama tidur nya saat menyuruh semua pelayan untuk melayani nya.
Elizabeth, Elizabeth...
Apa setelah jatuh dari tempat setinggi itu otak mu mengalami cidera parah sehingga kau menjadi berubah pada ku begini?
...****************...
Beberapa saat kemudian di kediaman Count Swan.
Tok! Tok!
"Hahh~ Aku masih ingin tidur lagi, Leila..." gumam putri semata wayang Count Swan itu yang tentu saja tak dapat terdengar sampai ke balik pintu kamar nya.
Tok! Tok!
"Ck!" Eliza menjadi kesal karena tidur nya terganggu, "Masuk." sahut nya kemudian.
Leila segera mendatangi ranjang sang empunya, "Nona, anda harus segera bangun. Ini sangat penting." kata Leila dengan nada yang sedikit panik.
"Tidak ada yang lebih penting dari waktu tidur ku ini, Leila." sahut nya tanpa tahu apa yang tengah terjadi.
"Ah anu, Nona. Putra Mahkota sudah menunggu anda di ruang tamu, beliau berkata jika anda tak kunjung keluar, beliau akan datang kemari untuk menemui anda." terang Leila.
__ADS_1
Elizabeth segera bangkit dari tempat tidur nya, "Orang gila itu!!!" ia mendengus kesal, "Setelah sekian lama tak acuh terhadap ku sekarang tiba-tiba saja datang seperti ini?! Apa yang sebenarnya dia ingin kan?!!!"
"Mana air untuk ku membasuh muka?" kata Elizabeth kemudian.
Leila lalu memberikan baskom berisikan air bersih serta handuk basah dan kering untuk Elizabeth membasuh muka.
"Ambilkan gaun itu." sembari menunjuk ke gaun yang terlihat biasa saja.
Leila ragu-ragu untuk mengambil gaun tersebut, "A-apa ini tidak terlalu biasa untuk menemui Yang Mulia, Nona?" tanya nya.
Elizabeth nampak tak peduli, "Sudah bagus aku masih mau menemuinya." ucap nya dengan santai, "Ambil itu, sebelum si gila itu benar-benar datang kemari."
Tok! Tok!
"Apa yang membuatnya begitu lama?" gumam Caspian setelah mengetuk pintu kamar Elizabeth.
Kriet~
"Apa kau akan terus berdiri menghalangi jalan ku seperti ini?" ucap Caspian dingin pada Leila, sembari menatap pelayan itu dengan tajam.
Leila menundukkan pandangan nya, "Ma-maafkan saya, Yang Mulia." ucap nya kemudian berlalu pergi meninggalkan Elizabeth dan Caspian berdua saja.
Elizabeth memegang gaun nya bersiap untuk memberi salam, "Salam kepada Yang Mulia Putra Mahkota Caspian, semoga berkat dewa dan dewi selalu menyertai anda." ucap nya.
Caspian melangkah masuk ke dalam kamar Elizabeth, ia mengedarkan pandangan nya ke setiap sudut penjuru ruangan yang tak lebih besar dari kamar tidur nya itu.
"Jadi ini kamar tidur mu ya? Dari yang aku dengar kamar mu penuh dengan bunga, tapi ternyata tidak." kata Caspian.
Tentu saja, itu kan selera Elizabeth mu bukan selera ku!
Elizabeth enggan berlama-lama dengan pria nomor dua di kekaisaran Alexandria ini, "Saya akan langsung bertanya pada anda, sebenarnya ada kepentingan apa sehingga anda datang kemari secara tiba-tiba di pagi hari begini?" tanya Elizabeth kepada Caspian yang sedang sibuk melihat barang-barang yang ada di atas meja rias nya.
__ADS_1
Ia lalu berbalik ke arah Elizabeth, "Apa harus ada alasan khusus untuk bertemu dengan mu?" kata nya dengan wajah polos tanpa dosa.
