ELIZABETH SWAN

ELIZABETH SWAN
Bab 22 - Perompak Daratan


__ADS_3

Setelah Elizabeth berhasil mengusir Putra Mahkota dengan cara yang halus, beberapa saat kemudian Peter yang baru saja selesai mengirimkan barang dagangan nya pada para pembeli datang ke kediaman Count Swan.


"Apa saya menganggu waktu senggang anda karena tiba-tiba datang seperti ini?" tanya Peter pada Elizabeth.


"Tidak, aku tidak merasa terganggu sama sekali." sahut Elizabeth, "Lalu bukankah sebelumnya kita sudah setuju untuk saling berbicara dengan lebih nyaman?"


"Ma-maaf, sepertinya aku lupa." jawab Peter dengan senyum yang canggung.


Sebenarnya masih sulit untuk nya berbicara santai dengan Elizabeth, entahlah mungkin hanya karena belum terbiasa saja. Sebab perempuan bangsawan yang ia kenal tidak pernah memperlakukan nya sebaik Elizabeth.


Tok! Tok!


"Permisi, Nona.. Saya datang mengantarkan teh dan beberapa makanan ringan." kata Leila sembari menyuruh pelayan yang lain nya untuk menyajikan teh dan makanan nya ke atas meja.



"Kalau begitu kami permisi dulu, Nona." ucap Leila lagi sebelum ia pergi keluar ruangan itu.


"Silahkan menikmati jamuan yang sederhana ini, Peter. Tolong jangan sungkan lagi sebab aku sungguh ingin menjadi dekat dengan mu." terang Elizabeth seraya meneguk secangkir teh hijau.


Peter pun mengikuti Elizabeth dengan mengambil secangkir teh yang ada dihadapannya.


"Sudah sampai sejauh mana progress renovasi toko nya? Apa semuanya berjalan dengan baik?" tanya Elizabeth kemudian.

__ADS_1


Peter mengembalikan secangkir teh nya ke atas meja, "Itu adalah alasan ku datang kemari untuk memberitahu mu jika sudah ada dua toko yang siap untuk diisi dengan furnitur." pungkas nya.


Elizabeth membulatkan mata nya yang tengah berbinar-binar itu hingga nyaris sempurna, "Secepat


ini? Apa kau serius, Peter? Kau yakin pekerjaan mereka baguskan? Aku tidak mau jika ternyata mereka merenovasi toko ku dengan asal-asalan hanya karena ingin segera menuntut upah." kata nya dengan ekspresi yang mendadak berubah menjadi serius.


"Tentu saja, aku akan menyuruh mereka untuk mengulangi dari awal jika hasil pekerjaan mereka buruk.


Sebelum melaporkan nya pada mu aku sudah memastikan nya dulu jika semua nya sudah sesuai dengan keinginan mu. Jadi jangan khawatir." terang Peter.


Elizabeth menghembuskan nafasnya lega, "Baiklah kalau begitu, karena Peter sudah berkata seperti itu aku percaya." sahut nya.


"Apa ada spesifikasi khusus untuk furnitur nya? Mungkin misalnya furnitur itu terbuat dari bahan kayu jati, mahogani atau mungkin marmer?" tanya Peter.


Elizabeth sebenarnya sudah mempunyai daftar furnitur yang akan dia gunakan untuk toko-toko nya lengkap beserta dengan spesifikasi nya yang diberikan oleh Dietrich. Namun tiba-tiba terbesit sebuah ide yang bagus agar hubungan nya dan Peter dapat bergerak lebih cepat.


menunggu Peter untuk mengambil langkah. Ia berpikir untuk menciptakan rumor baru diantara masyarakat dan menggunakan itu sebagai sayur pelengkap dalam masakan nya yang masih belum matang.


"Setelah dari sini, apa urusan lain yang harus kau selesaikan?" tanya Elizabeth pada Peter.


"Urusan ku hari ini sudah selesai sebelum aku datang kemari. Jadi setelah dari sini aku akan pergi ke toko furnitur agar dua toko itu dapat segera beroperasi dan mengembalikan modal yang telah digunakan." jawab Peter.


