ELIZABETH SWAN

ELIZABETH SWAN
Bab 16 - Pria Yang Mendukung Ku


__ADS_3

Hari itu Elizabeth ditemani dengan Leila tengah berkeliling ke ibukota untuk mencari toko yang bagus sehingga dapat ia jadikan referensi untuk merenovasi toko perhiasaan nya.


Count Swan sudah menyarankan Elizabeth untuk menggunakan jasa design arsitek saja, tapi Elizabeth tak mau. Karena pada jaman itu tak sembarang orang dapat menguasai ilmu arsitek jadi hanya ada beberapa arsitek yang jumlahnya bahkan dapat di hitung oleh jari di wilayah kekaisaran Alexandria.


Hal itu lah yang menjadikan biaya jasa design arsitek itu sendiri sangat mahal. Mengingat banyaknya toko yang harus ia renovasi, juga membeli barang-barang keperluan toko, Elizabeth tak mau menghabiskan anggaran nya hanya untuk sebuah design toko.


"Nona, bukankah warna toko itu sangat cantik?" kata Leila sembari menunjuk ke arah sebuah toko yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.


Elizabeth menyipitkan kedua mata nya, agar ia fokus melihat toko yang dimaksud oleh Leila.


"Apa mata mu bermasalah? Kenapa harus menyipitkan mata hanya untuk melihat sebuah toko yang jarak nya bahkan begitu dekat?" tanya seorang pria dengan suara bariton nya yang khas membuat kedua gadis itu sontak terkejut.


"Duke Muda Meyer?"


"Raymond?"


Leila langsung menatap Elizabeth yang memanggil Duke Muda Meyer dengan nama nya saja, kecurigaan nya ternyata benar, mereka berdua memang dekat. Bahkan lebih dekat daripada dengan Sebastian.


"Sedang apa kau disini?" tanya Elizabeth pada Raymond.


"Sedang ada urusan saja disini, kalau kau sendiri? Sepertinya dari yang aku lihat kau tidak sekedar jalan-jalan saja disini?" ucap Raymond.


"Hm, aku sedang sedikit bingung perihal renovasi toko. Toko-toko itu sudah lama di abaikan jadi aku ingin memberikan nuansa baru yang segar agar menarik minat pembeli." terang Elizabeth.


"Bukankah lebih baik menggunakan jasa design arsitek saja kalau untuk masalah itu?" kata Raymond menyarankan.


Elizabeth memutar kedua bola mata nya dengan malas, "Kau tahu, kau terdengar seperti ayah ku sekarang. Ya, aku tahu jika hasil design dari arsitek pasti akan bagus. Tapi, kau juga tahu kan jasa arsitek itu sangatlah mahal. Aku tak ingin membakar sebagian besar anggaran ku hanya untuk sebuah design saja."


Raymond menyilangkan kedua tangan nya tepat di atas dada nya, "Hmm, jadi begitu alasan nya. Aku punya seorang teman arsitek, jika aku yang meminta tolong pada nya seringkali ia menolak untuk diberi upah atas jasa nya."


Raymond terkejut karena tiba-tiba melihat Elizabeth seperti sedang memohon pada nya dengan mata nya yang membulat sempurna dan penuh binar, "Apa yang sedang kau lakukan?" Raymond mendorong dahi nya Elizabeth dengan jari telunjuk nya perlahan, "Mata mu seperti akan terlepas." kata nya dengan raut muka yang datar.


Leila tak bisa menahan tawa nya mendengar ledekan Raymond barusan, gadis itu terkekeh sambil menutupi bibir nya dengan telapak tangan kanan nya.


Elizabeth mendengus kesal, "Kau ini benar-benar tidak peka! Biasanya seorang pria akan luluh ketika ditatap seperti itu oleh seorang gadis!"

__ADS_1


Raymond yang baru saja paham jadi tertawa, "Ahh, kau barusan sedang berusaha bersikap manis? Maaf, maaf, aku tidak tahu hal yang seperti itu karena aku tidak pernah memperhatikan gadis mana pun."


"Jadi bagaimana? Kau mau atau tidak?" tanya Elizabeth tiba-tiba.


Raymond dibuatnya kebingungan, "Mau apa yang kau maksud?" tanya nya sembari sedikit memiringkan kepala nya ke kiri.


"Membantu ku meminta tolong pada teman arsitek mu itu, kau mau atau tidak?"


Pria itu tersenyum, "Mari kita pergi kesana dulu, kita bicarakan sambil duduk. Bukankah hari ini matahari nya cukup terik?"


Meski tanpa diminta oleh Elizabeth pun, Raymond sudah berniat untuk membantu nya. Jika tidak untuk apa dia mengatakan pada Elizabeth jika dia memiliki seorang teman arsitek. Dan tentu saja, mengajak Elizabeth ke kedai teh itu juga hanya sebuah alasan agar ia dapat sedikit lebih lama berbincang dengan gadis itu.


"Jadi kira-kira kapan teman mu itu bisa bertemu dengan ku?" tanya Elizabeth sembari memotong cake tiramissu nya dengan garpu kecil.


"Besok aku akan meminta nya untuk datang ke tempat mu." jawab Raymond.


Elizabeth membulatkan mata nya, "Secepat itu?" tanya nya yang diikuti anggukan Raymond kemudian.