Orang gila ini?! Kau bahkan tidak datang menjenguk setelah insiden bunuh diri ku kemarin, sekarang mengapa kau tiba-tiba menjadi seperti ini???!!
"Peter Bernhard dan Raymond Meyer bahkan bisa mengunjungi mu, kenapa aku tidak bisa? Sedangkan mereka tidak ada apa-apa nya dibandingkan dengan ku yang seorang calon kaisar." ucap nya dengan begitu congkak nya.
Elizabeth mengangkat salah satu alisnya merasa jijik dengan kepercayaan diri sang Putra Mahkota yang bodoh itu, "Kau bahkan tak bisa melakukan apapun selain menghambur-hamburkan harta ayah mu." gumam Elizabeth dalam hati.
"Mereka berdua memiliki kepentingan dan sudah membuat janji dengan saya terlebih dulu sebelum mereka datang kemari." tutur Elizabeth.
Kecuali Raymond, pria licik itu tidak di undang. Tapi tidak ada bagusnya juga untuk memberitahukan kebenaran itu pada pria bodoh dihadapan ku ini.
Caspian kemudian duduk di sofa berwarna merah muda yang ada dalam kamar tidur Elizabeth, "Ahh, kalau begitu aku juga ada kepentingan. Yaitu, ingin bertemu dengan mu." tutur nya.
Dasar gila! Apa kau baru saja salah mengonsumsi obat?!
"Anda sudah bertemu dengan saya sekarang. Jadi jika tak ada kepentingan lain silahkan anda keluar dari kamar saya karena saya sedang banyak pekerjaan." kata Elizabeth sembari tetap berdiri, ia tak berniat untuk menjamu orang itu.
Caspian lalu berdiri dari tempat duduk nya, alih-alih keluar dari sana, ia justru melangkahkan kaki nya mendekati Elizabeth. Pria nomor dua di Kekaisaran Alexandria itu memasang ekspresi yang sama sekali belum pernah ia perlihatkan pada siapa pun.
Wajahnya yang hampir menangis itu benar-benar menggemaskan, setidaknya itulah yang akan Elizabeth asli katakan jika dirinya masih hidup. Tapi wanita yang berdiri dihadapannya kini sudah bukan lagi Elizabeth yang dikenalnya dulu.
Ia meraih kedua tangan Elizabeth, "Aku tahu aku telah melakukan banyak kesalahan pada mu. Aku minta maaf. Setelah hubungan kita berakhir aku menjadi sadar betapa berartinya kau untuk ku. Aku sangat berharap kita bisa memulainya dari awal, Elizabeth. Kau mau kan?" ucap Caspian dengan nada yang begitu lembut.
Elizabeth melepaskan tangan nya dari genggaman Caspian dengan perlahan, walau bagaimanapun pria itu adalah Putra Mahkota ia tak bisa memperlakukan nya dengan kasar secara terang-terangan.
"Yang Mulia, tidak sekali duakali anda melukai perasaan saya. Tapi.. sekalipun saya tak pernah menunjukkan kemarahan saya pada anda. Bahkan sampai terakhir pun saya lebih memilih untuk menyakiti diri saya sendiri daripada memaki anda didepan umum. Sebab saya tahu dimana posisi saya." tutur Elizabeth, "Setelah mengalami semua rasa sakit itu saat ini saya hanya ingin hidup dengan lebih menyayangi diri saya sendiri dan ayah saya. Sama sekali belum terlintas dipikiran saya untuk menjalin hubungan lagi dalam waktu dekat ini." imbuh nya.
"Jadi? Intinya kau menolak ku, Elizabeth?" tanya nya seolah tak percaya.
Elizabeth mengangguk, "Maafkan saya, Yang Mulia."
__ADS_1
Lihatlah wajah tampan nya yang hendak menangis itu. Jika saja kau memiliki suatu kelebihan yang dapat berguna untuk misi balas dendam ku, mungkin aku akan menerima penyesalan mu ini. Sayang nya, selain kedudukan sebagai Putra Mahkota tak ada hal lain yang dapat kau banggakan.