
"Hentikan sandiwara bodoh mu ini, Eliza!" pekik Ian setelah melepaskan genggaman nya.
Eliza menautkan kedua alisnya, bingung, "Saya benar-benar tidak mengerti apa maksud anda, Yang Mulia."
"Yang Mulia? Padahal sebelumnya kau selalu mengikuti kemana pun aku pergi sembari terus memanggilku Ian, Ian. Kau sengaja kan memanggilku seperti itu agar aku menjadi tertarik lagi padamu?!" terang nya dengan menggebu-gebu.
Oh, jadi sekarang pangeran ini sedang merasa kehilangan mainannya? Hmm.. Begitu rupanya.
"Bukankah tidak sopan jika tetap memanggil anda Ian ketika sudah tidak ada hubungan lagi di antara kita berdua, Yang Mulia?" jawab Eliza, "Saya hanya mencoba untuk bersikap selayaknya rakyat pada umumnya." imbuhnya.
Ian terdiam sejenak, merasa apa yang diucapkan Eliza itu ada benarnya juga. Justru dirinya lah yang sedang bersikap aneh dengan tetap memanggil Eliza informal.
"Jika tidak ada lagi yang ingin anda bicarakan, saya pamit undur diri, Yang Mulia."
"Kembali ke pesta?"
"Tidak, saya akan kembali ke rumah, Yang Mulia."
"Kau bahkan belum berdansa. Bagaimana jika berdansa dulu satu lagu dengan ku?"
Eliza menyeringai sinis. Merasa ucapan Ian barusan begitu konyol mengingat dulunya Ian sama sekali tak peduli walau Eliza merengek untuk mengajaknya berdansa.
"Saya takut jika saya hanya akan menginjak kaki anda nantinya. Seperti yang anda selalu bilang, rakyat jelata tak pandai berdansa." ucapan sinis Eliza benar-benar membuat Ian diam tak berkutik, "Saya pamit undur diri, Yang Mulia." imbuhnya seraya berbalik melangkah pergi meninggalkan Ian yang masih tak bergeming dari posisi nya itu.
Sementara itu diluar istana Sebastian yang telah menanti Eliza dengan tenang segera menoleh begitu mendengar suara langkah kaki dari arah pintu masuk istana, "Kenapa anda diluar sini sendirian, Grand Duke?" tanya Eliza dengan memasang wajah polosnya walau ia sudah menduga jika pria itu tengah menunggu dirinya.
"Menunggu seorang teman yang sedang sibuk berbincang dengan teman nya yang lain." jawab Sebastian sengaja mengunakan kalimat yang berbelit.
"Y-ya?"
Sebastian tersenyum melihat Eliza yang kebingungan dibuat nya, "Apa kau pernah pergi ke festival panen raya? Ku dengar disana ada banyak hal menyenangkan daripada di tempat ini." tanya nya pada Eliza.
__ADS_1
"Saya tidak pernah menikmati hal semacam itu sebelum nya."
Yah, itu karena aku terus bekerja tanpa kenal waktu sampai akhir ajal ku.
"Ah, maaf.. Memang seorang Lady tidak seharusnya datang ke tempat biasa seperti itu. Tolong lupakan pertanyaan ku barusan." tutur Sebastian salah tingkah.
"Tidak, tidak! Bukan begitu, bukan nya saya tidak suka tempat seperti itu. Hanya saja tidak ada yang mengajak saya sebelumnya karena saya tidak punya teman. Dan lagi saya tidak suka jalan-jalan seorang diri." terang Eliza seketika membuat Sebastian yang murung menjadi kembali bersemangat.
"Kalau begitu bagaimana jika teman mu ini mengajakmu kesana?" ajaknya dengan penuh antusias.
"Sekarang? Hanya saya dan anda saja?"
"Apa kau takut jika dia akan cemburu lagi seperti tadi?"
Eliza menautkan kedua alisnya, "Tentu saja tidak. Kami sudah tidak ada hubungan apapun. Saya hanya takut jika akan timbul rumor buruk tentang anda." pungkas Eliza.
"Kau mengkhawatirkan ku? Tapi tenang saja, aku sudah menyiapkan sesuatu agar penampilan kita tidak mencolok."