Elizabeth terkekeh, "Jika oranglain mendengar ucapan mu barusan, mereka akan mengira jika pemilik toko itu adalah kau." kata nya.

__ADS_1


Peter menjadi segan, "Ah, maaf atas kelancangan mulut ku ini. Aku sama sekali tidak berpikir sejauh itu." ucap nya merasa bersalah dan tak enak hati.


"Jangan salah paham!" sahut Elizabeth dengan muka panik, "Aku justru merasa senang karena sudah mempercayakan perihal renovasi toko ku kepada orang seperti Peter. Aku paham jika maksud mu tadi adalah untuk kebaikan ku. Bukan nya aku marah, aku hanya merasa lucu karena Peter terlihat lebih antusias dan bersemangat daripada aku. Jadi aku mohon jangan meminta maaf begitu. Aku benar-benar merasa berterimakasih pada Peter karena sudah mau bekerja keras membantu orang seperti ku ini. Aku sampai tak tahu harus membalas kebaikan mu dengan cara apa." pungkas Elizabeth panjang lebar sembari memasang raut muka penuh kesedihan, ia tak ingin membuat hubungan mereka kembali canggung hanya karena kesalah pahaman ini.


Jika bukan karena kau adalah tangan kanan si brengsek itu, aku sama sekali tak akan sudi memelas dan memohon seperti ini pada mu!


Lihat saja saat aku sudah berhasil memasangkan tali dileher mu, saat itu terjadi kau lah yang akan memohon di kaki ku agar mengampuni mu!


Melihat wajah perempuan dihadapan nya yang hampir menangis itu membuat Peter menjadi semakin merasa bersalah, "Saya.. aku.. tidak pernah menginginkan kau untuk membalas apapun. Aku melakukan ini karena aku memang mengingkan nya jadi jangan terlalu memikirkan hal yang tak perlu seperti itu. Ucapan terimakasih Elizabeth sudah lebih dari cukup. Jadi jangan memasang wajah seperti itu..." tutur Peter berusaha menghibur Elizabeth dengan kata-kata nya.


"Apa Peter juga sebaik ini dengan lady yang lain?" tanya Elizabeth dengan masih memasang wajah sedih nya.


"Tidak. Apa kau pernah dengar julukan yang diberikan para bangsawan untuk ku?" tanya nya sembari menatap lurus mata Elizabeth.


Elizabeth menggelengkan kepala nya, "Apa itu?" tanya nya.


Sebenarnya ia sudah tahu julukan Peter namun ia lebih senang berpura-pura menjadi gadis polos yang tak tahu apa-apa saat berhadapan dengan Peter. Berbanding terbalik ketika berhadapan dengan Sebastian, ia harus telihat sebagai seorang lady yang dewasa dan berwawasan luas sebab itu adalah tipe wanita yang didambakan sang Grand Duke.


"Perompak daratan." jawab Peter.


Elizabeth mengernyitkan dahi nya bingung, "Perompak daratan? Bukankah perompak hanya menjarah di lautan? Mengapa mereka mengubahnya menjadi perompak daratan?" tanya nya.


"Sebab aku bertingkah selayaknya perompak yang hanya mencari keuntungan dan tak ingin merasakan kerugian walau hanya sepeser pun. Namun karena aku melakukan hal semacam itu di daratan maka jadilah julukan 'perompak daratan' itu. Dan entah sejak kapan bahkan rakyat biasa pun mulai memanggilku dengan julukan itu." jelas nya.

__ADS_1


"Pasti Peter memiliki alasan mengapa kau selalu ingin diberi upah dalam setiap hal yang kau kerjakan. Tapi meskipun begitu bukankah sudah sewajarnya jika seorang yang bekerja itu menuntut upah? Hmm, terkadang bangsawan itu memang suka melebih-lebihkan sesuatu." kata Elizabeth sembari menggeleng-gelengkan kepala nya seolah tak mengerti dengan sikap para bangsawan itu.


Peter memandang wanita dihadapan nya itu dengan hangat, ia tak pernah mendengar kata-kata seperti itu sebelumnya dari mulut seorang bangsawan. Entah mengapa semakin ia mengenal Elizabeth, Peter merasa jika wanita itu sangat memahami dirinya dibandingkan orang kebanyakan.


__ADS_2