Elizabeth menyuapkan cake tiramisu itu ke dalam mulut nya, "Ah, ini benar-benar enak!" kata nya kegirangan, "Tidak terlalu manis, juga tidak terlalu banyak whip cream nya."


"Apa seenak itu?" tanya Raymond.


Elizabeth mengangguk, "Kau juga harus mencoba nya."


Raymond mengusap whip cream yang menempel di ujung bibir bagian atas Elizabeth dengan jari nya, "Apa kau ini anak kecil? Makanlah perlahan." lalu ia menjilat whip cream yang ada di jari nya itu dengan gaya sensual, "Hmm, kau benar. Ini enak!" kata nya kemudian.


Pipi Elizabeth seketika memerah karena ulah Raymond itu, "K-kau ini! Dasar gila! Apa yang kau lakukan di tempat umum begini?!" ia langsun mengambil lap mulut yang ada di meja dan membersihkan bibirnya agar tak di goda lagi oleh Raymond.


Melihat ekspresi terkejut Elizabeth ia tertawa puas, "Kau sendiri yang menyuruhku untuk mencicipi nya kan? Kenapa sekarang kau marah?" ucapnya sembari tersenyum licik.


"Kau kan tahu apa maksud ku?! Kau memang sengaja kan?! Awas saja jika kau begitu lagi, akan aku potong jari mu itu dengan pisau ini." ancam Elizabeth dengan sungguh-sungguh.


Raymond tertawa, "Apa kau serius berpikir pisau tumpul itu dapat melukai ku?" ledek nya.


"Setidaknya aku sudah berusaha!" ucapnya lalu ia mendengus kesal.

__ADS_1


Dalam ingatan masa kecil Raymond, gadis yang kini dipanggil Elizabeth itu sama sekali tak pernah menunjukkan sisi nya yang menggemaskan seperti ini. Dahulu ia selalu bersikap dewasa dan tenang karena ia tak terbiasa bersosialisasi dengan oranglain. Kemana pun ia pergi selalu ada buku yang ia bawa untuk dibaca sebab ia berpikir jika dirinya harus bisa diandalkan agar dapat meneruskan bisnis keluarga Baron Avellar dengan baik. Sayangnya ia bahkan mati mengenaskan tanpa mewarisi bisnis ataupun gelar bangsawan nya.





"Sejauh mana progres dari rencana mu untuk mendekati Peter Bernhard?" tanya Raymond pada Elizabeth, suasana yang awalnya santai berubah menjadi serius.


Elizabeth mengerutkan dahi nya, "Bagaimana kau tahu jika aku sedang berencana mendekati pria itu?" tanya nya.


"Bukankah sebelum memenggal kepala musuh, kita harus memotong ekor nya terlebih dahulu?" jawab Raymond santai.


Elizabeth tak menyangka jika rencana nya dapat dibaca oleh Raymond semudah ini, "Ternyata kau ini cukup jeli juga ya?"


Raymond menjadi besar kepala, "Aku kan sudah mengatakan nya sebelumnya, tidak ada yang lebih cocok bersanding dengan ku selain kau. Begitu pun sebaliknya." ucapnya dengan penuh percaya diri.


Elizabeth hanya memutarkan kedua bola mata nya malas menanggapi omongan tak berguna Raymond, ia pun memilih meneguk secangkir teh chamomile nya.


"Buatlah dia menyukai mu, aku pikir itu cara termudah agar kau bisa mengorek informasi tentang Marquess darinya. Tapi yang pertama tunjukanlah kekayaan mu, pria itu sangat menyukai uang. Setelah dia masuk ke perangkap pertama, langkah selanjutnya akan menjadi mudah untuk mu." kata Raymond menyarankan.


Wah, dia ini sungguh pria yang licik dan banyak tahu!


"Aku tak paham, aku kira kau menyukai ku. Tapi ucapan mu barusan seolah kau ingin aku pergi dengan pria lain." tutur Elizabeth.


Raymond menopang dagu nya dengan tangan kiri sembari tersenyum, "Ya, aku memang menyukai mu. Tapi suka ku bukanlah sebuah obsesi. Kau bebas melakukan apapun selama kau senang tapi hanya aku lah tempat tujuan mu kembali pulang." pungkas Raymond, "Dan satu lagi, aku akan selalu mendukung rencana balas dendam mu dari samping. Jadi kau bisa bersandar pada ku kapan pun kau butuh." imbuh nya.


Elizabeth sebenarnya sedikit goyah karena Raymond terlihat seperti pria yang dewasa dan pengertian tapi ia menyembunyikan dengan baik. Elizabeth tak ingin membuat pria dihadapan nya itu jadi besar kepala.


"Wah, wah, wah. Pasti banyak sekali gadis yang sudah kau butuh terpesona dengan kata-kata indah mu itu." kata Elizabeth sembari menggeleng-gelengkan kepala nya.


Raymond menatap nya dengan ekspresi datar, "Bukankah sudah ku bilang, aku tidak pernah memperhatikan gadis mana pun apalagi sampai berbincang di kedai teh seperti ini."


"Ya, ya, ya. Anggap saja aku percaya." tutur Elizabeth.

__ADS_1


__ADS_2