"Pakailah, walau terlihat biasa saja ini masih baru." ucap Sebastian sembari memberikan salah satu jubah itu pada Eliza.
Tanpa ragu Eliza segera memakainya, "Aku hanya mengira-ngira nya, tapi ternyata jubah nya sangat pas untuk mu." ucap Sebastian.
"Saya tidak menyangka jika anda bahkan sudah mempersiapkan ini sebelumnya tanpa bertanya dulu pada saya. Bagaimana jadinya jika tadi saya menolak pergi?"
Sebastian menyeringai, "Aku tahu kau akan pergi, Eliza." ucapnya dengan penuh percaya diri.
"Hoo, benar-benar pria yang penuh percaya diri." ledek Eliza.
Setelahnya mereka berdua pun menuju festival panen raya bersama. Mereka berdua menjajaki setiap stan yang berada disana dan mencicipi berbagai macam camilan rakyat biasa.
Eliza yang melihat Sebastian berlinang airmata karena menyantap makanan yang pedas tertawa terbahak-bahak, "Berhentilah memakannya, airmata anda dan makanannya bercampur menjadi satu."
__ADS_1
"Huh.. Inmyi (ini).. Hah.. Emnyak (enak).." ucap Sebastian sembari terus mengunyah itu walau tak kuat dengan pedas nya.
Disana juga muncul banyak seniman jalanan, ada penyair, musisi, penari dan banyak lagi. Dalam hidupnya, ini adalah pertama kali nya Eliza dapat menikmati hal seperti ini tanpa memusingkan perihal berapa koin yang perlu ia cari dan kumpulkan setelah menghambur-hamburkan nya dalam semalam.
"Eliza, aku akan memberitahu mu sebuah rahasia. Kau bisa menjaga rahasia bukan?" tanya Sebastian kepada gadis di sampingnya itu.
Kini mereka berdua tengah duduk di sebuah bangku dari kayu yang berada di dekat pancuran.
"Apa saya terlihat seperti seorang yang mudah untuk menyiarkan aib orang lain di depan umum?"
"Tidak, aku hanya ingin memastikannya saja. Jangan salah paham."
Elizabeth mengangguk, "Apa ini tentang rahasia anda sendiri?" tanya nya.
"Tidak, ini tentang pelukis A.L. sebelumnya kau berkata setiap melihat karya nya kau jadi teringat buku-buku John Steinbeck bukan?"
"Ya, lalu dimana letak rahasia nya?"
"Sebenarnya kedua orang itu adalah sepasang kekasih, namun karena hubungan mereka ditentang oleh keluarga A.L. yang seorang Lady dari keluarga ternama mau tak mau mereka harus berpisah. Meski begitu setiap karya seni mereka selalu saling bersahutan seolah masih terhubung satu sama lain." terang Sebastian dengan ekspresi yang serius.
Disisi lain, Elizabeth yang sudah mencari tahu tentang seluk beluk Sebastian sama sekali tak terkejut mendengar hal itu. Jika ia tak mengetahuinya tak mungkin rencana nya untuk mendekati Sebastian berjalan semulus ini. Walau begitu ia harus tetap berpura-pura antusias dan berlagak bodoh layaknya gadis pada umumnya. Terkadang gadis yang terlalu banyak tahu itu justru membuat pria normal merasa terganggu.
"Be-benarkah? Pantas saja saya selalu merasakan adanya sebuah tali diantara dua orang tersebut yang membuat karya-karya mereka saling terhubung. Saya tidak menyangka jika kebenarannya ternyata sangat mengejutkan seperti ini." ucap Eliza dengan memasang raut muka yang terkejut.
Sebastian menganggukkan kepala nya, "Kau tidak tahu hal itu tapi dapat merasakan emosi yang tertuang ditiap karya mereka. Sungguh menakjubkan."
"Saya yang baru sedikit memahami perihal karya seni dipuji seperti ini oleh seorang Grand Duke rasanya benar-benar berlebihan."
Sebastian tersenyum pada Eliza, "Sudah larut, aku akan mengantarkan mu pulang."
"Tidak perlu repot, saya bisa pulang sendiri."
__ADS_1
"Jangan menolak tawaran ku ini, kau tidak akan tahu seberapa bahaya nya kota di malam hari." ucap Sebastian dengan wajah yang serius.